<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2226946536626198142</id><updated>2012-02-16T04:03:53.165-08:00</updated><category term='Ulasan'/><category term='Puisi'/><category term='Biografi'/><category term='Cerpen'/><category term='Catatan'/><title type='text'>Badrul Munir Chair</title><subtitle type='html'>Badrul Munir Chair, sering menggunakan nama pena Munajat Sunyi. Lahir di Ambunten-Sumenep, 1 Oktober 1990. Karyanya masuk dalam sejumlah Antologi, diantaranya antologi cerpen Di Pematang Pandanaran (2009), Bukan Perempuan (2010), Lelaki yang Dibeli (2011), Bulan Kebabian (2011); Dan  antologi puisi,  Diorama (2009), Musibah Gempa Padang (2010) Meditasi Dampak 70 (2011), Akulah Musi (2011), dll. Buku Cerpennya: Bangkai dan Cerita-Cerita Kepulangan (2009).</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://badrulmunirchair.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2226946536626198142/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://badrulmunirchair.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Badrul Munir Chair</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10794972918990290806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/SvRBYFHUwnI/AAAAAAAAAM0/tYQVcUVGv_E/S220/Ikalkuikalku.bmp'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>30</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2226946536626198142.post-7134116738865877950</id><published>2011-12-21T18:20:00.000-08:00</published><updated>2011-12-21T18:23:56.747-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Puisi di Koran Merapi, 13-September-2011</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sajak Badrul Munir Chair &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kepada Angin Kasturi&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti negeri kecil di jazirah&lt;br /&gt;jauh. Aku menyambangimu&lt;br /&gt;lalu mengabadikanmu dalam potret—&lt;br /&gt;jalan-jalan setapak menyeberang sungai&lt;br /&gt;panjang. Bebatuan cadas menyeruak&lt;br /&gt;pada permukaan air deras&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajahmu yang asing&lt;br /&gt;mengingatkanku pada sejarah&lt;br /&gt;silam. Di kedalamanmu aku melangkah&lt;br /&gt;menapaki lekuk-lekuk misteri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suaramu adalah gesekan&lt;br /&gt;bambu yang menyembunyikan&lt;br /&gt;kedalaman bahasa alam dan panoramanya&lt;br /&gt;setiap waktu orang-orang bertamasya&lt;br /&gt;mematahkan dahan-dahan. Membikin&lt;br /&gt;jalan baru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubangun jalan batu&lt;br /&gt;di tebing curam, lalu kugambar peta&lt;br /&gt;menuju rumahmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti pengembara yang tersesat&lt;br /&gt;dan hilang arah. Aku mendaki&lt;br /&gt;dengan sepatu penuh lumpur. Lalu aku&lt;br /&gt;beristirah di sebuah cerukan—&lt;br /&gt;hingga gerimis melongsorkan tanah&lt;br /&gt;mengubur jasadku yang lelah tertidur&lt;br /&gt;di pelukmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;)* Bersama lima puisi lainnya dimuat di Koran Merapi, Minggu 13-September-2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2226946536626198142-7134116738865877950?l=badrulmunirchair.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://badrulmunirchair.blogspot.com/feeds/7134116738865877950/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2226946536626198142&amp;postID=7134116738865877950' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2226946536626198142/posts/default/7134116738865877950'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2226946536626198142/posts/default/7134116738865877950'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://badrulmunirchair.blogspot.com/2011/12/puisi-di-koran-merapi-13-september-2011.html' title='Puisi di Koran Merapi, 13-September-2011'/><author><name>Badrul Munir Chair</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10794972918990290806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/SvRBYFHUwnI/AAAAAAAAAM0/tYQVcUVGv_E/S220/Ikalkuikalku.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2226946536626198142.post-8070604169909231379</id><published>2011-08-02T06:37:00.000-07:00</published><updated>2011-12-21T17:58:24.871-08:00</updated><title type='text'>Mengingat Kisah Para Pencari Tuhan</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mengingat Kisah Para Pencari Tuhan&lt;br /&gt;(Catatan Ramadhan buat Cintaku)&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cintaku, Ramadhan yang kita tunggu sudah datang. Rasanya baru kemarin kita berlebaran, bermaafan di Hari Raya. Waktu memang begitu cepat berlalu, cintaku. Tapi aku akan selalu mengenang hari-hari indah yang kita lewati saat Ramadhan. Ketika berbuka, tarawih, juga sahur bersama. Tapi yang paling kuingat, tentu saat kita menyantap menu buka puasa sambil menyaksikan sinetron Para Pencari Tuhan di SCTV, juga ketika sahur bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, tentu kau masih ingat kisah Para Pencari Tuhan itu, bukan? Dahulu kita pernah mengandaikan kita adalah tokoh sinetron itu. Aku adalah Azzam, dan kau adalah Aya. Dan kita kerap memirip-miripkan orang-orang dekat kita dengan tokoh dalam sinetron itu. Mahrus si takmir masjid belakang rumah kita miripkan dengan Bang Jack penjaga Mushala At-taufiq, tiga sahabat kita: Dani, Yanto, dan Ipul kita miripkan dengan Chelsea, Barong, dan Juki. Kita kerap bertengkar jika dalam sinetron itu Azzam dan Aya juga sedang bertengkar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biar kau tidak lupa dengan kenangan kita, juga kisah dalam sinetron itu, kuceritakan kisah ini kepadamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Para Pencari Tuhan (Jilid 1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Lelaki itu kerap dipanggil Bang Jack, seorang jejaka tua yang mengabdikan dirinya sebagai merbot (penjaga Mushala) At-taufiq yang sangat fanatik dengan bedug. Bang Jack pantang mengumandangkan adzan sebelum menabuh bedug. Suatu hari, Mushala At-taufiq kedatangan tiga orang asing, yaitu Chelsea, Barong, dan Juki. Ketiganya adalah mantan narapidana yang baru keluar dari penjara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkisah, setelah keluar dari penjara, Barong diusir dari komplotan curanmor lantaran sering “menyanyi” di pengadilan. Juki yang mantan copet, ditolak mentah-mentah saat kembali ke rumah ibunya. Nasib Chelsea tak jauh berbeda, ketika akan mengajak rujuk kembali dengan mantan istrinya, Marni. Ternyata Marni sudah menikah dengan Sumarno, polisi yang menjebloskannya ke penjara. Akhirnya mereka bertiga secara tak sengaja bertemu dan luntang-lantung menyusuri Jakarta yang tak lagi ramah, lalu terdamparlah mereka di Mushala At-taufiq yang dijaga Bang jack.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita, ketiga mantan napi itu menceritakan kisah hidup mereka ke Bang Jack, akhirnya Bang Jack menerima ketiga mantan napi tersebut dan sudi membimbing mereka ke jalan yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya Bang Jack adalah mantan tukang jagal dan tidak terlalu menguasai ilmu agama, sehingga dalam penerapan agama sering keliru. Disinilah uniknya, Bang Jack yang tidak terlalu pintar dijadikan guru oleh tiga orang mantan napi. Untunglah ada Aya, gadis cantik penjual kolak dan pengelola perpustakaan gratis ini lumayan paham soal agama. Aya adalah adik ipar Ustad Ferry, ketua pengurus mushala, yang pamornya tengah menanjak setelah menjadi penceramah di televisi. Namun uniknya lagi Ustad Ferry adalah tipe suami takut istri. Istrinya bernama Haifa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara, di kampung sekitar Mushala At-taufiq itu, hiduplah juga Bang Udin (seorang hansip) dan sahabatnya Asrul (Pria beristri satu beranak empat yang kehidupannya sangat miskin sekali), dan Pak Jalal (Orang terkaya di kampung itu yang sangat dermawan). Namun tetap saja Bang Udin dan Asrul sering merasa kesal dan iri dengan Pak Jalal. Walaupun kesal, tetapi mereka tetap mendatangi Pak Jalal untuk meminta pekerjaan pada saat mereka kekurangan uang untuk biaya hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga tiro RW, pejabat desa yang dikisahkan sebagai pejabat korup yang suka mengintrik dan menilep uang sumbangan warga kampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cintaku, tentu kau masih ingat dengan jalannya kisah sinetron ini, bukan? Tentu kau masih ingat kisah cinta Aya dengan Azzam. Mereka adalah teman masa kecil. Tiga kali Azzam melamar Aya, tiga kali pula Azzam ditolak. Kau tahu cintaku, Aya begitu angkuh, seperti kau. Tapi Azzam pantang menyerah mengejar cinta Aya. Hingga kemudian Azzam memberi sebuah kado, ketika hendak dibuka, berakhirlah Para Pencari Tuhan jilid 1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Para Pencari Tuhan (Jilid 2)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para Pencari Tuhan (PPT) jilid 2 dimulai ketika Aya membuka kado dari Azzam. Ternyata kado itu berisi gantungan kunci kartun dan mainan Aya ketika masih kanak-kanak. Azzam mencoba mengingatkan Aya akan masa lalunya agar Aya tidak lagi angkuh dan selalu mengingat betapa mereka dahulu pernah berteman baik. Maka berlinanglah airmata Aya teringat masa kecilnya bersama Azzam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Aya tak bisa melupakan kenangan buruk masa kecilnya bersama Azzam. Ketika itu mereka ikut cerdas cermat mewakili sekolah mereka. Sekolah mereka unggul tipis hingga soal terakhir. Namun Aya gegabah dan terburu menjawab pertanyaan yang sebenarnya mudah itu, sehingga tim lawan bisa merebut dan menjawab pertanyaan dengan benar. Azzam menjadi sangat kecewa dan marah kepada Aya, sehingga kata-kata kasar keluar dari mulutnya “Bodoh!”. Hal itulah yang membuat Aya bertingkah angkuh di hadapan Azzam, Aya masih menyimpan sakit hati masa kecilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah cinta Aya dan Azzam dibumbui hadirnya orang ketiga, yaitu Kalila, yang selama ini menjadi sahabat Aya. Ternyata Kalila memendam cinta kepada Azzam, dan sialnya, Kalila berterus terang kepada Aya bahwa ia mencintai Azzam. Tentu saja Aya cemburu, walaupun Aya selalu angkuh dihadapan Azzam, ternyata Aya juga mencintai Azzam, namun keangkuhannya menyamarkan rasa cintanya kepada Azzam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Kalila, PPT 2 menampilkan tokoh baru, yaitu Baha, yang konon adalah teman masa kecil Asrul yang menjadi pelaut. Baha muncul menemui Asrul saat kapalnya mendarat di pelabuhan. Baha yang bertato dan pemabuk memberikan warna berbeda pada kehidupan Mushalla At-taufiq. Trio Chelsea, Barong, dan Juki masih terus berkutat dengan usaha mereka untuk kembali pada kehidupan masa lalunya. Barong masih berusaha menemui abangnya yang menjadi ketua komplotan curanmor, Juki ingin kembali ke rumah ibunya walau ia sedikit takut, Chelsea masih mengejar Marni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir kisah PPT jilid 2 diceritakan Azzam yang masih menunggu hati Aya luluh, juga Bang Jack dan trio Chelsea, Barong, dan Juki yang akan diberangkatkan Haji oleh Pak Jalal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Para Pencari Tuhan (Jilid 3)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah cinta Aya dan Azzam menjadi lebih seru di PPT jilid 3 ini. Kisah cinta mereka dibumbui drama cinta segitiga dengan hadirnya Kalila. Aya kerap cemburu melihat kemanjaan Kalila kepada Azzam, sedangkan Kalila juga cemburu melihat Aya yang kerap melirik Azzam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara, Bang Jack dan trio Chelsea, Barong, dan Juki dikisahkan baru kembali dari Tanah Suci Mekkah. Namun bang Jack tampak murung sepulang dari tanah suci, bang Jack ingin balik lagi ke Makkah dan memilih mati di sana. Kepulangan trio dan bang Jack membuat Udin dan Azrul ingin naik haji walaupun menggunakan cara yang salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruwetnya kisah cinta Aya-Azzam-Kalila semakin rumit dengan ketertarikan Baha pada Kalila. Baha berusaha bersikap mengayomi Kalila seperti seorang kakak pada adiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir cerita, Baha dikisahkan meninggal dunia. Kematian Baha tentu mengejutkan orang-orang di sekitar Musahla At-taufiq. Ternyata Baha adalah orang yang kaya raya, sebelum kematiannya, Baha memberikan uangnya untuk Baitul Mal dan untuk naik haji Asrul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah cinta Aya-Azzam-Kalila tetap menjadi fokus menarik dari sinetron ini. Di akhir cerita, Azzam diceritakan akan menikah dengan Kalila. Di rumah Pak Jalal, semua persiapan pernikahan sudah matang, Azzam tinggal mengucapkan ijabnya ketika tiba-tiba Kalila menangis dan memutuskan mundur dari pernikahan itu. “Ada yang lebih berhak memilik Azzam, ada yang lebih berhak menjadi pendamping Azzam,” kata Kalila menangis tersedu. Orang yang dimaksud Kalila tentu saja Aya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Para Pencari Tuhan (Jilid 4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;PPT jilid 4 adalah fase terbalik dari kehidupan orang-orang kampung sekitar Mushla At-taufiq.  Pak Jalal, orang terkaya di kampung dikisahkan bangkrut total dan jatuh miskin dan terpaksa tinggal di gubuk Asrul. Sebaliknya, Asrul dan istrinya, pasangan termiskin di kampung itu mulai menjadi sukses dengan usaha warung sotonya. Kini menempati rumah kontrakan yang lebih layak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, fase baru kehidupan itu bukannya tanpa masalah. Ibadah Asrul mulai terganggu karena kesibukan usahanya yang luar biasa. Hingga pada titik tertentu, Asrul memohon kepada Allah untuk dikembalikan saja ke kehidupannya yang dulu ketika keluarganya masih miskin. Demikian pula Udin sang hansip telah memutuskan untuk memakai uang haji untuk membeli motor baru. Dengan motor itu, ia akan mengojek untuk memperbaiki taraf hidup keluarganya, sekaligus menabung lagi untuk pergi haji. Apakah rencananya berhasil? Udin sendiri ragu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bang Jack mengalami masalahnya sendiri. Ia merasa semakin dekat pada kematian dan kesepian. Ia khawatir jika Chelsea, Barong, dan Juki sudah memiliki kehidupannya sendiri, ia akan mati sendirian tanpa seorang pun mendampingi. Karena itu, Bang Jack menjadi lebih sensi, mudah ngambek, dan melankolis dalam episode jilid 4 ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasangan Aya dan Azzam memulai kehidupan baru berumah tangga. Aya bukan tipe ibu rumah tangga yang bisa meladeni suami dengan baik, meski tetap penuh cinta. Hal ini menjadi masalah bagi Azzam yang makin terlihat bawelnya. Ditambah lagi dengan kehadiran seorang manajer keuangan yang cantik di kantor mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara, warga kampung mendapat ujian. Sebuah koper berisi uang dua milyar rupiah ditemukan Bonte dan mengancam kehidupan kampung Bang Jack yang tadinya rukun-damai penuh kasih sayang. Sekoper uang itu melahirkan intrik-intrik politik desa yang dipicu oleh trio RW.  Singkat cerita, sekoper uang itu menjadi ujian bagi warga kampung, hingga menimbulkan kekacauan dan saling curiga antar warga. Kecurigaan itu mengakibatkan perselisihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trio Chelsea, Barong, dan Juki dimarahi habis-habisan oleh Bang Jack karena ikut andil menyembunyikan koper itu. Warung soto Asrul terbakar karena ulah trio RW. Terjadi tawuran warga di warung kuliner kampung. Karena itulah, Bang Jack kolaps dan memanggil seluruh warga untuk dimarahio habis-habisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir kisah, kisah cinta Aya dan Azzam masih menjadi sajian menarik sebagai penutup PPT jjilid 4 ini. Azzam diceritakan bimbang karena tawaran pak Jalal untuk menikahi Kalila, karena menurut pak Jalal, Azzam adalah orang tepat dan baik untuk mendampingi Kalila. Apakah azzam akan berpoligami? Bagaimakah reaksi Aya ketika tahu bahwa pak Jalal menawari Azzam untuk menikahi Kalila? Kelanjutan kisah Para Pencari Tuhan ini patut kita nantikan di Ramadhan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah cintaku. Kutulis kisah ini sebagai pengingat kenangan kita dulu. Aku selalu menanti Ramadhan sebagaimana menantikan kedatanganmu, juga kisah dalam sinetron itu. Kenanglah aku ketika berbuka, tarawih, dan bersahur. Akupun akan mengenangmu ketika berbuka, tarawih, bersahur, juga ketika menonton sinetron Para Pencari Tuhan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecup jauh,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cintamu.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2226946536626198142-8070604169909231379?l=badrulmunirchair.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://badrulmunirchair.blogspot.com/feeds/8070604169909231379/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2226946536626198142&amp;postID=8070604169909231379' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2226946536626198142/posts/default/8070604169909231379'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2226946536626198142/posts/default/8070604169909231379'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://badrulmunirchair.blogspot.com/2011/08/mengingat-kisah-para-pencari-tuhan.html' title='Mengingat Kisah Para Pencari Tuhan'/><author><name>Badrul Munir Chair</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10794972918990290806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/SvRBYFHUwnI/AAAAAAAAAM0/tYQVcUVGv_E/S220/Ikalkuikalku.bmp'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2226946536626198142.post-4532029953702529180</id><published>2011-05-17T05:12:00.000-07:00</published><updated>2011-05-17T05:20:32.609-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Purnama Tenggelam di Rajasthan</title><content type='html'>Cerpen Badrul Munir Chair (Suara Merdeka, 15 Mei 2011)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-zNK-9iZRqMM/TdJntARODUI/AAAAAAAAAP4/LTPnLJ4UEzU/s1600/purnama-tenggelam-di-rajasthan.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 308px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-zNK-9iZRqMM/TdJntARODUI/AAAAAAAAAP4/LTPnLJ4UEzU/s400/purnama-tenggelam-di-rajasthan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5607658508893687106" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TENTU saja kau tak ingin menjadi Kurawa seperti dalam kisah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mahabharata&lt;/span&gt; karya Mpu Vyasa yang pernah kaubaca ketika masih remaja. Kau ingin menjadi Gatotkaca, ksatria Pandawa yang selalu kau kagumi. Namun kini kau tak lagi percaya pada cita-cita. Sayap-sayapmu patah, hatimu remuk. Kau mulai mengutuk, meragukan cerita-cerita dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mahabharata&lt;/span&gt;, kau menyesal karena pernah bermimpi untuk menjelajahi India, hanya karena seorang perempuan? Ah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau baru saja tiba di Negeri Rembulan. Ya, Negeri Rembulan yang selama ini hanya ada dalam angan-anganmu, menggenapi mimpi-mimpi remajamu. Akhirnya kau bisa menginjakkan kedua kakimu di Rajasthan, tempat kau bisa melihat purnama dari titik paling sempurna dari belahan dunia mana pun. Ketika kemudian kau tak sengaja melihat perempuan itu datang dari arah berlawanan, begitulah, kalian lalu berkenalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Adalah hal biasa bukan? Kau selalu berkenalan dengan orang-orang yang kau temui selama perjalananmu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tapi ia berbeda, batinmu. Wajah perempuan itu seperti Srikandi yang wajahnya kau kenali dari patung lilin di Kurusetra yang dua hari lalu kau singgahi. Benar-benar seperti pinang dibelah dua. Sorot mata tajam seperti ujung pedang, hidung mancung sebagaimana mestinya perempuan India, dagunya lancip, dan wajah berbinar seperti bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya Devi, usianya sembilan belas tahun lebih satu hari. Ia lahir ketika malam purnama, ketika bulan membentuk lingkaran bulat sempurna seperti bola. Dan malam ini ia merasa seperti burung, terbang bebas ke mana pun ia mau. Ia sedang mencari ksatria untuk mendampingi hidupnya selamanya, tepat saat bulan purnama bersinar sempurna. Begitulah ia bercerita padamu di bawah purnama. Di Padang Pasir Thar yang mengelilingi Rajasthan, kau menggenggam erat jemarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perempuan sembilan belas tahun sepertiku sudah selayaknya bersuami,” ucap dia sembari mengerlingkan mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau hanya tersenyum, menatap wajahnya tanpa berkedip. Jemarimu semakin erat menggenggam jemarinya yang kurus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh malam yang sempurna. Di bawah guyuran cahaya purnama, kalian saling berbagi cerita. Kau bercerita tentang mimpi-mimpi masa mudamu, tentang obsesimu untuk pergi menjelajahi India karena kau terbius pada keindahan yang kau saksikan dalam film Bollywood dan cerita &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mahabharata&lt;/span&gt;, tentang gadis-gadis cantik dalam film-film India yang sering kau saksikan ketika masih muda. Dan kau merasa tak malu ketika kau juga bercerita tentang negaramu yang porak-poranda akibat krisis ekonomi dan korupsi yang merajalela. Kau tak lupa berusaha sedikit merayunya, kau katakan padanya bahwa wajahnya seperti Srikandi, dia hanya tersenyum, lalu kalian sama-sama tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Purnama semakin menggila menerangi India, dan kau sepertinya terlalu cepat jatuh cinta….&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kau teringat akan masa remajamu ketika kau sering harus menginap di rumah tetanggamu demi menyaksikan film Bollywood yang selalu diputar menjelang tengah malam. Dari sanalah kau kali pertama tahu betapa indah India, dan sejak saat itu kau terobsesi dan berjanji kelak akan menginjakkan kaki di India. Ketika remaja kau juga membaca kisah dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mahabharata&lt;/span&gt;. Kau begitu tertarik pada cerita tentang pertarungan antara Pandawa melawan Kurawa 3000 tahun silam di India, dan sejak saat itu keinginanmu untuk menjelajah India semakin menggebu, kemudian angan-angan itu selalu menghiasi mimpi malam-malammu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah cerita, kini kau menginjakkan kedua kakimu di India, setelah berbulan-bulan berjalan kaki menelusuri negara-negara lain di penjuru Asia. Seperti mimpi yang nyata, seperti utang yang ditunaikan. Namun, yang kau rasakan adalah miris dan kecewa, India tak seindah cerita-cerita yang pernah kau baca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iya, India memang berbeda, kau begitu kecewa ketika menerima kenyataan bahwa India tak seindah dalam adegan film ataupun cerita-cerita yang pernah kaubaca, semua orang sibuk mencari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Rupee&lt;/span&gt;, ratusan orang rela berjubel seperti ikan sarden di atas gerbong kereta ataupun bus kota demi menghemat ongkos, bioskop-bioskop tua yang selalu penuh, ah, nama besar Gandhi dan Tagore seakan tenggelam di negerinya sendiri. Dan rasa kecewa semacam itu pula yang kau rasakan ketika kau menemui ayah Devi untuk meminangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau hanyalah seorang pengembara, anak muda, selain itu kau punya apa?” lelaki tua itu memang tak salah, kau membatin. Seorang ayah tentu selalu mencari lelaki yang mapan untuk bakal suami anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau sudah menyiapkan berapa &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Rupee&lt;/span&gt; untuk membawa anakku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja kau terkejut, hatimu remuk, caranya menawarkan anaknya seperti menjual wanita murahan saja—seperti cukong-cukong dan mucikari yang pernah kau temui di jalan-jalan kecil Kota Kalkuta. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pyuh,&lt;/span&gt; kau meludah di hadapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau memang hanya pengembara, menggerakkan tubuhmu tanpa tujuan yang kau tahu. Kau hanya ingin membuang kecewa, kecewa terhadap negerimu yang porak-poranda, ribuan mil dari Rajasthan, Jakarta sudah menjadi neraka, kuburan raksasa yang sudah dipersiapkan para penguasa kepada setiap orang yang hendak melawan mereka, jika kau tak segera pergi, kau hanya tinggal menunggu mati, apalagi sebagai mahasiswa, kau adalah sasaran empuk para penguasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Curilah aku dari ayahku, Rama. Bawalah aku lari ke negaramu, mungkin di sana aku akan menemukan impian yang tak pernah aku dapatkan di Rajasthan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau hanya diam, memandangi lentik alis perempuan yang meratap di hadapmu, di atas dua mata bulat. Kau mengecup keningnya di bawah sorotan rembulan yang membulat sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Purnama di Rajasthan jangan pernah dilewatkan….&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau teringat pada sebuah tulisan yang kau temukan dalam sebuah tulisan di majalah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;travelling&lt;/span&gt;, tentang purnama di Rajasthan. Bahkan kau sangat mengingat kata demi kata yang dituliskan di majalah itu: “Di Padang Pasir Thar Kota Puskhar, salah satu sudut di Provinsi Rajasthan, purnama akan tampak begitu sempurna, membulat seperti bola, dan letaknya tepat di atas kepala kita, seperti bola lampu yang menempel di langit-langit kamar kita, seakan-akan purnama memang diciptakan khusus untuk penduduk kota ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya, kekecewaanmu pada India akan terbayar lunas di Rajasthan. Setelah perjalanan menjenuhkan menyusuri sudut-sudut kota Kalkuta, perlakuan tidak menyenangkan oleh polisi Amristar, hiruk-pikuk New Delhi yang sangat padat sekali, mendapati Sungai Gangga yang kumuh di Varanasi, benar-benar tak seindah cerita dalam film Bollywood.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kau mendapati suasana yang sama sekali berbeda ketika menjejakkan kedua kakimu di Rajasthan, tak seperti di kota-kota sebelumnya yang membuatmu tak betah, di Rajasthan, semua orang yang berlalu-lalang seakan tersenyum memberi ucapan selamat datang, wajah-wajah yang ramah, dan kota yang begitu indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada malam hari, ketika kau tiba di Padang Pasir Thar, kau sungguh tak percaya mendapati purnama seakan-akan hanya berjarak beberapa meter di atas kepalamu, kau sungguh bahagia dan terpesona, dan hatimu terasa semakin berbunga-bunga ketika tak sengaja kau melihat seorang perempuan datang dari arah berlawanan, dan kalian berkenalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalian duduk berdua beralaskan hamparan pasir, kau dan Devi, walau sebenarnya kalian tak hanya duduk berdua karena begitu banyak orang yang datang memenuhi Padang Pasir Thar untuk melakukan ritual purnama, namun bagimu, purnama itu hanyalah milik kalian berdua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Saat itu, tentu saja kau tak pernah menyangka, bahwa perempuan itu hanya akan menambah cerita kelam perjalanan panjangmu menyusuri India.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah aku mencintai orang yang salah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan itu kini diam-diam menggelayuti hatimu. Walau seharusnya yang kau tanyakan adalah, “Apakah aku terlalu cepat jatuh cinta?” Ah, sebelumnya kau memang tak pernah merasakan cinta yang lebih indah dari ini, dan tentu saja indah dari ini, dan tentu saja lebih luka dari segalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini kau merasa kesepian di tengah Padang Pasir Thar yang telah menjelma lautan manusia. Setiap purnama, orang-orang dari pelosok India berduyun untuk melakukan ritual purnama, semacam persembahan dan ucapan terima kasih kepada dewa, membaca doa-doa dan pujian menurut kepercayaan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Devi baru saja meninggalkanmu, menghilang di antara kerumunan orang-orang yang sibuk mendirikan tenda untuk tempat bermalam mereka, sebagian yang tak punya biaya hanya tidur beralaskan pasir dan beratapkan purnama, —seperti kalian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, dia memang tak pernah mau mengerti, betapa kalian bernasib hampir sama, mempunyai kekecewaan yang sama terhadap kampung halaman, negara yang sama-sama kacau, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;poor country,&lt;/span&gt; dan secercah harapan kalian yang sama-sama sirna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau benar-benar merasa sepi, kau merebahkan diri di atas pasir, memandang rembulan yang bersinar seperti bola lampu dengan&lt;span style="font-style:italic;"&gt; watt&lt;/span&gt; tinggi. Ah, kau jadi teringat dengan kamarmu, kamar kecil tempatmu biasa merebahkan diri, ribuan mil dari India, di sebuah kota kecil dekat Jakarta, tempat kau menghabiskan masa remaja. Kau tersadar, terkadang pepatah memang benar, hujan batu di negeri sendiri lebih berarti daripada hujan emas di negeri orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba kau ingin sekali pulang ke Indonesia, sepetak tanah yang sudah hampir kau lupa. Kau benar-benar rindu, rindu untuk mencium aroma tanah negeri kelahiranmu. Kau segera mengemasi barang-barangmu, kau telah bertekad untuk pulang, pulang ke tanah kelahiranmu, tanah kelahiran nenek moyang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru beberapa jauh dari tempatmu melangkah, seorang lelaki paruh baya menegurmu, menawarimu untuk mampir kedalam tendanya, “Perempuan, Tuan. Silakan dipilih, boleh dibawa ke hotel atau di dalam tenda.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau begitu tercengang, bukan karena tawaran lelaki itu, namun kau melihat Devi duduk di antara perempuan-perempuan yang ditawarkan di dalam tenda, mengenakan pakaian minim bahkan nyaris telanjang. Kau merasa benar-benar tak percaya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pinggiran Rajasthan, ketika kau hendak meninggalkan negeri itu dalam keterasingan, sekali lagi kau melihat rembulan. Kau lihat warna rembulan yang langsat berubah pucat, lalu perlahan kenangan dan mimpi-mimpimu memudar, seperti purnama yang tenggelam di Rajasthan. (*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2226946536626198142-4532029953702529180?l=badrulmunirchair.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://badrulmunirchair.blogspot.com/feeds/4532029953702529180/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2226946536626198142&amp;postID=4532029953702529180' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2226946536626198142/posts/default/4532029953702529180'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2226946536626198142/posts/default/4532029953702529180'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://badrulmunirchair.blogspot.com/2011/05/purnama-tenggelam-di-rajasthan.html' title='Purnama Tenggelam di Rajasthan'/><author><name>Badrul Munir Chair</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10794972918990290806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/SvRBYFHUwnI/AAAAAAAAAM0/tYQVcUVGv_E/S220/Ikalkuikalku.bmp'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-zNK-9iZRqMM/TdJntARODUI/AAAAAAAAAP4/LTPnLJ4UEzU/s72-c/purnama-tenggelam-di-rajasthan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2226946536626198142.post-5468020326131927266</id><published>2011-01-31T22:53:00.000-08:00</published><updated>2011-01-31T22:56:15.130-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Yogyakarta, Sebuah Sajak</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sajak Munajat Sunyi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Yogyakarta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;apa yang kau pikirkan tentang Tugu?&lt;br /&gt;bangunan retak seperti huruf tegak&lt;br /&gt;membentuk namamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di kota ini, kita berjalan mengikuti lelampu&lt;br /&gt;di sepanjang trotoar kau kerapkali bertanya&lt;br /&gt;            &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“mengapa kau tak pulang saja?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;tentu aku tahu, kota ini begitu asing bagimu&lt;br /&gt;sebab kendaraan begitu bising menderu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lalu kita bersepakat untuk menamai waktu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bahwa ketenangan Kali Code&lt;br /&gt;adalah ketenangan yang semu&lt;br /&gt;sebab esok akan datang kiriman lahar&lt;br /&gt;yang akan menghanyutkan sajakku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dinginnya Kaliurang&lt;br /&gt;adalah dinginnya sikapku&lt;br /&gt;seringkali aku membangkang&lt;br /&gt;sering pula aku tunduk padamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kesederhanaan warung kaki lima&lt;br /&gt;adalah kesederhanaan sajakku&lt;br /&gt;sesekali sepi&lt;br /&gt;sesekali ramai sekali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seringkali kita salah menamai sesuatu&lt;br /&gt;sebab rindu, barangkali memang tak perlu dinamai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;riuhnya Malioboro&lt;br /&gt;seperti gemuruh di hatiku&lt;br /&gt;menyimpan cinta untuk dikatakan&lt;br /&gt;ah, biarlah aku rahasiakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lalu tak sadar, perjalanan kita sudah begitu renta&lt;br /&gt;untuk menapaki jalanan jogja di malam yang menua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kembalinya ombak di Pantai Selatan&lt;br /&gt;menjadi pertanda kepulanganku&lt;br /&gt;ingatan pada kampung halaman&lt;br /&gt;melebur rindu jadi abu.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Yogyakarta, Desember 2010)&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Dibacakan dalam acara "100 Penyair Membaca Jogja", Jum'at 6 Januari 2011 di depan Istana Gedung Agung, Yogyakarta 0 Kilometer.&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2226946536626198142-5468020326131927266?l=badrulmunirchair.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://badrulmunirchair.blogspot.com/feeds/5468020326131927266/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2226946536626198142&amp;postID=5468020326131927266' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2226946536626198142/posts/default/5468020326131927266'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2226946536626198142/posts/default/5468020326131927266'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://badrulmunirchair.blogspot.com/2011/01/yogyakarta-sebuah-sajak.html' title='Yogyakarta, Sebuah Sajak'/><author><name>Badrul Munir Chair</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10794972918990290806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/SvRBYFHUwnI/AAAAAAAAAM0/tYQVcUVGv_E/S220/Ikalkuikalku.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2226946536626198142.post-1262136339732619081</id><published>2011-01-31T22:39:00.000-08:00</published><updated>2011-01-31T22:42:23.677-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Sajak-sajak di Batam Pos</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sajak-sajak Munajat Sunyi &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pada Sebuah Desember &lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pada sebuah sungai aku memanggilmu, pada sebuah muara engkau menyambutku.&lt;br /&gt;lalu kita bersepakat, namaku namamu adalah keganjilan&lt;br /&gt;yang tak akan genap jika tidak dipersatukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Selamat Natal,&lt;/span&gt; katamu&lt;br /&gt;lalu kita bermain salju yang turun dari pohon randu&lt;br /&gt;rumah-rumah berhias lelampu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Selamat Natal, &lt;/span&gt;balasku.&lt;br /&gt;kulirik tuhan memperhatikan kita dalam cemas paling biru&lt;br /&gt;di penghujung desember ini, kekasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku menunggu tahun baru, sedang kau sibuk menghitung tanggal kepergianku.&lt;br /&gt;tahun baru bukan berarti hati yang baru bukan? tanyamu.&lt;br /&gt;ingin kujawab tetapi tak perlu, sebab perjalananku hanya untuk menjemput Isa, yang tersesat jauh dari rahim ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maka setelah datang musim semi dan salju ini genap berhenti&lt;br /&gt;tunggulah kedatanganku, kekasih.&lt;br /&gt;sebab aku akan datang membawakanmu bingkisan&lt;br /&gt;yang kususun dari sisa-sisa kenangan semenjak kau mencatat perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pada sebuah dermaga aku mendekapku&lt;br /&gt;di tepi muara engkau menyambutku.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Yogyakarta, 2010)&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Percakapan di Malam yang Cemas &lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;andai saja kau membuatkan secangkir teh untukku&lt;br /&gt;di malam yang cemas ini, tentu tak perlu aku memelukmu.&lt;br /&gt;sebab hujan tak begitu teduh untuk kita bercengkrama&lt;br /&gt;walau seteguk sudah cukup menahan kantuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;barangkali kau harus belajar menanak nasi&lt;br /&gt;atau sekedar memasak mie&lt;br /&gt;untuk menemani percakapan yang jeda ini&lt;br /&gt;seduh demi seduh&lt;br /&gt;hingga nanti datang waktu shubuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebab percakapan ini&lt;br /&gt;sungguh, sudah terlalu jauh&lt;br /&gt;malam semakin bergegas&lt;br /&gt;dan aku menunggu hujan dengan cemas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebab tak mungkin kita duduk di beranda dengan hawa yang dahsyat&lt;br /&gt;sedang tangan ini tak mampu lagi bersidekap&lt;br /&gt;untuk melepas gigil di rumahmu yang terpencil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;andai saja kau membuatkan secangkir teh untukku&lt;br /&gt;di malam yang cemas ini, tentu tak perlu aku mengecupmu&lt;br /&gt;sekedar berbagi kehangatan&lt;br /&gt;sebelum tidur yang panjang ini&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Yogyakarta, 2010)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt; Dimuat di Batam Pos  edisi Januari 2010. Saya mengirimkan lima sajak dan entah sajak yang mana yang dimuat. Saya hanya mendapatkan kiriman email konfirmasi kalau sajak saya telah dimuat di Batam Pos. &lt;/blockquote&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2226946536626198142-1262136339732619081?l=badrulmunirchair.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://badrulmunirchair.blogspot.com/feeds/1262136339732619081/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2226946536626198142&amp;postID=1262136339732619081' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2226946536626198142/posts/default/1262136339732619081'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2226946536626198142/posts/default/1262136339732619081'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://badrulmunirchair.blogspot.com/2011/01/sajak-sajak-di-batam-pos.html' title='Sajak-sajak di Batam Pos'/><author><name>Badrul Munir Chair</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10794972918990290806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/SvRBYFHUwnI/AAAAAAAAAM0/tYQVcUVGv_E/S220/Ikalkuikalku.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2226946536626198142.post-2126475244534860399</id><published>2010-12-06T02:45:00.000-08:00</published><updated>2011-12-21T18:15:44.895-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Biografi'/><title type='text'>Badrul Munir Chair</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/TPzAgfCjemI/AAAAAAAAAO4/aPEigHk8NRc/s1600/31553_1272467577788_1412870374_1359456_7573384_n.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 138px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/TPzAgfCjemI/AAAAAAAAAO4/aPEigHk8NRc/s200/31553_1272467577788_1412870374_1359456_7573384_n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5547520505334168162" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Badrul Munir Chair&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Lahir:&lt;/span&gt; Sumenep, 1 Oktober 1990&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pendidikan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- 1997, SDN Ambunten Timur I Sumenep&lt;br /&gt;- 2002, MTs Program Khusus (MTs Plus) Darul 'Ulum Jombang.&lt;br /&gt;- 2005, MA Unggulan Darul 'Ulum Jombang.&lt;br /&gt;- 2008, Theologi dan Filsafat UIN SUnan Kalijaga Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pendidikan Pesantren:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- 1997, Pondok Pesantren Darud Dakwah Ambunten-Sumenep&lt;br /&gt;- 2002, Pondok Pesantren Tinggi Darul 'Ulum Peterongan-Jombang&lt;br /&gt;- 2005, Asrama XIV Hidayatul Qur'an Darul 'Ulum Jombang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biodata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;)* Badrul Munir Chair, lebih dikenal dengan nama Munajat Sunyi, lahir di Ambunten-Sumenep (kota pessisir di utara Pulau Madura), 1 oktober 1990. Menulis cerpen dan puisi, salah satu cerpennya memperoleh juara pertama dalam sayembara penulisan cerpen inspiratif Ramadhan tingkat mahasiswa se-DIY 2009, juga terpilih sebagai Juara Favorit RRI Puisi Award Yogyakarta 2010. Karya-karyanya masuk dalam sejumlah Antologi bersama, diantaranya: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;antologi cerpen &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Di Pematang Pandanaran (Matapena, 2009)&lt;br /&gt;- Bukan Perempuan (Grasindo-Obsesi, 2010)&lt;br /&gt;- Festival Bulan Purnama Majapahit (DKKM, 2010)&lt;br /&gt;- Lelaki yang Dibeli (Litera Media, 2011)&lt;br /&gt;- Bulan Kebabian (Belistra, 2011).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;antologi puisi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Diorama (Masyarakat Bawah Pohon, 2009)&lt;br /&gt;- Musibah Gempa Padang (Kuala Lumpur, 2009)&lt;br /&gt;- Puisi Festival Bulan Purnama Majapahit (DKKM, 2010)&lt;br /&gt;- Meditasi Dampak 70 (Kuala Lumpur, 2011)&lt;br /&gt;- Akulah Musi (DKSM, 2011)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya-karyanya berupa Cerpen dan puisi dimuat di media-media massa penting tanah air, seperti Majalah Sastra Horison, Suara Merdeka, Batam Post, Lampung Post, Padang Ekspress, Radar Surabaya, Cempaka, Koran Merapi, Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini melanjutkan studinya di jurusan Teologi dan Filsafat Fak. Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, aktif bergiat di Masyarakat Bawah Pohon Yogyakarta. Menggagas Rumahnabi, sebuah taman baca untuk anak-anak di kampung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Email: eyoung_bmc@yahoo.co.id atau munajatsunyi@gmail.com&lt;br /&gt;Contact Person: 081915520846.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antologi Cerpen duet, Badrul Munir Chair dan Y. Zavien Aundjand, diterbitkan oleh FUY pada tahun 2009. Memuat enam Cerpen Badrul Munir Chair dan enam Cerpen Y. Zavien Aundjand (Novelis)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/TPzAuOg3bNI/AAAAAAAAAPA/HvKz81NcQ2Q/s1600/Cover%2BBangkai.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 133px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/TPzAuOg3bNI/AAAAAAAAAPA/HvKz81NcQ2Q/s200/Cover%2BBangkai.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5547520741416070354" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini sedang menyiapkan dua novelnya yang berlatar kehidupan budaya Madura dan sebuah novel tentang perempuan pesantren.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2226946536626198142-2126475244534860399?l=badrulmunirchair.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://badrulmunirchair.blogspot.com/feeds/2126475244534860399/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2226946536626198142&amp;postID=2126475244534860399' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2226946536626198142/posts/default/2126475244534860399'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2226946536626198142/posts/default/2126475244534860399'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://badrulmunirchair.blogspot.com/2010/12/badrul-munir-chair.html' title='Badrul Munir Chair'/><author><name>Badrul Munir Chair</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10794972918990290806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/SvRBYFHUwnI/AAAAAAAAAM0/tYQVcUVGv_E/S220/Ikalkuikalku.bmp'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/TPzAgfCjemI/AAAAAAAAAO4/aPEigHk8NRc/s72-c/31553_1272467577788_1412870374_1359456_7573384_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2226946536626198142.post-5850524521651347081</id><published>2010-11-05T04:27:00.000-07:00</published><updated>2010-12-06T01:25:53.056-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Fragmen Agustus (Sajak)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Fragmen Agustus&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pada sebuah diorama&lt;br /&gt;prajurit dan tentara, memakai ikat kepala&lt;br /&gt;menggenggam erat bendera&lt;br /&gt;dengan bambu runcing di ujungnya&lt;br /&gt;merah putih tanda merdeka&lt;br /&gt;“selamat datang, agustus&lt;br /&gt;kita rayakan kemerdekaan&lt;br /&gt;dengan sebotol vodka&lt;br /&gt;tanda sia-sia perjuangan kita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di sudut-sudut kota&lt;br /&gt;merah putih dikibarkan&lt;br /&gt;Indonesia raya dinyanyikan&lt;br /&gt;“ini hari kemerdekaan&lt;br /&gt;heningkan cipta,&lt;br /&gt;untuk mengenang para pahlawan&lt;br /&gt;yang telah gugur mendahului kita.”&lt;br /&gt;inspektur upacara berkata perlahan&lt;br /&gt;lalu mereka menunduk&lt;br /&gt;meski tak mengerti arti perjuangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/TNPq_EoeuLI/AAAAAAAAAOU/J3k9RBiEicM/s1600/SM04.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 134px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/TNPq_EoeuLI/AAAAAAAAAOU/J3k9RBiEicM/s200/SM04.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5536026736264657074" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;agustus, karnaval dimana-mana&lt;br /&gt;anak-anak kecil memakai baju-baju adat&lt;br /&gt;berkeliling kota&lt;br /&gt;riuh tepuk tangan dan ramai lomba-lomba&lt;br /&gt;“kita rayakan kemerdekaan&lt;br /&gt;dengan hura-hura!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sepulang upacara&lt;br /&gt;kutanya nenek tentang pahlawan&lt;br /&gt;tentang sejarah dan kemerdekaan&lt;br /&gt;nenek hanya diam&lt;br /&gt;memandang foto kakek dengan seragam tentara&lt;br /&gt;“pahlawan adalah mereka yang celaka&lt;br /&gt;kemerdekaan dan sejarah,&lt;br /&gt;hanyalah dusta belaka.”&lt;br /&gt;ucap nenek dengan bercucur air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Agustus, 2010) &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2226946536626198142-5850524521651347081?l=badrulmunirchair.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://badrulmunirchair.blogspot.com/feeds/5850524521651347081/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2226946536626198142&amp;postID=5850524521651347081' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2226946536626198142/posts/default/5850524521651347081'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2226946536626198142/posts/default/5850524521651347081'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://badrulmunirchair.blogspot.com/2010/11/fragmen-agustus-sajak.html' title='Fragmen Agustus (Sajak)'/><author><name>Badrul Munir Chair</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10794972918990290806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/SvRBYFHUwnI/AAAAAAAAAM0/tYQVcUVGv_E/S220/Ikalkuikalku.bmp'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/TNPq_EoeuLI/AAAAAAAAAOU/J3k9RBiEicM/s72-c/SM04.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2226946536626198142.post-3071630514462790006</id><published>2010-10-12T03:33:00.000-07:00</published><updated>2011-12-21T17:48:06.679-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Lelaki Penunggu Candi</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt; Cerpen Badrul Munir Chair (Padang Ekspress, 10  Oktober 2010 dan Radar Surabaya, 20 November 2011) &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-746Y7u268bI/TvKLUMtZajI/AAAAAAAAAQE/COFIGrcBdg4/s1600/Lelaki%2BPenunggu%2BCandi.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 285px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-746Y7u268bI/TvKLUMtZajI/AAAAAAAAAQE/COFIGrcBdg4/s320/Lelaki%2BPenunggu%2BCandi.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5688762458447637042" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Purnama, bulat selaksa bola menggantung di atas langit desa. Bias cahayanya menelusup, menyorot daun-daun, reranting berduri. Di kebun salak milik Peno, pucuk-pucuk daun bergerak diayun angin. Suara anjing mengonggong, auman serigala dari balik bukit, kirik jangkrik, derik ular yang melilit di atas dahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam setengah delapan malam, suara karawitan anak-anak kecil yang berlatih di balai desa terdengar samar-samar, dibawa angin menerobos rimbun daun-daun kebun salak, menyapa telinga lelaki yang sedang menyendiri, duduk di atas sebuah batu kecil di lahan kosong tengah kebun, menunggu. Lelaki itu tampak tak tenang, menoleh kiri-kanan, bukan karena usikan nyamuk, tetapi gelisah lantaran teringat mimpinya tadi malam, mimpi yang sudah terulang hingga tujuh kali, mimpi yang sama, tentang sebuah petunjuk, bahwa di dalam tanah di bawah kebun salak milik keluarganya, terdapat sebuah candi. Ia tak sepenuhnya percaya, ingin segera membuktikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu mendongakkan kepala, mengarahkan pandangannya ke atas langit, cahaya purnama sebulat bola itu kian menggila, bergerak diarak angin, bergeser dari atas kebun salak warisan nenek moyangnya, purnama yang gelisah, bergerak semakin ke utara. Seperti kegundahan hati Peno, memegang cangkul, hendak menggali tanah yang sedang diinjaknya, ia terlihat gugup, gemetar, merasakan hawa yang berbeda, hawa yang mengusik. Ia semakin tak tenang ketika teringat mimpinya, bahwa di dalam tanah yang sedang diinjaknya kini, terdapat sebuah candi. Aroma mistis pun membaluri sekujur tubuhnya. Candi selalu penuh misteri, yang sangat mungkin dihuni makhluk-makhluk dunia lain. Peno merinding, ia berusaha tenang, namun kegelisahannya yang berlebih memaksa ia mengurungkan niatnya, bergegas meninggalkan kebun salak itu menuju rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cangkul diletakkan begitu saja di dapur belakang rumahnya, dapur gedek tempat segala perkakas, sekaligus tempat istrinya memasak, tungku berderet tak rapi, wajan dan panci digantung pada sebilah bambu di langit-langit. Ah, sudah lama ia tak mencium aroma masakan istrinya, semenjak peristiwa seminggu lalu, hari yang membuat hidupnya kacau berantakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peno sungguh tak habis pikir, bagaimana mungkin Surti, istri yang telah memberikannya satu orang anak, memilih meninggalkannya hanya karena masalah tanah. Peno menguap, mengusap kedua matanya yang nanar, tiba-tiba ia teringat istrinya, namun ia tak ingin mengingat peristiwa menyakitkan itu, ia segera meninggalkan dapur.&lt;br /&gt;Ya, seminggu lalu, sore hari, ketika itu Peno baru saja pulang dari rumah Lastri, adik perempuannya yang tinggal bersama suaminya di desa seberang. Sengaja, waktu itu ia tidak langsung menuju rumahnya, mampir sejenak di warung tegalan Mak Sareh, hendak memesan kopi, hingga tak sengaja ia mendengar percakapan yang membuat panas telinganya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kabarnya, kebun salak milik kang Peno akan dijual murah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, yang bener, kang?.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, kabarnya begitu, untuk biaya pencalonan mertuanya menjadi Lurah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peno memperhatikan percakapan itu, ia mengendap, ingin tahu, suara dari bilik warung belakang. Peno mengintip dari ruas-ruas bambu, ia lihat dua orang yang sedang bercakap, ternyata suara itu berasal dari mulut kang Rahmat dan Rojali, kuli angkut di desanya. Peno langsung pulang, mengurungkan niatnya untuk memesan kopi.&lt;br /&gt;Ia dapati Surti tidak ada di rumah, Ia tunggui Surti, mungkin pergi ke rumah tetangganya. Namun sampai matahari tenggelam, Surti yang ditunggunya tak kunjung datang, ia terus menunggu hingga malam. Ia berpikir, mungkin Surti berada di rumah ibunya dan akan  menginap di sana, tapi tak seperti biasanya, Surti tidak berpamitan sebelumnya. Akhirnya Peno maklum, ia bergegas tidur, sendiri. Dalam tidurnya ia bermimpi, tentang adanya candi di bawah kebun salaknya. Mimpi yang akan terulang hingga tujuh malam berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang lelaki mengenakan topi tekes menghampirinya, topi mirip blangkon Jawa, tapi tanpa tonjolan di belakang kepala. Badan bagian atas lelaki itu tidak mengenakan pakaian, bertelanjang dada, sedangkan bagian bawahnya memakai kain yang dilipat-lipat hingga menutupi paha, membawa keris yang diselipkan di bagian belakang pinggang. Lelaki itu memperkenalkan dirinya, Raden Inu Kertapati, memberinya petunjuk tentang adanya sebuah candi di bawah kebun salaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di bawah kebun salakmu ada candi, candi yang kubuat untuk meminang Dewi Sekartaji, jagalah candi itu jika kau tak ingin kehilangan istrimu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peno terjaga dari tidurnya, ia teringat akan mimpinya, pertemuan dengan Raden Inu Kertapati, nama yang tak asing baginya, kakeknya dahulu pernah bercerita,  tentang kepahlawanan seorang lelaki bernama Raden Inu Kertapati atau lebih dikenal dengan Panji Asmara Bangun, juga cerita tentang cintanya kepada Dewi Sekartaji atau Galuh Candra Kirana. Peno berpikir, apakah kisah kedua tokoh itu adalah kisah nyata? Legenda yang tak hanya sekedar dongeng pengantar tidur, tak sekedar cerita yang dikarang orang-orang tua di desanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peno juga teringat akan kata-kata Raden Inu Kertapati dalam mimpinya tadi, “jagalah candi itu jika kau tak ingin kehilangan istrimu.” Ia benar-benar tak paham,  kemudian ia teringat dengan istrinya, yang pergi tanpa berpamitan dan sampai saat ini belum pulang. Peno jadi gelisah, khawatir akan terjadi sesuatu buruk menimpa istrinya. Peno bergegas mandi, kemudian menuju rumah mertuanya.&lt;br /&gt; “Surti ada di dalam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peno disambut dengan nada sinis ibu mertuanya, sejak dulu bapak-ibu Surti memang tidak merestui hubungan mereka. Namun ia lega, karena berarti Surti baik-baik saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf kang, Surti tidak pamit semalam, Surti sebenarnya ingin pulang, tapi dilarang sama bapak.” Surti berkata sambil menunduk, segan menatap wajah suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Surti akan tetap di sini, tak boleh pulang sampai pemilihan Lurah selesai,” bapak mertua Peno memotong dangan nada agak tinggi, “Oiya, bagaimana dengan kebun salakmu itu, apakah sudah laku?.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peno sungguh kaget mendengar pertanyaan mertuanya, ia teringat percakapan kang Rahmat dan Rojali di warung Mak Sareh kemarin. Gosip tentang penjualan tanah, gosip tentang kebun salaknya yang akan dijual murah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kebun salak saya tidak akan dijual, pak, itu hanya isu, lagipula itu warisan dari Almarhum bapak saya, kebun itu juga hak milik adik saya Lastri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho, apa Surti tidak bilang sama kamu?, saya butuh biaya untuk pencalonan Lurah, jalan satu-satunya, ya, dengan menjual kebun salakmu itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi pak…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak ada tapi-tapian, jual kebun salakmu, atau istrimu tidak akan pulang ke rumahmu, selamanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bagaimana mungkin, pak. Cobalah Bapak sedikit berpikir. Pernikahan saya dengan Surti, tak ada hubungannya dengan perihal penjualan tanah warisan, apalagi dengan pencalonan Bapak jadi ketua Lurah. Hubungan kami berdua tak bisa begitu saja bapak campuri. Kami tak ada masalah. Kok, tiba-tiba...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kamu telah gagal menjadi suami Surti.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peno terkejut mendengar ucapan mertuanya, ucapan spontan yang keluar karena amarah. Ia perhatikan wajah mertuanya, mimik yang sama persis dengan tiga tahun lalu, ketika ia datang melamar Surti, mimik yang penuh dengan rasa benci. Ia dengar suara tangisan anaknya, dalam dekapan ibu mertuanya. Ia lihat istrinya, hanya diam, menunduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peno pulang dari rumah mertuanya dengan perasaan emosi yang membuncah. Ia sungguh tak menyangka dengan sikap mertuanya, sangat menyayangkan peristiwa yang baru saja menimpanya, musibah yang datang tiba-tiba. Dibenaknya terus terngiang perkataan yang diucapkan mertuanya. Ia benar-benar tak habis pikir. Nasib memang tak bisa ditimbang, jodoh pun tak bisa ditebak kapan datang dan pulang. Ia juga tak habis pikir dengan sikap istrinya, mengapa perempuan Jawa selalu manut, selalu nurut?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matahari, bulat selaksa bola dengan warna jingga, hendak menenggelamkan diri di barat-daya langit desa. Bias cahayanya menelusup, menyorot daun-daun, reranting berduri. Senja yang sempurna. Di kebun salak miliknya, Peno sedang menimbang, memikirkan jalan keluar dari segala masalah yang menghinggapinya kini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peno duduk menyendiri, di atas sebuah batu kecil di lahan kosong antara pohon ke pohon, merenung. Ia tampak gelisah, mendongak ke langit, dilihatnya arak-arakan awan terus bergerak, matahari yang terus meredup dan menepi di ufuk barat, mengantarkannya pada ingatan yang menyakitkan. Pada Surti, istrinya yang telah raib. Pada mertuanya, yang belum lama ini telah memisahkan dirinya dengan anak istrinya. Pada bapak-ibunya, yang mewariskan kebun salak itu kepadanya dan kepada Lastri, adik perempuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebun salak itu, kebun yang sangat bersejarah baginya dan bagi keluarganya, tumpuan hidup satu-satunya. Selain itu, keluarganya tak punya apa-apa. Dahulu, Mbah kakung menabung dari hasil menarik delman di kota, hingga akhirnya si Mbah menjual delmannya karena sudah tua, uangnya digunakan untuk membeli kebun salak itu, tentu saja ditambah dengan uang tabungannya selama bertahun-tahun –begitulah bapaknya sering bercerita-. Lalu, kebun salak itu diwariskan kepada bapaknya ketika si Mbah meninggal, dan diwariskan kepadanya dan adik perempuannya ketika bapaknya meninggal empat tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari ini, beberapa orang menawar kebun salaknya, dengan harga yang sangat menggiurkan. Wajar saja, rata-rata kebun salak di desanya sudah berbunga, tak lama lagi musim panen, begitupun kebun salaknya, mungkin hanya menunggu empat hingga lima minggu lagi akan berbuah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andai saja ia tidak ingat dengan mimpi aneh itu, tentu ia sudah menjualnya, dengan harga berapapun, demi istrinya Surti, bunga desa yang dahulu dengan susah-payah ia dapatkan, ia perebutkan dengan pemuda-pemuda desa lainnya. Ia berniat akan meminta maaf kepada Lastri, akan meminta maaf di pusara bapak-ibunya karena telah gagal mempertahankan tanah warisan si Mbah. Tetapi, mimpi itu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, Mengapa mimpinya begitu paradoks?, bukankah mertuanya mengancam, jika ia tidak menjual kebun salaknya, ia akan kehilangan istrinya?, tetapi, dengan menjualnya, berarti ia telah gagal menjaga candi yang tertimbun di bawah kebun salaknya, atau dengan kata lain, ia juga akan tetap kehilangan istrinya –seperti ancaman Raden Inu Kertapati yang ia temui dalam mimpi-. Ah, peno sungguh bingung, gelisah. Jalan mana yang akan ditempuhnya? Menjual tanah, atau menjaga candi, resikonya sama: ia akan kehilangan Surti, istri yang sangat ia cintai dengan sepenuh hati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi masalahnya, ancaman siapakah yang akan lebih ia takuti, ancaman mertuanya atau ancaman Raden Inu Kertapati?. Ingin sekali Peno memungkiri kebenaran mimpi itu, ingin sekali ia tak percaya. Tetapi, mimpi itu datang berulang-ulang, hingga tujuh malam, yang berarti sebuah petunjuk, sebuah ilham, mimpi yang datang lebih dari dua kali adalah petunjuk yang datang dari Tuhan –begitu kata guru mengajinya dulu-. Dan ancaman Raden Inu Kertapati, bukan tidak mungkin akan menjadi kenyataan. Peno sungguh takut, gelisah, bingung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berpikir beberapa lama, Peno meneguhkan hati, ia tak akan pernah menjual kebun salak itu, kepada siapapun, dengan harga berapapun. Keyakinannya akan mimpi yang terus berulang hingga tujuh kali, semakin membulatkan niatnya. Ia berbisik dalam hati; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi cinta Raden Inu Kertapati kepada Dewi Sekartaji, demi cintaku kepada Surti, demi Almarhum Mbah kakung dan bapak-ibu, demi Lastri, aku tak akan menjual kebun salak ini, aku akan menjaga candi ini, dengan segenap cintaku, dengan segenap nyawaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Sumenep, Juni 2010)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2226946536626198142-3071630514462790006?l=badrulmunirchair.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://badrulmunirchair.blogspot.com/feeds/3071630514462790006/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2226946536626198142&amp;postID=3071630514462790006' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2226946536626198142/posts/default/3071630514462790006'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2226946536626198142/posts/default/3071630514462790006'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://badrulmunirchair.blogspot.com/2010/10/lelaki-penunggu-candi.html' title='Lelaki Penunggu Candi'/><author><name>Badrul Munir Chair</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10794972918990290806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/SvRBYFHUwnI/AAAAAAAAAM0/tYQVcUVGv_E/S220/Ikalkuikalku.bmp'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-746Y7u268bI/TvKLUMtZajI/AAAAAAAAAQE/COFIGrcBdg4/s72-c/Lelaki%2BPenunggu%2BCandi.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2226946536626198142.post-25928145807242705</id><published>2010-10-04T05:19:00.000-07:00</published><updated>2011-01-31T22:57:30.072-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Sajak; Sepasang Patung Sapi</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sajak Badrul Munir Chair&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;SEPASANG PATUNG SAPI&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;       :bersama Nay&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I&lt;br /&gt;apa yang kau pikirkan tentang sepasang patung sapi ini?&lt;br /&gt;yang derap langkahnya beradu dengan sepatu serdadu Nippon&lt;br /&gt;yang sekujur tubuhnya retak dimakan usia&lt;br /&gt;cat-cat yang mengelupas warnanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II&lt;br /&gt;ini hanya patung renta&lt;br /&gt;yang bermimpi untuk menjadi berhala&lt;br /&gt;dengan kaki-kaki yang lemah&lt;br /&gt;juga penunggang tua yang malas mencatat sejarah&lt;br /&gt;tentu kau tahu; mereka diciptakan untuk menjadi saksi bisu&lt;br /&gt;atau sebagai penanda, semacam ucapan selamat datang&lt;br /&gt;bagi musyafir yang melintasi kota kita&lt;br /&gt;ketika petang, atau ketika kemarau telah datang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III&lt;br /&gt;lalu, apa yang kau lihat pada sepasang patung sapi ini?&lt;br /&gt;dengan mata redup menghadap matahari&lt;br /&gt;yang diatasnya menjalar tanaman liar&lt;br /&gt;dan sisa embun pada pilar-pilarnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV&lt;br /&gt;seperti yang telah kau tahu&lt;br /&gt;patung itu menjadi saksi bisu pertikaian waktu&lt;br /&gt;mungkin mereka menyembunyikan sesuatu, sejarah perjalanan kota kita&lt;br /&gt;dari hilir hingga hulu&lt;br /&gt;dari zaman ratu hingga zaman serdadu&lt;br /&gt;atau mereka memanglah benar-benar bisu&lt;br /&gt;menatap kita yang bercakap tentangnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;V&lt;br /&gt;mungkin kelak orang akan bertanya&lt;br /&gt;dimana letak pantai utara, kota tua&lt;br /&gt;yang di gerbangnya terdapat sepasang patung sapi&lt;br /&gt;tempat para musyafir bertetirah&lt;br /&gt;sebab disinilah kita akan mencatat sejarah.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Ambunten, 28 Agustus 2010)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2226946536626198142-25928145807242705?l=badrulmunirchair.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://badrulmunirchair.blogspot.com/feeds/25928145807242705/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2226946536626198142&amp;postID=25928145807242705' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2226946536626198142/posts/default/25928145807242705'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2226946536626198142/posts/default/25928145807242705'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://badrulmunirchair.blogspot.com/2010/10/sajak-sepasang-patung-sapi.html' title='Sajak; Sepasang Patung Sapi'/><author><name>Badrul Munir Chair</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10794972918990290806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/SvRBYFHUwnI/AAAAAAAAAM0/tYQVcUVGv_E/S220/Ikalkuikalku.bmp'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2226946536626198142.post-4346366350785120945</id><published>2010-03-01T05:42:00.000-08:00</published><updated>2010-12-06T01:33:16.728-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>CERPEN "IMROAH"</title><content type='html'>CERPEN INI MASUK DALAM NOMINASI LOMBA PENULISAN CERPEN TINGKAT MAHASISWA SE-INDONESIA OLEH STAIN PURWOKERTO, DAN DIANTOLOGIKAN DALAM BUKU "BUKAN PEREMPUAN"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/S4vFCn_TKGI/AAAAAAAAAOE/YAVZYfl1GLI/s1600-h/bukan-perempuan-.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 186px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/S4vFCn_TKGI/AAAAAAAAAOE/YAVZYfl1GLI/s200/bukan-perempuan-.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5443661223492266082" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen Badrul Munir Chair&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IMROAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Busana yang kukenakan saat ini adalah produk impor dari luar negeri, aku membelinya di mall terbesar kota ini, kaos ketat tanpa lengan menampakkan tonjolan payudaraku yang menantang, dan rok span mini menjadikanku tampak seksi seperti selebriti di televisi. -Ah, bukankah tak lama lagi aku akan masuk TV?.&lt;br /&gt;Masih jam delapan lewat lima, belum saatnya menebus dosa.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pagi yang cerah, sepagi ini sengatan matahari sudah seperti api –panas sekali-. Aku menunggu seseorang di lobby hotel, duduk di sofa empuk yang dilapisi bulu-bulu domba yang konon katanya dari padang sahara –sofa terempuk yang pernah kududuki-, di sampingku kulihat beberapa laki-laki setengah baya melirik nakal kearahku, aku mengerlingkan mataku untuk membalas kedipan mata nakal mereka.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sudah setengah Sembilan, tak seperti yang telah dijanjikan, orang yang kutunggu belum juga datang, aku menggerutu, tak enak sekali rasanya menunggu seseorang di lobby hotel dengan pakaian terbuka seperti ini, aku tak terbiasa, tapi mau bagaimana lagi? Hanya inilah caraku menebus dosa. Kalian pasti tak percaya, ini baru pertama kalinya aku masuk hotel, dan ini juga pertama kalianya aku memakai pakaian serba mini di tempat umum, you can see istilah kerennya, dan kalian akan tidak percaya lagi jika kukatakan bahwa dulu aku bercadar, karena sebenarnya statusku saat ini masih santriwati di sebuah pondok pesantren putri, aku tahu, kalian pasti akan berkata Naudzubillah atau Astaghfirullah dalam hati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namaku Imroah, aku datang ke hotel ini untuk menebus dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukannya aku tak tahu kalau membuka aurat didepan umum malah menambah dosa, tetapi aku yakin, inilah salah satu caraku untuk menghapus dosa-dosaku yang telah lalu. Oleh karena itu, kalian jangan salah paham dulu, diamlah dan dengarkan ceritaku.&lt;br /&gt;Di dunia ini, aku yakin tak ada seorangpun yang ingin hidup menderita, semua orang pasti ingin hidup bahagia, begitupun aku. Kata orang, kehidupan bagaikan roda yang terus berputar, adakalanya kita berada diatas, dan adakalanya kita berada di bawah. Namun bagiku, hidup ini bagaikan gelombang-gelombang lautan yang membawa kesialan tanpa henti, hidupku penuh dengan penderitaan, roda kehidupanku tak pernah berputar, aku merasa tak pernah bahagia.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hidupku adalah kutukan, bahkan kelahiranku ke dunia inipun sangat tidak diharapkan. Secara tak sengaja aku mengetahui asal-usulku ketika wisuda TK, saat itu usiaku meninggalkan balita (bawah lima tahun), bisikan ibu-ibu yang menghadiri prosesi wisuda lamat kudengar; “kasihan sekali Imroah, sudah lulus TK tapi ibunya belum bertobat menjadi pelacur”. Kurasakan dunia begitu gelap, aku langsung ingin menangis, tetapi aku tahan.  Selama ini aku memang tak tahu siapa ibuku, aku tinggal di sebuah yayasan panti asuhan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jam delapan empat puluh lima, orang yang kutunggu masih belum datang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lobby hotel semakin ramai, kulihat bule-bule luar negeri berdatangan untuk check in di hotel ini, aku tersenyum, pakaian mereka tak jauh beda dengan pakaianku saat ini –sama-sama mini, sama-sama seksi. Tiba-tiba aku dikagetkan dengan suara handphoneku yang bergetar didalam dompet kecilku –handphone yang kucuri seminggu lalu-, sebuah SMS dari orang yang dari tadi kutunggu, ah, Ia meminta maaf terlambat katanya, kutanyakan padanya apakah kesepakatan ditunda?, dan kuingatkan padanya untuk tidak menggagalkan rencana.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kalian juga pasti tak percaya bahwa aku adalah seorang pencuri. Rambutku sudah sering digundul karena kedapatan mencuri uang dan barang-barang temanku di pondok putri, bahkan aku hampir saja dikeluarkan dari pesantren karena perbuatanku sudah keterlaluan, namun aku mempunyai bakat bersandiwara, dengan beberapa tetes air mata, pengasuh asramaku merasa iba –ah, mereka tentu saja tak tega mengusirku, di pondok saja aku sudah jadi mafia, mau jadi apa aku nantinya di luar sana?, mungkin begitu pikir mereka.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Namun sebenarnya bukan hanya karena pandai bersandiwara yang membuatku tetap aman di pesantren itu. Suatu hari, pondok putri gempar karena uang seorang santriwati hilang, akulah yang dicurigai, dituduh menjadi tersangka utama -toh, sebenarnya memang aku yang mencuri-, sejak malam itu aku dipindahkan ke kamar ustadzah bagian keamanan, semenjak itu pula aku merasa terkekang, sekamar berdua dengan kepala keamanan yang terkenal kejam, namun aku selalu mencari cara untuk kembali dipindahkan ke kamar teman-teman.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Suatu malam, ketika lampu kamarku sudah dipadamkan, kulihat ustadzah ketua keamanan sudah terlelap didalam selimut, tiba-tiba terbesit ide brilian dalam otakku, kusingkap selimut ustadzah itu, Ia tidur mendengkur, kusingkap rok yang dipakainya,  kubelai pahanya hingga Ia kegelian dan menggeliat tak tahan, belaian tanganku semakin kunaikkan hingga selangkangan, kulirik matanya sudah terbuka tak terpejam, namun tetap kulanjutkan aksiku –aku berharap Ia akan marah, lalu esok memindahkan aku kembali ke kamarku yang dulu-, namun Ia malah menuntun tanganku menuju sebuah lubang. Arghhhhhhhhhhh…Ia berteriak seperti harimau yang sedang menerkam. Semenjak malam itu aku dipatenkan menjadi penghuni tetap kamar keamanan, aku tak menyangka jika ustadzah ketua keamanan itu akan ketagihan, bahkan Ia mengatakan bahwa Ia mencintaiku. Pyuh! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah hampir jam Sembilan, orang yang kutunggu belum juga datang, padahal sesuai kesepakatan, jam sepuluh aku sudah harus pergi.&lt;br /&gt;Tak ada seorangpun yang ingin hidup sebagai pesakitan, sepanjang hidupnya selalu dicerca dan dijadikan kambing hitam. Begitupun aku, aku bosan menjadi pesakitan, aku kabur dari pesantren, -tidak kabur sebenarnya, karena aku sempat minta ijin untuk pulang-, aku ingin menelusuri asal-usulku, ku interogasi semua petugas panti asuhan tempat aku dibesarkan, awalnya mereka bungkam, namun dengan sedikit bentakan, mereka memberiku sebuah alamat, -yang setelah kutelusuri, ternyata sebuah tempat pelacuran.&lt;br /&gt;Dengan masih mengenakan daster panjang lengkap dengan jilbab, kudatangi tempat pelacuran itu, aku tahu saat itu semua orang memandangku, tapi aku tak peduli. Seorang perempuan seksi mendatangiku, “Assalamu’alaikum mbak, mau cari siapa?”, ucapnya genit sambil mengepulkan asap rokoknya ke wajahku. Tak lama kemudian seorang perempuan paruh baya berdandan menor datang menyusulnya menghampiriku, wajahnya hampir mirip denganku, perasaanku mengatakan dialah ibuku, kucium perempuan itu, sebagai seorang ibu, aku yakin pasti Ia merasakan bahwa akulah anaknya yang perbah Ia telantarkan, sejak itulah aku benar-benar yakin kalau ibuku adalah seorang pelacur high class. Namun entah mengapa aku malah bahagia, merasa menemukan alasan atas kesialan-kesialan hidupku selama ini. –adalah hal yang wajar jika anak seorang pelacur menjadi pelacur juga. Toh, buah tak pernah jatuh jauh dari pohonnya-.&lt;br /&gt;Jam sembilan lewat lima. Seorang pemuda tampan menawariku rokok, aku menggeleng, lalu dia mulai berbasa-basi menanyakan nama, kujawab saja namaku Jameela, dia tertawa, katanya namaku mirip penyanyi papan atas Indonesia, kujawab saja tak lama lagi aku juga akan terkenal melebihi si Jameela, lagi-lagi dia tertawa, kali ini menampakkan gigi kuningnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang kutunggu tak kunjung datang, aku mulai tak tenang. Namun tak lama kemudian kulihat seorang laki-laki bertopi muncul dari pintu keluar-masuk hotel, dia mendorong sebuah koper besar di tangan, juga tas gendong yang bergelantung di lengan kanan, walaupun wajahnya agak sedikit tertutup topi, tapi aku bisa mengenalinya,orang yang sudah satu bulan ini menjadi pembimbingku, dan telah banyak memberiku ilmu, namanya ustadz Leman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Imroah, aku tahu kalau hidupmu selalu dirundung kesialan”, ucap ustadzah kepala keamanan suatu malam setelah kami berhubungan badan. “aku akan mengenalkanmu dengan seorang teman, mungkin dia bisa membantumu keluar dari persoalan hidup yang selalu membelenggumu”, aku menggangguk pelan tanda setuju, kemudian ustadzah itu mengecup keningku.&lt;br /&gt;Aku sudah benar-benar bosan dengan hidupku saat ini, selalu dijadikan kambing hitam dalam setiap persoalan, setiap ada masalah, pasti yang dituduh adalah Imroah, bukan yang lain, untung saja aku sedikit terselamatkan oleh hubungan spesialku dengan ustadzah kepala keamanan, dialah yang akhir-akhir ini sedikit membantu dan melindungiku setiap ada masalah, seperti ketika aku diperkenalkan dengan ustadz Leman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mbak Imroah, kalau mbak mau dan sanggup, saya bisa membantu sampeyan”, kata ustadz Leman setelah kami diperkenalkan ustadzah kepala keamanan, “tapi ya itu mbak, untuk menghapus kesialan-kesialan hidup mbak, mbak Imroah harus berkorban”, kulihat kedua mata ustadz Leman jelalatan memandangi tubuhku, ustadzah kepala keamanan hanya tersenyum. “Apa yang harus saya korbankan, ustadz?”, -saat itu aku benar-benar tak sabar untuk merubah hidupku yang penuh dengan kesialan, penderitaanku sudah sangat dalam-, ustadz Leman tersenyum, “korbankan tubuh mbak, yakinlah, kesialan mbak akan segera berakhir”, aku seperti terbius dengan kata-katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang paling penting mbak, adalah niatnya, niat mbak itu mulia, ingin hidup lebih baik. Walaupun yang akan mbak lakukan sebenarnya itu sedikit berdosa, tapi dosa itu akan terhapus oleh pahala kebaikan yang berlipat-lipat jumlahnya, dan satu lagi, mbak akan terkenal”. Aku tersenyum, nasihatnya membuat tekadku semakin bulat. “Oiya mbak, kalau bisa mbak memakai dandanan menor model anak muda yang lagi nge-trend saja, biar nantinya tidak ada yang curiga”, kata ustadz Leman sebelum kami berpisah dan telah membuat kesepakatan, kami bertukar nomor handphone, kebetulan sekali waktu di angkot tadi aku mengambil handphone dari tas seorang bapak yang ketiduran.&lt;br /&gt;Ustadz Leman tersenyum menghampiriku di kursi tunggu lobby hotel, “maaf mbak, saya terlambat, ada sedikit masalah yang harus saya selesaikan”, katanya langsung meminta maaf, “tapi rencana kita jadi khan?”, tanyaku kemudian, ustadz Leman tersenyum sambil mengerlingkan matanya, “tak lama lagi, mbak akan merasakan indahnya surga”, katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam sepuluh kurang tiga menit…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ustadz Leman memberikan tas yang ada dilengannya padaku, “baiklah mbak, kalau begitu saya akan naik ke lantai dua duluan, mbak tetap di sini, nanti kita akan bertemu di sana”, aku mengngguk tersenyum, kugendongkan tas yang disodorkan ustadz Leman, “kodenya tetap sama sesuai perjanjian”, kata ustadz Leman setengah berteriak karena sudah akan menaiki tangga menuju lantai dua.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jam sepuluh tepat, tak lebih, tak kurang…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BHANGGGG…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kalian telah saksikan sendiri dalam rekaman-rekaman di televisi, seorang perempuan dengan pakaian you can see dan seorang laki-laki bertopi meledakkan diri di lobi sebuah hotel, seratus tujuh puluh sembilan orang mati.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang aku jadi terkenal, begitulah caraku menebus dosa, membuang kesialan, kata ustadz Leman, aku pasti masuk surga.[*]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Yogyakarta, Desember 2009)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biodata Penulis: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;)* Badrul Munir Chair, lebih dikenal dengan nama Munajat Sunyi, lahir di Ambunten-Sumenep (kota tua di timur daya Pulau Madura), 1 oktober 1990. Menulis cerpen dan puisi, salah satu cerpennya memperoleh juara pertama dalam sayembara penulisan cerpen inspiratif Ramadhan tingkat mahasiswa se-DIY 2009 (Piala Rektor), karya-karyanya masuk dalam sejumlah Antologi bersama, diantaranya antologi cerpen ”Di Pematang Pandanaran” dan beberapa antologi puisi, seperti ”Diorama” (antologi penyair tanpa bilangan kota), ”Antologi Puisi Penyair Nusantara Musibah Gempa Padang”, kumpulan cerpennya yang sudah terbit berjudul ”Bangkai dan Cerita-Cerita Kepulangan”. Kini melanjutkan studinya di jurusan Teologi dan Filsafat Fak. Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, aktif bergiat di Komunitas Matapena, dan Masyarakat Bawah Pohon Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Email &lt;br /&gt;eyoung_bmc@yahoo.co.id&lt;br /&gt;munajatsunyi@gmail.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2226946536626198142-4346366350785120945?l=badrulmunirchair.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://badrulmunirchair.blogspot.com/feeds/4346366350785120945/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2226946536626198142&amp;postID=4346366350785120945' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2226946536626198142/posts/default/4346366350785120945'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2226946536626198142/posts/default/4346366350785120945'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://badrulmunirchair.blogspot.com/2010/03/cerpen-imroah.html' title='CERPEN &quot;IMROAH&quot;'/><author><name>Badrul Munir Chair</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10794972918990290806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/SvRBYFHUwnI/AAAAAAAAAM0/tYQVcUVGv_E/S220/Ikalkuikalku.bmp'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/S4vFCn_TKGI/AAAAAAAAAOE/YAVZYfl1GLI/s72-c/bukan-perempuan-.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2226946536626198142.post-2916187629446450164</id><published>2010-03-01T05:23:00.000-08:00</published><updated>2011-01-31T22:34:18.779-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ulasan'/><title type='text'>RESENSI BUKU "KONG DRAMAN"</title><content type='html'>KOSMOLOGI BETAWI DALAM NEGERI KONG DRAMAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seseorang yang sepanjang hidupnya hanya menjadi benalu dari kehidupan orang lain, pasti kering kerontang, kurus dan sulit menghadapi serbuah gelombang kehidupan yang cepat berganti musim. Seorang yang tak mengerti akar dari kehidupannya bukan saja lupa pada masa lalu, lebih dari itu ia akan kesulitan merumuskan identitas kulturnya sendiri”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sekelumit prolog yang ditulis Akhmad Fikri AF. dalam kumpulan sajaknya “Negeri Kong Draman (cerita-cerita puitis kampung halaman untuk Indonesia)”. Sebagai lelaki yang dilahirkan dan tumbuh di tanah Betawi –tepatnya di Kampung Gondong Petir daerah Tangerang-, Akhmad Fikri tak ingin menjadi kacang yang lupa pada kulitnya, atau dalam bahasanya Akhmad Fikri; kembali pada ‘akar’. Berangkat dari kesadaran itulah akhirnya Akhmad Fikri “berani” menelurkan antologi puisi tunggal pertamanya dengan mengusung nafas Betawi –setelah sebelumnya ragu untuk menelurkan buku puisi karena sempat berpikiran bahwa puisi adalah karya yang spesifik dan hanya bisa dipahami oleh sebagian orang dan kurang diminati- .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Negeri Kong Draman (NKD), tampaknya Akhmad Fikri AF. ingin bernostalgia akan masa kecilnya yang penuh dengan romantisme. Selain itu, ia ingin menghidupkan kembali ungkapan-ungkapan betawi yang dikhawatirkan akan tergerus oleh pola-pola bahasa seiring perkembangan zaman. Akhmad Fikri AF. banyak sekali menggunakan ungkapan-ungkapan Betawi dalam sajak-sajaknya, seperti misalnya dalam sebuah sajak yang berjudul “Pantun Betawi” berikut ini: “Tempayan tanah liat- ngaduk air sampe butek- apa lu nggak liat- emang dasar mata lu picek”. Atau dalam sajaknya yang lain “Cang Arsyad Aku Kangen Adzanmu” berikut ini: “Subuh tanpa adzanmu cang Arsyad, serasa dingin membeku –kayaknya lebih asyik keredong kekurub mlungker –berteman bantal berbuntel buntel” . Dan usaha penghidupan ungkapan-ungkapan Betawi dalam buku ini semakin jelas dengan adanya Glossary Betawi- Indonesia sepanjang lima halaman di bagian akhir buku, hal ini tidak umum dan jarang sekali terjadi pada buku-buku puisi lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/S4vAauA2g9I/AAAAAAAAAN0/4Nf0nQYTBAI/s1600-h/17555_1194240342156_1412870374_1192889_7143940_n.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 142px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/S4vAauA2g9I/AAAAAAAAAN0/4Nf0nQYTBAI/s200/17555_1194240342156_1412870374_1192889_7143940_n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5443656139868111826" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya itu, Akhmad Fikri AF. juga melakukan kritik (ironi) akan orang-orang Betawi saat ini, seperti misalnya dalam sajak yang berjudul “Syair Hikmat Kampung Keramat” pada pantun ketiga belas, Akhmad Fikri mengemukakan sindirannya sebagai berikut: “Zaman sekarang orang betawi- makin kepinggir kecebur kali- tanah sepetak jadi rebutan- salah siapa kurang didikan”. Sangat tampak sekali kritikan Akhmad Fikri dalam sajak (pantun)ini, seperti ada rasa keprihatinan yang mendalam, menerima kenyataan bahwa generasi Batawi zaman sekarang makin menjauh dari akarnya, atau dengan kata lain tak ‘seindah’ pada masa Akhmad Fikri sendiri yang penuh romantisme kampung halaman (romantisme kampung halaman inilah yang banyak ditemukan pada sajak-sajak Akhmad Fikri AF. dalam Negeri Kong Draman).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyelami Negeri Kong Draman terasa seperti membaca cerita nostalgik masa kanak-kanak dan perjalanan hidup seorang bocah Betawi –atau bahkan sebagian besar bocah Betawi pada masa itu (pada masa penulis)-. Kehidupan dan kenangan masa kanak-kanak bocah Betawi (sang penulis) terbaca jelas di buku ini, seperti misalnya kehidupan di kampung halaman yang keseharian penduduknya memelihara bebek, anak-anak kecil yang mengaji di surau, trasisi-tradisi Betawi, bahkan tokoh-tokoh legendaris Betawi dan risalah-risalah Betawi dihidangkan dengan sederhana dalam buku ini, sehingga walaupun dituangkan dalam bentuk sajak atau puisi, hikayah dan pesan-pesan moral dalam buku ini bisa dengan mudah kita cerna. Karena sepertinya memang itulah yang diinginkan sang penulis, ia tidak ingin larut dalam metafor-metafor yang berlebihan, yang hanya membuat orang-orang awam tidak bisa memahami sajak-sajaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhmad Fikri AF. menyadari betul bahwa sajak-sajaknya memang ‘berbeda’ dengan sastra pada umumnya, jika pada karya-karya sastra umum di Indonesia saat ini lebih mengutamakan kata baku (sesuai Kamus Besar Bahasa Indonesia), Akhmad Fikri memilih berbeda, ia banyak menyertakan istilah-istilah Betawi yang notabene tidak baku, karena dengan begitu, nuansa Betawi dalam sajak-sajaknya akan lebih hidup. Kesadaran ini kemudian dituangkan dalam sajaknya yang berjudul “Declare 1”: “Puisiku tak bermazhab- sebagaimana sastra umumnya dikenal… -mungkin bagimu –inilah lelucon norak yang datang dari zaman gaduh –lahir karena salah urat yang dikirim angin puting beliung…”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali kepada tradisi berarti berusaha kembali memahami diri sendiri, dan langkah Akhmad Fikri AF untuk kembali kepada ‘akar’nya patut kita acungi jempol, dengan usahanya menelurkan buku ini, Akhmad Fikri bukan hanya berhasil menemukan akarnya saja, tetapi ia juga berhasil meneriakkan seruan Back To Betawi dan berhasil mengeksplorasi kosmologi Betawi secara puitik. [*]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;)* Oleh: Badrul Munir Chair, pecinta sastra, bergiat di Komunitas Matapena dan Masyarakat Bawah Pohon Yogyakarta&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2226946536626198142-2916187629446450164?l=badrulmunirchair.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://badrulmunirchair.blogspot.com/feeds/2916187629446450164/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2226946536626198142&amp;postID=2916187629446450164' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2226946536626198142/posts/default/2916187629446450164'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2226946536626198142/posts/default/2916187629446450164'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://badrulmunirchair.blogspot.com/2010/03/resensi-buku-kong-draman.html' title='RESENSI BUKU &quot;KONG DRAMAN&quot;'/><author><name>Badrul Munir Chair</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10794972918990290806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/SvRBYFHUwnI/AAAAAAAAAM0/tYQVcUVGv_E/S220/Ikalkuikalku.bmp'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/S4vAauA2g9I/AAAAAAAAAN0/4Nf0nQYTBAI/s72-c/17555_1194240342156_1412870374_1192889_7143940_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2226946536626198142.post-5019864841613881</id><published>2010-03-01T05:20:00.000-08:00</published><updated>2010-12-06T01:26:16.901-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>TUHAN KECIL</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/S4u_XV60HFI/AAAAAAAAANs/f8frJjfMmMo/s1600-h/21555_1205981955689_1412870374_1217210_2766274_a.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 180px; height: 180px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/S4u_XV60HFI/AAAAAAAAANs/f8frJjfMmMo/s200/21555_1205981955689_1412870374_1217210_2766274_a.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5443654982349102162" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TUHAN KECIL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan kecil&lt;br /&gt;Tuhan kecil&lt;br /&gt;seperti itulah takdir&lt;br /&gt;seperti air yang mengalir&lt;br /&gt;pada sungai-sungai&lt;br /&gt;dalam perjalanan menuju akhir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam jemarimu&lt;br /&gt;kau genggam kenangan seerat rindu&lt;br /&gt;Jejak langkahmu&lt;br /&gt;tak lagi membau dalam jemari kaki-kakiku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kau kehilir&lt;br /&gt;aku akan menyusulmu ke hulu&lt;br /&gt;di pertengahan bumi kita akan bertemu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak kau lahir&lt;br /&gt;ketika pecah air mata&lt;br /&gt;menjelma remaja&lt;br /&gt;mengembara&lt;br /&gt;hingga sudut kota-kota&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena dalam matamu&lt;br /&gt;tersimpan lelapku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerak bibirmu&lt;br /&gt;adalah diamku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senyum diwajahmu&lt;br /&gt;adalah dukaku yang bertamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan kecil&lt;br /&gt;Tuhan kecil&lt;br /&gt;redupkan suaraku yang menggigil&lt;br /&gt;agar lenyap fa'il&lt;br /&gt;menuju dhomir&lt;br /&gt;(Yogyakarta, februari 2010)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2226946536626198142-5019864841613881?l=badrulmunirchair.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://badrulmunirchair.blogspot.com/feeds/5019864841613881/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2226946536626198142&amp;postID=5019864841613881' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2226946536626198142/posts/default/5019864841613881'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2226946536626198142/posts/default/5019864841613881'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://badrulmunirchair.blogspot.com/2010/03/tuhan-kecil.html' title='TUHAN KECIL'/><author><name>Badrul Munir Chair</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10794972918990290806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/SvRBYFHUwnI/AAAAAAAAAM0/tYQVcUVGv_E/S220/Ikalkuikalku.bmp'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/S4u_XV60HFI/AAAAAAAAANs/f8frJjfMmMo/s72-c/21555_1205981955689_1412870374_1217210_2766274_a.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2226946536626198142.post-2098236620799211892</id><published>2010-01-14T20:57:00.000-08:00</published><updated>2010-12-06T01:40:40.687-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ulasan'/><title type='text'>MEMBACA PUISI MEMBACA SENI</title><content type='html'>)* Catatan di bawah ini saya rangkum dari catatan Dato' Ahmad Kamal Abdullah Kemala, sastrawan Malaysia. Dalam salah satu esainya, beliau mengulas salah satu sajak saya (ulasan sajak saya tersebut akan saya cetak tebal).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEMBACA PUISI MEMBACA SENI MEMBUKA JENDELA HATI NURANI Dato’ Dr Ahmad Kamal Abdullah - Kemala Sarjana Tamu Universiti Putra Malaysia dato_kemala@yahoo.com &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca puisi yang dapat menyentuh hati nurani itu, seolah memperoleh Cinta sahih yang membahagiakan. Ia menjadi sahabat seakrab Rumi dengan Shams at-Tabrizi. Atau seperti Hafez yang menantikan bayangan kekasihnya muncul di hadapan jendela menyambut roti yang dipesan. Semenjak empat dekad yang lalu, inilah yang membuat saya bahagia dengan segugus puisi Rumi, Hafez, Amir Hamzah, Iqbal, Tagore, T.S. Eliot, Pablo Neruda, Chairil Anwar dan Usman Awang. Kebahagiaan itu muncul walaupun dalam saat-saat saya luka dan merintih dalam percintaan. Tuhan memberikan anugerah yang besar kepada hamba-Nya sang penyair itu, menjadi penyair (dan bukan sebagai presiden) mampu menggilap kata demi kata, menyusun metafora demi metafora menyempurnakan keajaiban imaginasi sehingga mengharmonis dalam stanza demi stanza lalu menimbulkan amsal-amsal yang mekar. Ungkapan dalam jalinan yang puitis itu kadang waktu dapat menitiskan air mataku atau melonjakkan semacam kegembiraan batiniah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentulah bukan hanya kerana bakat berbahasa sahaja yang dipunyai oleh Rumi, Hafez dan Tagore. Keluarbiasaan momentum yang mereka alami secara lahiri dan batini . Apa yang dapat dilihat oleh “kebistarian” kepenyairan mereka di sebalik sana yang memang menjadi hadiah dari Ilahi. Sebagai penyair atau pujangga ataupun sufi besar tazkiyyah an-nafs mereka tentu mengalami peringkat yang tinggi. Apalagi makam kepasrahan mereka kepada al-Khaliq sudah menggenggam makam Sabar, Faqir, Tawakal, Cinta dan Redho. Keindahan puisi atau qasidah atau masnawinya terjalin bagus bagai anyaman lagu qasidah yang ikut dinyanyikan oleh para pengikutnya yang setia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antara tawhid dan ibadah dan berlumba-lumba mengisi dada dengan ilmu pengetahuan adalah menjadi tuntutan ad-din, dan apabila semuanya sirna, namun Allah wujud Abadi: Apakah organisasi sosial, adat dan undang-undang? Apakah rahsia keganjilan sains? Kehendak yang menimbulkan dirinya dengan kekuatannya sendiri Dan meluru keluar dari hati dan mengadakan rupanya. Hidung, tangan, otak, mata dan telinga Begitu juga khayalan, perasaan, ingatan dan fahaman, Semua itu adalah senjata disediakan oleh Hidup untuk memelihara diri. Dalam perjuangannya tanpa henti-henti Matlamat sains dan kesenian bukanlah ilmu, Matlamat taman bukanlah kuntum dan bunganya, Sains adalah alat untuk memelihara Hidup. Sains adalah alat untuk menggegarkan diri, Sains dan kesenian adalah hamba Hidup. Hamba yang lahir dan beranak-pinak dalam rumahnya. Bangun, wahai anda yang tidak tahu rahsia hidup, Bangun mabuk dengan serbat cita-cita (ideal) Cita-cita bersinar seperti fajar sidik, Api yang membakar kepada semua yang lain dari Allah. (Menunjukkan Bahawa Hidup Diri Itu Datang Dari Pembentukan Cita-cita dan Menzahirkannya) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perkembangan puisi Nusantara mutakhir, penyair besarnya tidak lepas daripada menghirup suasana yang relijius , membawa suara batiniah yang murni memberikan sentuhan seni yang murni dengan membukakan jendela hati nurani. Amir Hamzah, Chairil Anwar, Usman Awang, Masuri S.N, Yahya M.S, Rendra, Sutardji Calzoum Bachri, Sapardi Djoko Damaono, Taufiq Ismail dan Abdul Hadi W.M (sebagai contoh).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hemat saya ada percubaan-percubaan yang meyakinkan sudah wujud dalam puisi penyair Nusantara mutakhir. Ini saya dasarkan pada dua buku ANTOLOGIA DE POETICAS (ADP) (2008) dan Antologi Musibah Gempa Padang (2009). Antologi pertama memuatkan puisi-puisi penyair Indonesia dan Malaysia dengan terjemahan dalam bahasa Portugis. Manakala antologi MGP memuatkan puisi penyair Indonesia, Malaysia dan Singapura. Selain puisi A.Samad Said, Usman Awang, Taufiq Ismail, Kemala, Sapardi Djoko Damono, Muhammad Haji Salleh, Baha Zain, Abdul Hadi WM dan Sutardji Calzoum Bachri ADP diterbitkan juga puisi dari penyair generasi baru seperti Acep Zamzam Noor, Sony Farid Maulana, Fatin Hamama, Rieke Dyah Pitaloka, Amien Wingsatalaja, Moh. Wan Anwar, Jamal D. Rahman, Aslan Abidin, Cecep Syamsul Hari, Fikar W. Eda, D. Kemalawati, Gus TF Sakai, Dorothea Rosa Herliany, manakala Malaysia muncul penyair generasi baru seperti Moehctar Awang, Siti Zainon Ismail, Lim Swee Tin, Marsli N.O., Zaen Kasturi, Hasyuda Abadi dan Rahimidin Zahari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antologi MGP menembungkan A Rahim Qahhar, Asep Sambodja, Rini Asmoro, Ahmad Najiullah Thaib, Kardy Syaid, Budhi Setyawan, Yo Sugianto, Kirana Kejora, Yayan Triyansayah, Sarah Sarena, Jack Efendi, A. Rahman elHakim, Abdullah Khusairi, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Badrul Munir Chair&lt;/span&gt;, Rama Prabu, Viddy AD Daery, Sepri Handayani, Amien Wangsitalaja, Doel CP Allisah, Harsandi Nugraha, Kartika Kusworatri, Putri Pratama, Emmy Marthala, Silfi Hanani, Fitri Susila,Mokhtar Rahman, ratnaputri2, Benny Tjundawan, Indah ip, Muhammad Subhan, Pringadi Abdi Surya, Maulina Muzirwan, Happy Muslim, Zera, Jun An Nizami, Mimin, Anugrah Roby Syahputra, Fitriani Um Salva, Dwi Mita Yulianti, Zainal aka, Zahrul Bawady M.Daud (Indonesia). Malaysia diwakili Kemala, Akmal Jiwa, Airiel Uzayr, Hasyuda Abadi, Ramlan Abdul Wahab, Haizir Othman, Raja Rajeswari, Nilamsuri, Eziz Shukman, Kerisakti, Ahkarim, abdullahjones, Zek Marman, Ms. Mokhtar, Hasimah Haron, N. Faizal, Musalmah Mesra, Mohd Dahri Zakaria, AzmiRahman, Kalamutiara, Mokhtar Rahman, Yajuk, Lim Swee Tin, Haniff Romainoor, Teratakerapung, Wan Nur-Iliyani Wan Abu Bakar, An Bakri, Haimi Yahya &amp; Fairuz Sulaiman, HMS Abu Bakar, dan Irwan Abu Bakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab deretan penyairnya panjang, saya ingin memetik ungkapan mereka yang pada hemat saya istimewa, puitis dan asli di samping pengucapan mereka yang bersahaja tetapi meninggalkan kesan yang Indah dengan lapis makna yang dalam – yakni percubaan mengungkap rasa dari hati nurani mereka yang setulusnya. Daripada antologi Musibah Gempa Padang saya perturunkan beberapa puisi yang saya kira mewakili para penyair di dalamnya: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;SEPERTI SUNYI...SEPERTI KELABU KAIN KAFANMU &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Seperti kemarin , &lt;br /&gt;ketika pedati melewati kota kita&lt;br /&gt;kau ingin sekali menaikinya &lt;br /&gt;“aku ingin berkelana ke surga” katamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti saat ini,&lt;br /&gt;saat aku menatap bangkaimu,&lt;br /&gt;yang remuk tertimpa batu&lt;br /&gt;lalu aku tersuruk&lt;br /&gt;seperti sunyi di barzahmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Badrul Munir Chair&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disampaikan pada pertemuan penyair nusantara 2009, anjuran persatuan penulis nasional malaysia (pena), dewan bahasa dan pustaka pada 20-22 november 2009, Kuala Lumpur - Malaysia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2226946536626198142-2098236620799211892?l=badrulmunirchair.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://badrulmunirchair.blogspot.com/feeds/2098236620799211892/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2226946536626198142&amp;postID=2098236620799211892' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2226946536626198142/posts/default/2098236620799211892'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2226946536626198142/posts/default/2098236620799211892'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://badrulmunirchair.blogspot.com/2010/01/membaca-puisi-membaca-seni.html' title='MEMBACA PUISI MEMBACA SENI'/><author><name>Badrul Munir Chair</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10794972918990290806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/SvRBYFHUwnI/AAAAAAAAAM0/tYQVcUVGv_E/S220/Ikalkuikalku.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2226946536626198142.post-5865780294607371762</id><published>2010-01-13T05:59:00.000-08:00</published><updated>2010-12-06T01:27:56.320-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>BEBERAPA SAJAK PENDEK</title><content type='html'>Agus Noor (Cerpenis/Prosais)menyebutnya fiksi mini. Yakni fiksi, yang hanya terdiri dari secuil kalimat. Mungkin empat sampai sepuluh kata, atau satu paragrap. Tapi di sana kita beroleh  “keluasan dan kedalaman kisah”.&lt;br /&gt;Berikut beberapa sajak pendek saya yang bisa juga dikatakan sebagai Fiksi Mini;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;MUNAJAT&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;-sebelum terlelap-&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingin segera berangkat&lt;br /&gt;sebelum jasadku tersesat&lt;br /&gt;di liang lahat...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Yogyakarta, januari 2010)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;_________________________________&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;KEPADA HUJAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan...&lt;br /&gt;bisakah kau diam sejenak&lt;br /&gt;beri aku kesempatan tuk ucapkan salam setiaku pada malam&lt;br /&gt;atas nama sunyi yang mendekap tubuh ini&lt;br /&gt;melepas gigil yang menyayat bagai belati.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;(Yogyakarta, Mei 2009)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;_________________________________&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;RAMALAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esok siang&lt;br /&gt;rembulan akan tenggelam...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Yogyakarta, januari 2010)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;_________________________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;MENJELANG KEMATIAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah kalian malaikat?&lt;br /&gt;tunggu sebentar, saya mau sholat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bilang sama Tuhan&lt;br /&gt;tutup pintu rapat-rapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Yogyakarta, januari 2010)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;_________________________________&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2226946536626198142-5865780294607371762?l=badrulmunirchair.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://badrulmunirchair.blogspot.com/feeds/5865780294607371762/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2226946536626198142&amp;postID=5865780294607371762' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2226946536626198142/posts/default/5865780294607371762'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2226946536626198142/posts/default/5865780294607371762'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://badrulmunirchair.blogspot.com/2010/01/beberapa-sajak-pendek.html' title='BEBERAPA SAJAK PENDEK'/><author><name>Badrul Munir Chair</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10794972918990290806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/SvRBYFHUwnI/AAAAAAAAAM0/tYQVcUVGv_E/S220/Ikalkuikalku.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2226946536626198142.post-1503123225459439817</id><published>2010-01-04T20:13:00.000-08:00</published><updated>2010-12-06T01:41:28.216-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ulasan'/><title type='text'>BUKU MUSIBAH GEMPA PADANG</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/S0K99OMSgvI/AAAAAAAAANc/poDioeB0VOY/s1600-h/PADANG_n.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 146px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/S0K99OMSgvI/AAAAAAAAANc/poDioeB0VOY/s200/PADANG_n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5423105760786809586" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MUSIBAH GEMPA PADANG [ANTOLOGI PUISI PENYAIR NUSANTARA]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Editor : Dato’ Dr.Ahmad Khamal Abdullah [Kemala]&lt;br /&gt;Penerbit : eSastera/Marba – Kuala Lumpur&lt;br /&gt;Percetakan : BS Print [M] Sdn.Bhd, Kuala Lumpur&lt;br /&gt;ISBN : 978-967-5043-17-8&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PARA PENULIS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Kemala -Akmal Jiwa -Airiel Uzayr -Silfia Hanani -Ahmad Kekal Hamdani-Asep Sambodja&lt;br /&gt;-Hasyuda Abadi -Shahrul Nizam -Benny Tjundawan -Rini Asmoro -Ramlan Abd.Wahab -Ahmad Najiullah Thaib -Haizir Othman -Mokhtar Rahman -Kardy Syaid -Kirana Kejora -M.Faizal Ghozali -Jun An Nizami -Zahrul Bawady M.Daud -Zainal aka -Muhammad Subhan -Sepri Handayani -Viddy AD Daery -Doel CP Allisah -Happy Muslim -A.Muziru Idham -Raja Rajeswari -Seetha Raman -Harsandi Nugraha &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;-Badrul Munir Chair &lt;/span&gt;-Nilamsuri -Zera [Gasim Baharun] -Budhi Setyawan -Sarah Sarena -Ratnaputri2 -Yayan R.Triyansayah -A.Rahman Al Hakim -Abdullah Khusairi -Rama Prabu -Mimin -Jack Efendi -Dr.Victor Pogadaev [Rusia] -Emmy Marthala -Arbak Othman -Maulina Muzirwan -Eziz Shukman -Kerisakti -Ahkarim -Zek Marman -Tangerang -Abdullah Jones -Ms.Mokhtar -Hasimah Harun -N.Faizal -Musalmah Mesra -Mohd.Dahri zakaria -Design Night -Azmi Rahman -Kalamutiara -Mokhtar Rahman -Yajuk -Anugrah Roby Syahputra -Pringadi Abdi Surya -Putri Pratama -Kartika Kusworatri -Lim Swee Tin -Haniff Romainoor -Teratakerapung -Wan Nur Ilyani -Wan Abu Bakar -Anbakri -Indah Ip -Elmi Zulkarnain -Haimi Yahya &amp; Fairuz Sulaiman -Juan Einriqie -Yo Sugianto -Fikar W.Eda -A.Rahim Qahhar -Azmi Rahman -HMS Abu Bakar -Fitriani Um Salva -Dwi MitaYulianti -Amien Wangsitalaja -Irwan Abu Bakar -Ahmad Khamal Abdullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah sajak saya yang terangkum dalam buku Musibah Gempa Padang;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;SEPERTI SUNYI...SEPERTI KELABU KAIN KAFANMU&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Seperti kemarin ,&lt;br /&gt;ketika pedati melewati kota kita&lt;br /&gt;kau ingin sekali menaikinya&lt;br /&gt;“aku ingin berkelana ke surga” katamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti saat ini,&lt;br /&gt;saat aku menatap bangkaimu,&lt;br /&gt;yang remuk tertimpa batu&lt;br /&gt;lalu aku tersuruk&lt;br /&gt;seperti sunyi di barzahmu&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Yogyakarta, 2009)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2226946536626198142-1503123225459439817?l=badrulmunirchair.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://badrulmunirchair.blogspot.com/feeds/1503123225459439817/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2226946536626198142&amp;postID=1503123225459439817' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2226946536626198142/posts/default/1503123225459439817'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2226946536626198142/posts/default/1503123225459439817'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://badrulmunirchair.blogspot.com/2010/01/buku-musibah-gempa-padang.html' title='BUKU MUSIBAH GEMPA PADANG'/><author><name>Badrul Munir Chair</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10794972918990290806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/SvRBYFHUwnI/AAAAAAAAAM0/tYQVcUVGv_E/S220/Ikalkuikalku.bmp'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/S0K99OMSgvI/AAAAAAAAANc/poDioeB0VOY/s72-c/PADANG_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2226946536626198142.post-176692399644621363</id><published>2009-11-05T22:15:00.000-08:00</published><updated>2011-05-01T21:34:37.068-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ulasan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Ruang Bertemu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-utIGQfJRc_I/Tb40VpBwXAI/AAAAAAAAAPo/GNbeI2bP1_I/s1600/cover%2Bbangkai.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 132px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-utIGQfJRc_I/Tb40VpBwXAI/AAAAAAAAAPo/GNbeI2bP1_I/s200/cover%2Bbangkai.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5601972532890590210" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Pengantar Kumpulan Cerpen bangkai dan Cerita-Cerita Kepulangan)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Ahmad Kekal Hamdani&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Menulis sastra adalah membangun ruang. Dari jagad kosmik yang menggelembung dalam diri menjadi sebuah ruang publik yang mau tidak mau akan membentuk keterpengaruhan ataupun keterlibatan. Manusia akan bertarung dengan gagasannya sendiri, berebut ruang gerak antara jagad gagasan dan bangunan-bangunan yang dibentuk oleh teks. Keduanya dapat berdiri secara mandiri, keduanya dapat berdampingan, dan keduanya dapat sama sekali lebur dan seakan tidak teridentifikasi (dalam hal ini manusia akan lebih arif menjadi penerima kebenaran pasif) dimana kemudian pembaca mendapatkan hak untuk membangun pengertiannya sendiri.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dan sastra adalah jagad yang lain. Sebuah multidimensi dimana setiap pembaca dapat saja merangkai dan melahirkan simulasinya sendiri tentang teks. Di mana antara penulis dan pembaca teks bertemu justru di ruang yang sama sekali berbeda. Penulis membentuk dirinya sendiri dan orang lain dalam teksnya, begitu sebaliknya pembaca membangun sebuah simalakrum bagi dirinya sendiri dimana dengan bebas -secara intensional maupun non intensional- bertemu dengan orang lain dalam jagad gagasan yang ia bangun dalam pemaknaan sebuah teks, sebuah ruang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca kumpulan cerpen Bangkai dan Cerita-cerita Kepulangan adalah memasuki sebuah kosmos yang unik. Di mana setiap cerita disusun secara acak dan tidak memiliki kesatuan tema yang sistematis antara cerita, seakan setiap bagiannya memiliki tata suryanya masing-masing.  Dalam Menggagas kepulangan misalnya, cerita &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Badrul Munir Chair&lt;/span&gt; ini membangun sebuah mitos yang sebenarnya tidak pernah ada. Akan tetapi atmosfer mitos itu sangat akrab sebab lahir dari dunia kita, setting alam yang lekat dengan keseharian manusia Indonesia. Pembaca akan terperangah dengan penyampaian lugas dan strategi kejut yang apik oleh Badrul Munir Chair dalam membangun ruang teksnya. Walau kejut itu tampil secara sederhana,  tapi justru di sinilah pembangunan teks itu dipertaruhkan dan ditawarkan menjadi sebuah pertemuan gagasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana dalam keseharian yang saya kenal, Badrul Munir Chair (sahabat saya yang tampan ini) memang suka usil! itu juga saya temui dalam cerpen-cerpennya yang suka menjebak pembaca, ke-Aku-an cerita yang ditawarkannya adalah keakuan yang menyesatkan. Maka janganlah cepat-cepat berspekulasi dan menyimpulkan jalan cerita sebelum anda benar-benar menyelesaikan bagian akhir dari ceritanya, namun juga jangan membaca hanya akhirannya saja, anda tidak akan merasakan manis keusilannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan Badrul Munir Chair, Y. Zavien Aundjand menempuh pembangunan cerita dengan diksi-diksi yang lebih rumit dan tema dengan gagasan yang cukup berat. Tampaknya ia memiliki kosmos yang membludak dan kebelet untuk di ejawantahkan menjadi sebuah teks. Meski terkadang di beberapa bagian struktur cerita nampak kacau, atau ia sedang menawarkan sebuah gagasan chaos, melampaui kestrukturan itu sendiri, coba misalnya ceritanya Wanita di Ujung Kelamin dan lima cerita lainnya, memiliki kerumitannya sendiri ala Zavin Aunjand. Zavin suka mempertentangkan gagasan agama dan realitas masyarakat, hal ini mungkin tidak lepas pada fokus kajiannya yang memang dekat dengan perbandingan agama. Kekritisannya mewakili ruang gagasan dalam ceritanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah sekelumit dari Bangkai dan Cerita-cerita Kepulangan, selebihnya pembaca memiliki ruang yang sangat luas untuk mengapresiasi dan saling bertemu dalam jagad gagasan yang ditawarkan oleh cerita-cerita dalam buku ini. Begitupun ragam warna, setiap entitas cerita, setiap individu atau manusia memiliki kebebasannya, kemerdekaannya membangun ruang. Dan akhirnya, selamat bertemu di ruang Bangkai dan Cerita-cerita kepulangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Yogyakarta, 2009&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Ahmad Kekal Hamdani, penyair kelahiran Jember, karya-karyanya tersebar di berbagai media massa Indonesia. Sahabat, saudara satu akar Badrul Munir Chair di Masyarakat Bawah Pohon Yogyakarta.&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2226946536626198142-176692399644621363?l=badrulmunirchair.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://badrulmunirchair.blogspot.com/feeds/176692399644621363/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2226946536626198142&amp;postID=176692399644621363' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2226946536626198142/posts/default/176692399644621363'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2226946536626198142/posts/default/176692399644621363'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://badrulmunirchair.blogspot.com/2009/11/ruang-bertemu.html' title='Ruang Bertemu'/><author><name>Badrul Munir Chair</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10794972918990290806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/SvRBYFHUwnI/AAAAAAAAAM0/tYQVcUVGv_E/S220/Ikalkuikalku.bmp'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-utIGQfJRc_I/Tb40VpBwXAI/AAAAAAAAAPo/GNbeI2bP1_I/s72-c/cover%2Bbangkai.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2226946536626198142.post-3202626442391339072</id><published>2009-10-17T22:53:00.000-07:00</published><updated>2010-12-06T01:42:16.058-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Sajak Possesif Laki-Laki Yang Bukan Penyair</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;MUNGKIN NANTI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;-Sajak Possesif Laki-Laki Yang Bukan Penyair-&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin nanti, jika kau menikah dengan lelaki yang bukan aku, lalu aku menghadiri resepsimu, aku akan menyaksikanmu duduk mesra bersama suamimu di pelaminan, sementara aku duduk gelisah diantara tamu-tamu undangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kursi itu, mungkin aku akan termenung menyesali kebodohanku yang terlambat meminangmu, lalu aku akan teringat dengan hari-hari indah kita, saat kita berjalan begitu mesra -seperti hari ini-.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari itu, sayangku...Mungkin aku akan membawa belati kecil yang kusimpan dalam saku, untuk kuhunuskan ke jantung suamimu -saat aku hendak memberi ucapan selamat atas pernikahan kalian-, biar dia mampus sekalian, karena aku tak tahan terbakar api cemburu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka sayangku...&lt;br /&gt;sebelum hari itu benar-benar nyata, bersumpahlah padaku bahwa kau tidak akan menikah dengan lelaki selain aku, atau kau terkutuk menjadi perawan tua hingga ajalmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Yogyakarta, oktober 2009)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2226946536626198142-3202626442391339072?l=badrulmunirchair.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://badrulmunirchair.blogspot.com/feeds/3202626442391339072/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2226946536626198142&amp;postID=3202626442391339072' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2226946536626198142/posts/default/3202626442391339072'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2226946536626198142/posts/default/3202626442391339072'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://badrulmunirchair.blogspot.com/2009/10/sajak-possesif-laki-laki-yang-bukan.html' title='Sajak Possesif Laki-Laki Yang Bukan Penyair'/><author><name>Badrul Munir Chair</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10794972918990290806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/SvRBYFHUwnI/AAAAAAAAAM0/tYQVcUVGv_E/S220/Ikalkuikalku.bmp'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2226946536626198142.post-6134628997309642558</id><published>2009-09-04T10:09:00.000-07:00</published><updated>2010-12-06T01:27:20.535-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>DI ATAS KAPAL INI</title><content type='html'>DI ATAS KAPAL INI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;semburat awan tipis kita&lt;br /&gt;meliuk mesra menyapa nahkoda&lt;br /&gt;belantik menggoda memberi arah berbeda&lt;br /&gt;tak jelas timur juga utara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ketika kita bergetar&lt;br /&gt;mendengar alunan halus senar sitar&lt;br /&gt;saat kedua tubuh kita melingkar&lt;br /&gt;lalu mata kita bercakap nanar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hanya di atas kapal ini&lt;br /&gt;cinta kita berpeluk mesra&lt;br /&gt;karena sebentar lagi akan dermaga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Kamal-Yogyakarta, Juni-Agustus2009)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/SqFKXAvaC0I/AAAAAAAAALc/iPMSBPUEut4/s1600-h/grab.php.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 120px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/SqFKXAvaC0I/AAAAAAAAALc/iPMSBPUEut4/s200/grab.php.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5377661189253368642" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2226946536626198142-6134628997309642558?l=badrulmunirchair.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://badrulmunirchair.blogspot.com/feeds/6134628997309642558/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2226946536626198142&amp;postID=6134628997309642558' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2226946536626198142/posts/default/6134628997309642558'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2226946536626198142/posts/default/6134628997309642558'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://badrulmunirchair.blogspot.com/2009/09/di-atas-kapal-ini.html' title='DI ATAS KAPAL INI'/><author><name>Badrul Munir Chair</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10794972918990290806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/SvRBYFHUwnI/AAAAAAAAAM0/tYQVcUVGv_E/S220/Ikalkuikalku.bmp'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/SqFKXAvaC0I/AAAAAAAAALc/iPMSBPUEut4/s72-c/grab.php.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2226946536626198142.post-7618695684479220721</id><published>2009-08-11T06:30:00.000-07:00</published><updated>2010-12-06T01:34:45.786-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>BANGKAI</title><content type='html'>BANGKAI&lt;br /&gt;-Cerpen Badrul Munir Chair -&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa lagi yang kau harapkan dari jasad kekasihmu yang telah mati?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Galua selalu terngiang ucapan sahabatnya tempo hari “apa yang di harapkan dari jasad tanpa nyawa?”, Galua mulai ragu dengan apa yang dulu pernah di yakininya, bahwa rasa cinta akan mampu menghidupkan seeorang belahan jiwa yang telah tiada. Di tatapnya sosok jasad kekasihnya yang di simpannya sejak tujuh hari lalu. Galua mulai putus asa, keajaiban yang dinanti-nantikannya selama seminggu ini tampaknya adalah impian kosong, harapan yang mustahil di wujudkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah sebaiknya ku kuburkan saja?”,  terbesit keraguan dalam hati Galua, di tatapnya jasad kekasihnya dari ujung kepala hingga kakinya.&lt;br /&gt;Gapia, sahabat Galua sudah mengingatkan Galua untuk segera menguburkan jasad Pamia. Gapia lah satu-satunya sahabat kepercayaan yang mengetahiu perihal penyimpanan jasad Pamia, bahkan berita kematian Pamia belum tersebar kemana-mana, hanya mereka berdua yang mengetahui perihal dan sebab kematian Pamia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu lalu, ketika mereka bertiga asyik bercengkrama di sekitar pohon mangga, Pamia bercerita tentang masa kecilnya, saat itu Pamia masih bisa tertawa bahagia, Gapia dan Galua ikut tertawa mendengarkan cerita kocak Pamia. Hingga tak terasa hari beranjak senja, kematian mengintai Pamia. Secara tiba-tiba, Pamia yang hendak berdiri untuk bergegas pulang jatuh dan pingsan seketika, Gapia dan galua panik menyaksikan Pamia yang sudah tak menghembuskan nafasnya. Begitulah kematian, secepat itu datang, tanpa di sangka-sangka dan tidak memberi kabar sebelumnya.&lt;br /&gt;Galua tak Percaya bahwa Pamia kekasihnya telah tiada, dia meyakinkan diri bahwa Pamia hanya pingsan biasa dan besok akan kembali sadar seperti biasa. Namun disisi lain, hatinya putus asa karena dirasakannya denyut nadi Pamia telah terhenti. Gapia berusaha menguatkan hati sahabatnya. Akhirnya mereka sepakat untuk merahasiakan peristiwa itu dan menunggu tiga hari untuk memastikan bahwa Pamia benar-benar mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga hari yang di nanti, kondisi Pamia tak jua menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Sejak  itulah Gapia dan Galua berselisih. Gapia ingin supaya jasad Pamia segera di kuburkan, Galua merasa kasihan melihat kondisi tubuh Pamia yang mulai mengeluarkan bau tak sedap. Namun, Galua bersikeras untuk menyimpan jasad kekasihnya karena dia yakin akan adanya keajaiban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang kau harapkan dari jasad kekasihmu yang telah mati?” Gapia membentak Galua, namun Galua hanya menangis dan memohon kepada Gapia untuk mengijinkannya mengawetkan jasad Pamia dan meminta terus merahasiakan kematian Pamia.  Akhirnya Gapia mengalah, dengan berat hati mengijinkan Galua mengawetkan jasad Pamia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ketujuh kematian Pamia…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gapia mendatangi rumah Galua, saat sisa-sisa embun masih menempel di dedaunan, saat ayam-ayam berkokok bersahutan. Kali ini Gapia ingin memaksa Galua untuk menguburkan jasad Pamia hari ini juga, dia khawatir jika semakin lama Galua menyimpan jasad Pamia maka penduduk desa akan mengetahui rahasia mereka. Namun, tidak di dapatinya Galua di dalam rumahnya, Gapia yakin bahwa Galua sedang berada di gudang tempat penyimpanan jasad Pamia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/SoFzh6ACg2I/AAAAAAAAALU/VvzocdeEqFE/s1600-h/burungaj0.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/SoFzh6ACg2I/AAAAAAAAALU/VvzocdeEqFE/s200/burungaj0.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5368699257144640354" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibukanya pintu gudang perlahan, samar-samar dilihatnya Galua yang sedang tertidur, duduk dikursi samping tempat tidur dimana jenazah Pamia di semayamkan, didekatinya tubuh sahabatnya itu, namun Gapia sangat terkejut ketika melihat tangan kanan Galua yang berada di atas liang kewanitaan Pamia, ya, dia dengan jelas melihat Galua sedang mengelus kemaluan Pamia.  Gapia serasa tak percaya, dikucek-kuceknya matanya untuk meyakinkan bahwa dirinya benar-benar sadar, dan yang dilihatnya saat ini adalah nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditariknya kerah baju Galua yang sedang tidur, dihantamnya wajah Galua tanpa ampun, dipukulnya berkali-kali, Galua yang masih belum sepenuhnya sadar menjadi sasaran empuknya. Sementara, Galua kebingungan, ada apa gerangan dengan sahabatnya ini, Galua mulai berusaha melawan, namun tenaganya tak terlalu maksimal karena dia baru bangun tidur. Dirasakannya hantaman Gapia semakin menjadi-jadi. “Jadi ini yang membuatmu ingin mengawetkan jenazah Pamia, hah?, kau hanya membutuhkan kemaluannya untuk kepuasan nafsu bejatmu itu?”. Gapia membanting tubuh Galua, ditinggalkannya tubuh Galua yang sudah tak berdaya karena beberapa kali pukulannya, Gapia meninggalkan rumah itu dengan sejuta serapah yang keluar dari mulutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gapia merenung di teras rumahnya, diingatnya saat-saat indah dahulu bersama Pamia, saat mereka masih mesra berjalan bergandengan hanya berdua, saat Galua masih tinggal di kota sebelum akhirnya pindah ke kampung mereka, saat itu Pamia sering berkata manja padanya, dan sebaliknya Gapia sering mengucapkan kata-kata mesra. Mereka sering berjalan berdua menikmati senja, duduk di pohon mangga, melewati perkampungan dibumbui siulan nakal tetangga. Namun, Gapia tidak pernah bisa mengungkapkan rasa cintanya secara langsung pada Pamia. Hingga akhirnya Galua yang baru datang dari kota berkenalan dengan mereka dan mulai mengusik kebersamaan mereka, mulai sering berjalan bertiga menikmati senja bersama, merekapun bersahabat. Gapia tak pernah tahu jika Galua menyimpan rasa pada Pamia. Akhirnya, Galualah yang menyatakan cintanya terlebih dahulu, dan Pamia yang sudah lelah menunggu menerima kehadiran cinta Galua dalam hatinya, dan dirinya harus mengelah, merelakan Pamia jatuh kepelukan Galua. “Ah, mungkin salahku yang tak segera mengungkapkan cintaku, hingga Pamia lelah menunggu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gapia terus merenung ketika sengatan matahari semakin menggila, dia tak habis pikir dengan jalan pikiran Galua, “apakah Galua menyimpan jenazah Pamia hanya untuk menikmati  tubuh tak berdaya Pamia?”, itulah pikiran yang kini menyelimuti hatinya, “ah tampaknya tidak mungkin, tadi Galua sedang tidur, mungkin saja dia secara tidak sadar mengelus kemaluan Pamia”. Gapia mulai menyesali perbuatannya, karena dengan gegabah telah memukul sahabatnya, “ah, aku terlalu cepat mengambil keputusan, ini hanya salah paham”. Gumpalan rasa sesal berkecamuk dalam hatinya, dia mulai berpikir untuk kembali mendatangi rumah Galua dan meminta maaf padanya, “aku harus segera meminta maaf kepada Galua, sebelum semuanya terlambat” batinnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara di dalam gudang rumahnya, Galua yang babak belur karena pukulan Gapia menjadi bingung dengan perbuatan sahabatnya yang menyerangnya tiba-tiba, dia tak mengerti apa alasan sahabatnya, “mungkinkah Gapia marah karena aku tak segera menguburkan jasad Pamia?”, diingatnya kembali peristiwa penyerangan Gapia terhadap dirinya tadi pagi, diingatnya lagi kata-kata Gapia, akhirnya dia ingat bahwa Gapia menuduhnya bahwa dia menyimpan jasad Pamia hanya ingin menikmati kemaluannya, “ah, ini pasti salah paham, mungkin waktu tidur tadi aku tak sengaja memegang kemaluan Pamia”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Galua mengamati sosok jasad kekasihnya yang kaku dan mulai membiru, terkadang rasa kasihan timbul di hatinya, Galua mulai berpikir untuk segera menguburkan jasad Pamia dengan meminta bantuan Gapia dan meminta maaf padanya. Namun, niat sucinya urung di lakukan ketika Galua melihat gundukan daging kemaluan Pamia, dia mulai nafsu dan ingin mencoba kemaluan kekasihnya yang tak pernah dinikmatinya ketika masih hidup, “ada baiknya jika sebelum ku kuburkan, kunikmati dulu kemaluannya, aku sangat ingin tahu bagaimana rasanya?”. Otaknya berpikir semakin kotor, Galua mulai membuka celana dalamnya, di elusnya kemaluan Pamia yang tek berdaya beberapa kali, lalu Galua mulai mengarahkan kemaluannya yang sudah menegang ke arah kemaluan Pamia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brakkk!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gapia menerjang pintu gudang yang dari tadi telah di awasinya, tadinya Gapia memang ingin meminta maaf pada Galua, namun Gapia harus mengintip gudang terlebih dahulu untuk memastikan bahwa Galua ada didalamnya dan tidak merencanakan balas dendam padanya. Namun Gapia merasa heran ketika dia menyaksikan Galua yang sedang membuka celana dan mengarahkan kemaluannya pada kemaluan Pamia, Gapiapun mendobrak pintu gudang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bangsat!!!, sudah seberapa kotor otakmu hingga kau menyetubuhi jasad kekasihmu yang sudah mati, apa kau sudah gila, hah?” Gapia berkata dengan geramnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“kau salah paham Gapia, aku hanya…aku hanya…” kata-kata Galua terhenti di tenggorokannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa pikir panjang, Gapia menghantam tubuh Galua yang sudah babak belur karena hantamannya tadi pagi. Dhebb, dengan garang dipukulnya tubuh Galua membabi buta, namun kini Galua tak hanya diam saja. Jblakkk, dibalasnya pukulan Gapia dengan terjangan-terjangan kakinya, Galua tak kalah membabi buta. Mereka terus bergelut terbawa emosi, saling pukul, saling terjang, pukulan-pukulan telak saling berbalas di seluruh anggota tubuh mereka. Duel diantara mereka berlangsung sangat lama, tak ada tanda-tanda salah satu pihak ingin segera mengahirinya, hingga akhirnya mereka sama-sama tak berdaya, mereka berdua menghembuskan nafas terakhirnya hamper bersamaan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sore hari, segerombolan bocah kecil bermain bola di tanah lapang dekat pekarangan sebuah rumah yang sudah lama ditinggal penghuninya, mereka saling berkejaran penuh kegembiraan. Namun, tendangan seorang yang paling jangkung diantara mereka menyangkutkan bola di pohon mangga depan rumah yang telah lama ditinggal penghuninya itu, seorang bocah kecil berambut klimis mengajukan diri untuk memanjat pohon mangga itu, mengambil bola mereka, bocah kecil itu mulai naik dan bolanya tinggal beberapa ranting saja dari tangannya, namun ia tergoda ketika melihat sarang burung di atas bola yang nyangkut itu. Diambilnya sarang yang nampak berat, dilihatnya isinya, tiba-tiba bocah kecil itu berteriak karena dilihatnya tiga bangkai burung dalam sarang itu, dua burung yang darahnya masih terlihat baru dan satu burung lagi yang sudah busuk dan tubuhnya membiru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Yogyakarta, 2009)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2226946536626198142-7618695684479220721?l=badrulmunirchair.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://badrulmunirchair.blogspot.com/feeds/7618695684479220721/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2226946536626198142&amp;postID=7618695684479220721' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2226946536626198142/posts/default/7618695684479220721'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2226946536626198142/posts/default/7618695684479220721'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://badrulmunirchair.blogspot.com/2009/08/bangkai-cerpen-badrul-munir-chair-apa.html' title='BANGKAI'/><author><name>Badrul Munir Chair</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10794972918990290806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/SvRBYFHUwnI/AAAAAAAAAM0/tYQVcUVGv_E/S220/Ikalkuikalku.bmp'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/SoFzh6ACg2I/AAAAAAAAALU/VvzocdeEqFE/s72-c/burungaj0.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2226946536626198142.post-2562565649512817867</id><published>2009-08-11T05:26:00.000-07:00</published><updated>2010-12-06T01:28:56.991-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>TIGA PELACUR</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;TIGA PELACUR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;ada tiga pelacur menghampiriku;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pelacur pertama menawariku kenikmatan&lt;br /&gt;pelayanan penuh yang akan diberinya dalam waktu satu malam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pelacur kedua mengumbar cinta&lt;br /&gt;menawariku surga dalam waktu hanya satu jam saja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pelacur ketiga tak menjanjikan apa-apa&lt;br /&gt;datang tanpa busana dan memintaku membuka celana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ketiga pelacur itu sama-sama mempesona&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-kata ustadz aku harus adil&lt;br /&gt;karena adil adalah perintah Allah&lt;br /&gt;yang tertera dalam Alquran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ketiga pelacur itu menunggu jawabanku&lt;br /&gt;memaksaku memilih salah satu&lt;br /&gt;atau mereka akan memperkosaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/SoFkhDZhRII/AAAAAAAAAK0/nfvldqns_ng/s1600-h/tigapelacur.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/SoFkhDZhRII/AAAAAAAAAK0/nfvldqns_ng/s200/tigapelacur.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5368682749813146754" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-tapi aku harus adil&lt;br /&gt;tak boleh memihak&lt;br /&gt;karena memihak berarti khianat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;karena terlalu lama menunggu jawabanku&lt;br /&gt;ketiga pelacur itu mulai mengikat tanganku&lt;br /&gt;...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(apa yang akan kau lakukan jika hal ini terjadi padamu?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Yogyakarta, 27 juli 2009&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2226946536626198142-2562565649512817867?l=badrulmunirchair.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://badrulmunirchair.blogspot.com/feeds/2562565649512817867/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2226946536626198142&amp;postID=2562565649512817867' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2226946536626198142/posts/default/2562565649512817867'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2226946536626198142/posts/default/2562565649512817867'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://badrulmunirchair.blogspot.com/2009/08/tiga-pelacur.html' title='TIGA PELACUR'/><author><name>Badrul Munir Chair</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10794972918990290806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/SvRBYFHUwnI/AAAAAAAAAM0/tYQVcUVGv_E/S220/Ikalkuikalku.bmp'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/SoFkhDZhRII/AAAAAAAAAK0/nfvldqns_ng/s72-c/tigapelacur.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2226946536626198142.post-4207563840250416036</id><published>2009-07-24T06:24:00.000-07:00</published><updated>2011-01-31T22:44:15.349-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ulasan'/><title type='text'>SUSAHNYA MEMPERTAHANKAN MAHKOTA</title><content type='html'>SUSAHNYA MEMPERTAHANKAN MAHKOTA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak rambut saya ‘berubah lurus’ dua minggu lalu, ada kebiasaan buruk yang sangat tidak saya sukai; saya selalu berkaca setelah bangun tidur setiap pagi. Saya merasa takut rambut saya menjadi berantakan seperti semula, semrawut dan tak beraturan. Saya menjadi tak tenang, tidur tak pernah nyenyak karena seringkali terjaga untuk merapikan rambut, mandi lebih hait-hati takut kalau air busa mengenai kulit kepala dan bisa merusak rambut saya, makan menjadi tak tenang karena seringkali si rambut jatuh kedepan menutupi mata saya, saya jadi takut keluar siang karena khawatir sinar matahari akan membuat rambut saya tak sehat. Pujian yang datang dari teman-teman (yang kata mereka; saya jadi lebih rapi dan bersahaja) membuat saya semakin jatuh hati dengan si rambut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/Smm3FY6JxpI/AAAAAAAAAKs/QrPO8SJXfzI/s1600-h/Rockstar.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/Smm3FY6JxpI/AAAAAAAAAKs/QrPO8SJXfzI/s200/Rockstar.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5362018134574876306" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, saya merasa hidup saya menjadi tak tenang, jauh dari bahagia karena seringkali merasa risih dan phobia, merasa takut kehilangan, tentu saja takut kehilangan si rambut -yang konon katanya lebih mahal dari sebuah mahkota-.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu saya bertanya-tanya; berapa mahal sebuah mahkota? Dan saya menemukan jawabannya tak terlalu lama, ketika saya menyaksikan sebuah berita dalam layar kaca, saya jadi tahu betapa saat ini sebuah mahkota (masih) sedang diperebutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaca pada peristiwa pemilu lalu, betapa mahalnya harga sebuah mahkota (baca: tahta), hingga masih menyisakan bermacam konflik di negeri ini, entah (katanya) pemilu kemarin sangat tidak sehat –hingga masih menimbulkan berbagai tanya tentang kemenangan mutlak (dan mudah) sang presiden lama-, tentang seorang tokoh yang masih tidak dapat menerima kekalahannya, pengakuan sang terpilih yang seringkali mendapat teror setelah kemenangannya, serta berbagai macam masalah lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi sangat penasaran; apa sih enaknya menjadi pemimpin? -hingga untuk mendapatkannya ‘harus’ mengeluarkan uang berjuta-juta-, apa mereka bisa bahagia setelah menjadi “yang terpilih”? ataukah…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, saya tak paham soal itu, memikirkan rambut saja saya sudah kelabakan hingga tak enak makan, apalagi menjadi pemimpin negeri ini, pasti saya tidak akan pernah tidur nyenyak selama lima tahun, saya pasti khawatir jika sewaktu-waktu ada orang jahat yang akan merebut jabatan saya, saya akan selalu berhati-hati kalau-kalau ada penyusup yang akan membunuh saya saat tidur, saya tak akan enak makan takut-takut makanan tersebut sudah di racun oleh orang yang tidak suka dengan saya. Ah, entahlah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya, saya tak akan pernah mau jika ditawari menjadi presiden, saya lebih bahagia menjadi seorang mahasiswa, karena sewaktu-waktu bisa mendemonstrasi pemimpin negeri ini, dan besok saya akan ke salon, membenahi rambut saya yang sudah agak berantakan, tolong ingatkan saya jika saya lupa.&lt;br /&gt;(Yogyakarta, 21 juli 2009)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2226946536626198142-4207563840250416036?l=badrulmunirchair.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://badrulmunirchair.blogspot.com/feeds/4207563840250416036/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2226946536626198142&amp;postID=4207563840250416036' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2226946536626198142/posts/default/4207563840250416036'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2226946536626198142/posts/default/4207563840250416036'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://badrulmunirchair.blogspot.com/2009/07/susahnya-mempertahankan-mahkota.html' title='SUSAHNYA MEMPERTAHANKAN MAHKOTA'/><author><name>Badrul Munir Chair</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10794972918990290806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/SvRBYFHUwnI/AAAAAAAAAM0/tYQVcUVGv_E/S220/Ikalkuikalku.bmp'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/Smm3FY6JxpI/AAAAAAAAAKs/QrPO8SJXfzI/s72-c/Rockstar.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2226946536626198142.post-6084290120808910230</id><published>2009-05-31T17:59:00.000-07:00</published><updated>2010-12-06T01:35:27.647-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Tiga Puisi Dengan Huruf Hijaiyah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/ShQVbNrFvpI/AAAAAAAAAJ0/1uj1uOuxzP4/s1600-h/4.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 156px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/ShQVbNrFvpI/AAAAAAAAAJ0/1uj1uOuxzP4/s200/4.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5337915015611924114" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;SYIN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Syin…&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Dalam maknamu ku eja batin&lt;br /&gt;Ajarkan ilmu tentang yakin&lt;br /&gt;Melepas ikatan jiwa-jiwa lain &lt;br /&gt;Dalam merdu alunan zafin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerontang jiwaku mulai terisi&lt;br /&gt;Ternisbatkan sabda-sabda nabi&lt;br /&gt;Buang benci yang terperi dalam diri&lt;br /&gt;Ikuti petunjuk kitab suci&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Syin…&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Saat Isrofil memangku nyawa&lt;br /&gt;Menjemputku di malam buta&lt;br /&gt;Angkut aku menuju cahaya&lt;br /&gt;Yang kau baca menjelang senja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Syin…&lt;br /&gt;(Yogyakarta, 12 mei 2009)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;-Dalam namanama Nuun...-&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih kudengar&lt;br /&gt;gemerisik desah kalam-kalam yang kau lantunkan padaku&lt;br /&gt;mengikis ruang-waktu yang sendu terdiam menunggu, dalam resam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Nuun...&lt;br /&gt;Wal qalami wamaa yasturuun...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabarkan padaku tentang Isa, tentang Musa, tentang Yahya, tentang siapa saja yang membuatku lupa akan cerita-cerita dari negeri khayal, yang menghantuiku dengan sosok tanpa nama, tanpa suara, tanpa apa saja yang membuatku lupa akan segala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nuun...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desah alunan kalam itu masih jelas ku dengar&lt;br /&gt;dalam parau malam yang mendekapku kelelahan&lt;br /&gt;mengenang nama yang tak bisa hilang&lt;br /&gt;namanama cinta&lt;br /&gt;namanama sabda&lt;br /&gt;namanama yang tergores pena dalam jantung dada&lt;br /&gt;namanama apa saja selama masih ada tanda dalam kalammu&lt;br /&gt;terbang menghapus kelam&lt;br /&gt;dalam deruku yang kian hitam...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nuun...&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Yogyakarta, 31 mei 2009)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;IRAMA-IRAMA ALIFMU&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh dalam palung alifmu&lt;br /&gt;Aku terbenam&lt;br /&gt;Luluh kelam...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jatuhkan tetesan hujan&lt;br /&gt;Larut redam dalam kalam&lt;br /&gt;Hitam kelam dalam malam&lt;br /&gt;Dan kutahu mimpiku terlalu singkat&lt;br /&gt;Untuk selalu dendangkan irama alifmu, bulan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hujan larut malam&lt;br /&gt;Aku tenggelam&lt;br /&gt;Hingga tak sempat kuucapkan “selamat malam”&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Yogyakarta, 06 juni 2009)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2226946536626198142-6084290120808910230?l=badrulmunirchair.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://badrulmunirchair.blogspot.com/feeds/6084290120808910230/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2226946536626198142&amp;postID=6084290120808910230' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2226946536626198142/posts/default/6084290120808910230'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2226946536626198142/posts/default/6084290120808910230'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://badrulmunirchair.blogspot.com/2009/05/dalam-namanama-nuun.html' title='Tiga Puisi Dengan Huruf Hijaiyah'/><author><name>Badrul Munir Chair</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10794972918990290806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/SvRBYFHUwnI/AAAAAAAAAM0/tYQVcUVGv_E/S220/Ikalkuikalku.bmp'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/ShQVbNrFvpI/AAAAAAAAAJ0/1uj1uOuxzP4/s72-c/4.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2226946536626198142.post-6776292215512358644</id><published>2009-05-24T19:49:00.000-07:00</published><updated>2011-01-31T22:34:55.002-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ulasan'/><title type='text'>Sepenggal Cerita "World Book Day 2009"</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Catatan sang musyafir: Badrul Munir Chair&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Part I: Cerita Keberangkatan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Nanti kita kumpul di stasiun Tugu jam 17:30, kereta berangkat jam 18:00.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah SMS masuk ke inbox HP saya, sebuah pesan singkat dari Mbak Pijer, ketua rombongan kami dalam perjalanan menuju Jakarta. Akhirnya, kami jadi berangkat hari jum’at, setelah sebelumnya ditunda dari jadwal sebelumnya kamis sore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17:28 Saya sampai di stasiun Tugu, menunggu di sepan pintu masuk seperti yang telah dijanjikan sebelumnya. Namun, setelah di tunggu beberapa lama, ternyata tak ada satupun dari anggota rombongan yang kelihatan. Saya mencoba menghubungi kembali Mbak Pijer, ternyata mbak Pijer masih berada dalam perjalanan, akhirnya saya disuruh menghubungi Mbak Khilma yang katanya sudah berada di stasiun. Begitulah, hingga akhirnya kami semua berkumpul di lobi jalur lima, tempat pemberangkatan kereta ekonomi menuju Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/ShoN6UJdrCI/AAAAAAAAAKU/aKXISyobj7U/s1600-h/101_1079.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/ShoN6UJdrCI/AAAAAAAAAKU/aKXISyobj7U/s200/101_1079.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5339595603693120546" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18:30 Terlambat setengah jam dari jadwal pemberangkatan, akhirnya kereta “Senja Utama” melaju perlahan, merangkak di atas rel yang penuh tumpukan bebatuan. Kami duduk pada posisi, menyerahkan tiket pada petugas. Baru beberapa menit kereta berjalan, salah satu anggota rombongan kami yang hanya empat orang, Mbak Khilma, sudah mengeluh lapar. Saya berbisik dalam hati “Dasar gendut!,yang dipikirin cuma makan, lihat tuh badan, besarnya sudah ga’  karuan ,untung dia manis” (hehehe, bacanya jangan keras-keras, ntar di dengar orangnya ^-^), demi satu orang dan atas nama kekompakan, akhirnya kami semua pun ikut makan. Nyam…nyam…nyam&lt;br /&gt;Kereta terus melaju…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berbincang-bincang mengenai acara besok, tentang persiapan pementasan dan memeriksa barang bawaan yang kira-kira di butuhkan. Setelah di cek, ternyata semua kebutuhan sudah ada dan tinggal pematangan dari para pemeran saja. Lalu, mbak Khilma bercerita tentang pengalamannya mengikuti World Book Day (WBD) dua tahun yang lalu (Nha…akhirnya tahu juga kemana tujuan rombongan kita), menurutnya, dua tahun lalu, tepatnya WBD 2007 termasuk perjalanan yang mewah, Why? Berbeda dengan dua tahun lalu yang perjalanan menuju Jakarta menggunakan travel, kali ini Matapena memilih kereta bisnis karena selain perjalanan di tempuh lebih cepat, tentunya juga lebih hemat. (Bukan berarti Matapena ngga’ punya uang lho, ini murni demi penghematan, mengingat masih banyak anak Indonesia yang kelaparan. Halah!!! Koq malah ceramah???), dan juga menginapnya di hotel berbintang (sabar…sabar…Tak ada hotel, stand pun jadi, hehehe) &lt;br /&gt;Setelah itu, kami lebih banyak bergelut dengan pikiran sendiri-sendiri, dan Faqih (nha..sudah genap empat orang) sudah terlebih dahulu terjun ke dunia mimpi,meninggalkan saya yang masih setia melihat bebatuan yang di lewati kereta, sementara, mbak Pijer dan Mbak Khilma masih sibuk bergosip ria. Entah jam berapa kami semua tertidur menyelami mimpi-mimpi maya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/ShoKv9Vpg0I/AAAAAAAAAJ8/3I7vi7CBKGs/s1600-h/101_1101.JPG"&gt;&lt;img style="float:left ; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/ShoKv9Vpg0I/AAAAAAAAAJ8/3I7vi7CBKGs/s200/101_1101.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5339592127236637506" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu, 16 mei 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;04:38 Kereta sampai di Stasiun Pasar Senen, pemberhentian terakhir kereta jurusan Jogja-Jakarta. Kami harus turun di stasiun itu, walaupun perjalanan menuju Jakarta kota (tempat tujuan kami) masih tinggal beberapa stasiun lagi. Akhirnya kami turun dan memutuskan untuk sholat shubuh dan mandi. Begitulah, kami mandi dan sholat bergantian karena harus ada yang menjaga barang bawaan. Setelah itu, mbak Pijer dan mbak Khilma meninggalkan kami berdua (saya dan Faqih) untuk mencari tiket KRL menuju stasiun kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;05:30 Kami masuk KRL yang sudah penuh dengan orang-orang Jakarta yang hendak berangkat bekerja, tampak sekali dari seragam mereka,bahkan kereta juga dipenuhi anak-anak berseragam SMA, untung saja kami bisa duduk semua. Ternyata, jarak antara Stasiun Pasar Senen menuju Stasiun Kota hanya di tempuh dalam waktu kurang dari limabelas menit saja. Dari stasiun Kota (setelah bingung bertanya sana-sini) akhirnya kami sampai juga di Museum Bank Mandiri tempat acara diselenggarakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Part II: Tentang Stand dan Keuntungan-keuntungan yang Kami Dapatkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;-Stand yang Berantakan (yang ini bukan keuntungan)-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;06:00-an Kami memasuki museum setelah sebelumnya mendapat izin dan pengarahan dari seorang satpam. Anjrit!!! Ternyata kondisi ruangan bakal kita mengadakan pameran masih sangat berantakan, komunitas-komunitas lain yang bakal ikut pameran masih belum pada datang (sebelum pementasan dari masing-masing komunitas pada hari minggu memang ada pameran karya atau kegiatan komunitas yang di langsungkan pada hari sabtu), tapi tak apalah, kita mempunyai kesempatan untuk melakukan persiapan lebih awal, “menang start coy!” horee…!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;08:30-an Stand kami “Rumah Kreatif Matapena" sudah rapi dan tampak megah daripada stand milik komunitas lain (sumpah brot! stand Matapena memang kelihatan sangat Mantab!!!). Namun, setelah di pikir-pikir melalui perenungan yang mendalam, nampaknya ada satu hal yang kurang, apa ya?, Waduh!!! Iya, perut kami keroncongan, akhirnya mbak Pijer, selaku ketua rombongan bertanggung-jawab dengan keluar mencari makan, tak lama kemudian makanan pun datang (paha ayam brot!, pagi-pagi dah dapat makanan yang menyehatkan) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengunjung pun mulai banyak yang berdatangan, mbak Khilma sibuk berpromosi menjelaskan pada para pengunjung yang nampak cerewet bertanya tanpa henti, untung saja mbak Khilma orangnya baik, jadi dia bisa memuaskan hati pengunjung yang datang ke stand kami. (ojo Ge-Er mbak!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-ada ibu-ibu yang memborong buku (keuntungan pertama)-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah lama menunggu keajaiban yang tak kunjung datang, akhirnya ada juga bidadari yang membeli buku di stand kami, “siapakah bidadari itu?”  Yupz, dari judul di atas pasti kalian langsung menebak bahwa bidadari itu adalah seorang ibu-ibu (wah, ngawur ni yang nulis, masa ibu-ibu di bilang bidadari sich? Dah rabun kali si Irul ini), eee…tunggu dulu, ibu-ibu itu memang benar-benar bidadari yang baik hati, selain beliau memborong sepuluh buku di stand kami, ternyata buku yang baru saja di belinya dari stand kami itu bakal di sumbangkan ke sebuah lembaga (setelah di desak,Ibu itu mengaku bahwa beliau adalah seorang donatur buku).  Salut bu!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-seorang penulis mengunjungi stand kami (keuntungan kedua)-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kejauhan, nampak keramaian orang yang membuat saya penasaran “ada apakah gerangan?”,  ternyata ada Gola Gong datang, ternyata beliau juga membuka stand “Rumah Dunia”. Tanpa di sangka-sangka dan secara tiba-tiba, muncul keberanian dalam jiwa saya untuk membawa mas Gola Gong mengunjungi stand Matepena, dan akhirnya…beliau berkenan, yess!!. Kami pun berfoto-foto dan mas Gola Gong memberi komentar terhadap Matapena “berani sekali ya kalian” (maksudnya, Matapena sebagai anak kemarin sore sudah sangat berani bersaing dengan komunitas lain disini). Uhuyyyy…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/ShoLWkoZhPI/AAAAAAAAAKE/uLVw9EmiJRk/s1600-h/101_1150.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/ShoLWkoZhPI/AAAAAAAAAKE/uLVw9EmiJRk/s200/101_1150.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5339592790619292914" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-seorang penyair “di paksa” melihat-lihat buku di stand kami (keuntungan ketiga)-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa bertele-tele dan tanpa banyak komentar, siapakah penyair yang beruntung berkunjung ke stand Matapena? (eh, salah!!! Yang bener: “Siapakah penyair yang telah merelakan waktunya untuk berkunjung ke stand Matapena?”) , jawabannya adalah: Sapardi Djoko Damono, wow!!!, yang ini bukan tanpa pengorbanan, kawan, ini benar-benar perjuangan, karena tanpa rasa malu, lagi-lagi si Irul yang jenius itu berhasil menggeret Sapardi ke stand Matapena (salut untuk Irul, “kamu memang hebat, Rul”). Kami tak menyia-nyiakan kesempatan ini dengan meminta foto bareng Sapardi di stand kebanggaan Matapena. Di akhir kunjungannya, kami mempersilahkan “mbah” Sapardi untuk memilih salah satu buku dari penerbit Matapena yang paling dia suka. (Mau tahu novel apa yang dipilih “mbah” Sapardi?, kirim e-mail kalian ke: eyoung_bmc@yahoo.co.id, jawaban yang akan kalian dapatkan adalah asli balasan dari penyair “Munajat Sunyi” )   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Part III: Tentang Malam dan Kedinginan yang Memeluk Kami&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya waktu menghempas kami melewati senja, menuju malam tanpa surya. (Aduh!!! Sok puitis nih si Irul, ah…ga’ romantis ah…) Para pengunjung sudah mulai meninggalkan stand-stand pameran, para peserta dan komunitas-komunitas bergegas mengemasi barang-barang mereka. Walaupun esok masih ada pameran , tetapi kebanyakan dari mereka (termasuk kami) memilih jalan aman dengan mengemasi barang-barang kami karena kami khawatir dengan keamanan di museum ini. Setelah itu, kami bergantian sholat dan mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19:00-an Kami bertiga (minim mbak Khilma yang menjaga stand) menuju Auditorium Museum untuk mengikuti kegiatan pentas seni antar komunitas. Pentas seni ini di mulai dengan intro musik dari KiamuK (Komunitas Rumah Dunia), kemudian komunitas-komunitas yang ambil bagian dalam WBD kali ini di beri kesempatan bergantian. Di mulai dari joged bersama yang di pandu MC (Anjrit! Kabur ah…), kemudian di lanjutkan oleh komunitas British Community, anak-anak Zahra, dan yang lainnya saya lupa (ya iyalah…orang yang tampil bejibun, masak mau di hafalin? Khan saya bukan wartawan, “emangnya mau bayar berapa nyuruh-nyuruh ngeliput dan menulis berita acara?” hehehe), hingga akhirnya KiamuK tampil membawakan musikalisasi puisi (ini yang saya tunggu-tunggu), di sela-sela penampilannya,  KiamuK mengadakan kuis yang berhadiah satu buah DVD album musikalisasi KiamuK “mencari pelangi”, KiamuK memberi pertanyaan tentang siapakah yang mendirikan Rumah Dunia? Nah, sebagai orang yang jenius dan “terkadang” taat beragama, saya tahu jawabannya dan mengacungkan tangan, dan akhirnya terpilihlah saya untuk maju kedepan memberikan jawaban, karena saya dari dulu memang jenius,tentu saja jawaban saya benar (dapat DVD brot!, Terima kasih saya ucapkan kepada Tuhan yang telah memberi saya makan, dan kepada kedua orang tua saya…halah! Baru dapat DVD aja kayak menang AMY Awards). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum Matapena di panggil sang MC, tiba-tiba saja ada salah satu anggota rombongan yang mengeluh lapar, orang yang menjaga stand sendirian tadi mengirim SMS bahwa dia harus segera makan sebelum di culik setan. Ya siapa lagi orangnya kalau bukan si gendut mb Khilma (Tak kasih bocorannya ya, pokoknya kalau masalah makan dan urusan perut, yang protes duluan pasti si gendut itu. Heran ya, apa dia ga’ merasa kelebihan berat badan? Ah…Tanya aja sendiri sama orangnya, kalau saya sih takut ), akhirnya Faqih mengalah keluar dari Auditorium untuk mencari makanan. Setelah di tunggu beberapa lama, akhirnya di panggillah Komunitas Matapena, dan mbak Pijer maju sebagai perwakilan Matapena membacakan penggalan novelnya “Hadrah Cinta”. Setelah pementasan selesai, kami berempat berkumpul di stand untuk latihan persiapan penampilan besok siang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Tentang Kedinginan-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23:15  Sebenarnya saya enggan untuk menceritakan tentang kedinginan yang kami berempat alami  (terutama saya) di Museum Bank Mandiri. Selain karena malu, saya rasa juga ga’ etis jika saya menceritakan tentang “tidur”, karena tidur adalah masalah yang sangat pribadi, apalagi kalau saya menceritakan ketiga teman saya yang ngorok dan mendengkur, saya jadi ilfil, hihihi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memang tidak bisa tidur malam itu, (bukan karena saya tidak biasa tidur di tempat sederhana, namun karena saya mamang mengidap Insomnia), saya memilih untuk mambaca buku, membunuh malam dan dingin melalui membaca buku memnag sering saya lakukan. Saya sangat iri melihat ketiga teman saya yang sudah terlelap pulas, membalas dendam atas lelah mereka seharian menjaga stand. Sebenarnya, tubuh sayapun lelah, sudah sangat bosan membaca, namun mata saya masih enggan terpejam. Akhirnya saya memutuskan untuk berkeliling museum, sekalian uji nyali dan membuktikan bahwa saya berani, tak pernah takut setan dan percaya sama Tuhan, hehehe. Sekitar jam &lt;br /&gt;2:30-an, saya kembali ke stand dan memaksa untuk memejamkan mata, saya sempat melihat mbak Pijer sudah terbangun dari tidurnya, lalu saya terlelap karena mata saya sudah sangat berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Part IV: Hari Terakhir dan Tentang Kepulangan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/ShoOiZ4plpI/AAAAAAAAAKc/lw0tI-Ssqsw/s1600-h/101_1249.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/ShoOiZ4plpI/AAAAAAAAAKc/lw0tI-Ssqsw/s200/101_1249.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5339596292427978386" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu, 17 mei 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi-pagi sekali, kami semua bangun, mereka bertiga bergantian sholat, sementara saya sendirian menjaga stand (selama di Jakarta saya memang jarang sholat, entahlah, saya merasa semakin jauh dari Tuhan). Lalu, sekitar jam setengah enam-an, saya dan mbak Pijer menuju stasiun, untuk memesan tiket pulang nanti malam.&lt;br /&gt;Kamipun berjalan kaki menuju stasiun Kota, jarak antara Museum Bank Mandiri dengen stasiun Kota memang tinggal menyeberang saja. Namun, setibanya di stasiun Kota, saya dan mbak Pijer kecele, ternyata untuk kereta jurusan Jakarta-Jogja harus memesan di stasiun Senen dan harus berangkat dari sana, kamipun meminta nomer telepon stasiun Pasar Senen. Kami akhirnya kembali ke stand setelah sebelumnya mencari makan untuk sarapan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;08:00 setelah selesai makan dan bergantian mandi (oiya, waktu itu cuma mbak Khilma yang belum mandi, hiiii), kami kembali sibuk menjaga stand karena pengunjung sudah tampak ramai. Maklum, hari ini adalah hari penutupan setelah rentetan acara yang di mulai dari 23 april. Lagi-lagi saya harus sendirian di stand. Mbak Pijer keluar bersama mbak Khilma, Faqih pergi mencari buku.&lt;br /&gt;Sepanjang hari kami disibukkan melayani pengunjung yang terus saja datang, menanyakan ini-itu tentang komunitas Matapena, sehingga saya bingung menjawabnya. Untung saja ada mbak Pijer dan mbak Khilma, senior saya yang lebih tahu tentang seluk-beluk Matapena, kedua mabak itulah yang dengan senang hati menjawab pertanyaan para pengunjung yang lumayan bejibun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11:45  Kami mengemasi barang-barang yang kami pamerkan kedalam kardus. Sebentar lagi kami akan pementasan sebuah fragmen berjudul ”Perempuan Purnama” yang diangkat dari novel “Jadilah Purnamaku Ning” karya Khilma Anis (untuk mbak Khilma, jangan Ge-eR). Kami memang harus mengemasi barang-barang karena selain kami berempat yang akan tampil serempak, tak ada lagi orang lain yang dipercaya menjaga stand.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12:15 Kami semua bingung!, ya, sebentar lagi kami kebagian tampil di Auditorium. Mungkin saja kami agak gugup menyaksikan jumlah pengunjung yang hadir di Auditorium untuk menyaksikan penampilan kami. Untung saja kebingungan kami tidak berlangsung lama. Setelah MC memanggil komunitas Matapena untuk segera tampil, kamipun menuju pentas dengan kostum yang sudah kami kenakan rapi (cuma saya yang ngga’ rapi, maklum pada shift ketiga saya memerankan sebagai orang gila, hehehe). Begitulah, tanpa ada kendala berarti, kami cukup sukses membawakan pementasan teater itu, walaupun begitu banyak improvisasi di tengah cerita, tapi alhamdulillah kami bisa beradaptasi dan saling mengisi di panggung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah pementasan diisi oleh diskusi dan sharing tentang komunitas Matapena yang dimoderatori oleh Badrul Munir Chair (sekali-kali narsis, ah). Ketika kami akan beranjak keluar auditorium, tiba-tiba dua orang anak kembar mendekati kami, mengajak ngobrol dengan kami. Ternyata mereka berdua tertarik dengan promosi saya tentang komunitas Matapena, si kembar itupun mendaftar untuk ikut bergabung dengan komunitas Matapena (tentu saja ini kebanggan tersendiri bagi kami).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/ShoMX-u44fI/AAAAAAAAAKM/uL-B6Vwj_K8/s1600-h/101_1315.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/ShoMX-u44fI/AAAAAAAAAKM/uL-B6Vwj_K8/s200/101_1315.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5339593914317332978" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15:00 Kami bergantian menghadiri acara penutupan di jalan raya depan Museun yang sudah diblokir oleh polisi, kami memang mau-tak mau harus bergantian karena salah satu orang harus ada yang rela menjaga barang-barang bawaan kami yang ditinggal di stand, mengingat pada WBD tahun kemarin ada beberapa komunitas yang mengaku kehilangan barang yang berharga. Setelah acara penutupan yang cukup panjang, kami menunggu jemputan dari temannya mbak Khilma yang tinggal di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18:00 Jemputan yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang, kami bosan dan merasa terlantar. Karena peserta yang lain sudah tampak meninggalkan museum, penitia berkali-kali mengingatkan kami bahwa museum harus segera dikosongkan.  Kamipun memutuskan untuk sholat maghrib di stand sambil menunggu yang menjemput datang. Akhirnya, setelah kami berada di puncak kebosanan, mbak Khilma menerima telepon bahwa temannya itu sudah sampai didepan museum. Kamipun pergi meninggalkan Museun Bank Mandiri yang telah memberi kenangan-kenangan tak terlupakan buat kami. Sampai jumpa di World Book day 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Perjalanan Pulang-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas Avanza hitam, mbak Khilma mengobrol banyak dengan temannya sewaktu mondok di Jombang yang kini tinggal di Jakarta itu. Saya lebih banyak diam, menikmati sudut malam kota Jakarta. Tak terasa kami sudah sampai di stasiun Pasar Senen. Saya menemani mbak Pijer membeli tiket, sementara yang lainnya mencari warung makan. Di warung itu, lagi-lagi ada reuni kecil-kecilan antara mbak Khilma dan seorang seniornya di salah satu media (pokoknya perjalanan kali ini kami lebih banyak mengalah sama yang namanya Khima Anis, selain kasihan, kami juga tidak tega melihat badannya yang kian membengkak, hehe), kami terus ngobrol ngalor-ngidul sambil makan hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan jam delapan lewat. Kami harus segera masuk kereta karena kereta akan berangkat jam 20:30&lt;br /&gt;Kamipun memasuki kereta setelah sebelumnya pamit ke teman-temannya mbak Khilma yang mengantar kami tadi, mbak khilma tampak sedih berpisah dengan teman-temannya, akupun bersedih karena harus meninggalkan Jakarta, kota tandus yang belum saya tanami apa-apa (cieh…bahasanya kok malah sendu? Maklum kawan, aku dah ngantuk). Kami akhirnyamendapat tempat duduk di kereta, walaupun beberapa kali diusir penumpang lain karena kami tidak duduk ditempat yang tertera dalam tiket (ya beginilah anak muda, sukanya selalu ngeyel).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faqih larut dengan buku dalam genggamannya, mbak Pijer mencoba memejamkan mata, mbak Khilma tampak sedih menitikkan air mata, dan saya terlelap lebih dahulu, karena jika tidak segera tidur, saya akan terus bangun hingga pagi tiba. Begitulah, hingga akhirnya kami semua terlelap dalam gerbong kereta, hingga tak terasa kami sudah sampai di Yogyakarta.&lt;br /&gt;Akhirnya kami berpisah di stasiun Tugu, mbak Pijer dan Faqih naik taksi menuju Rumah Kreatif Matapena, mbak Khilma menjemput sepeda yang dititipkannya, saya naik taksi menuju kost saya, imgin segera rebahan di kamar, mengenang perjalanan yang luar biasa di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Wassalam…&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2226946536626198142-6776292215512358644?l=badrulmunirchair.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://badrulmunirchair.blogspot.com/feeds/6776292215512358644/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2226946536626198142&amp;postID=6776292215512358644' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2226946536626198142/posts/default/6776292215512358644'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2226946536626198142/posts/default/6776292215512358644'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://badrulmunirchair.blogspot.com/2009/05/sepenggal-cerita-world-book-day-2009.html' title='Sepenggal Cerita &quot;World Book Day 2009&quot;'/><author><name>Badrul Munir Chair</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10794972918990290806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/SvRBYFHUwnI/AAAAAAAAAM0/tYQVcUVGv_E/S220/Ikalkuikalku.bmp'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/ShoN6UJdrCI/AAAAAAAAAKU/aKXISyobj7U/s72-c/101_1079.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2226946536626198142.post-2459922906603170788</id><published>2009-04-29T20:28:00.000-07:00</published><updated>2010-12-06T01:46:10.596-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ulasan'/><title type='text'>Puisi dari mas Fikri</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/SfkeYNbB2oI/AAAAAAAAAI8/cdQVbY1Lgck/s1600-h/mas+fikri+af.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 234px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/SfkeYNbB2oI/AAAAAAAAAI8/cdQVbY1Lgck/s400/mas+fikri+af.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5330325035238414978" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Munajat Sunyi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti sunyi yang hendak kau namai&lt;br /&gt;kutulis puisi seperti apa inginmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajaklah teman kita duduk di bawah pohon&lt;br /&gt;tempatmu bermain dadu&lt;br /&gt;berjudi dengan mimpi mengubah dunia&lt;br /&gt;dari kata-kata entah berantah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti sunyi hendak kau namai&lt;br /&gt;kutulis puisi seperti pintamu&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Yogyakarta, april 2009)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Puisi ini persembahan dari mas Akhmad Fikri AF, penulis kumpulan puisi "Negeri Kong Draman" yang di kirim melalui Facebook.&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2226946536626198142-2459922906603170788?l=badrulmunirchair.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://badrulmunirchair.blogspot.com/feeds/2459922906603170788/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2226946536626198142&amp;postID=2459922906603170788' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2226946536626198142/posts/default/2459922906603170788'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2226946536626198142/posts/default/2459922906603170788'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://badrulmunirchair.blogspot.com/2009/04/puisi-dari-mas-fikri.html' title='Puisi dari mas Fikri'/><author><name>Badrul Munir Chair</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10794972918990290806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/SvRBYFHUwnI/AAAAAAAAAM0/tYQVcUVGv_E/S220/Ikalkuikalku.bmp'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/SfkeYNbB2oI/AAAAAAAAAI8/cdQVbY1Lgck/s72-c/mas+fikri+af.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2226946536626198142.post-7967262884201417983</id><published>2009-03-22T18:57:00.000-07:00</published><updated>2010-12-06T01:48:55.541-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Sebelum Bubur Mengering Menjadi Karak</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;V1c&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Malam ini hujan menyapa kamarku, melangkah gontai di iringi temaram yang perlahan padam. Wajahmu menari di altar kamarku membawa pisau mengiris sembilu. Kerudung merah yang kau kenakan penuh cucuran darah sisa tangisku senja tadi. Aku rindu pada kelinci di wajahmu yang tersenyum menyapaku sebelum aku pergi meninggalkanmu sendiri, berpeluh duka di kota itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu, terkadang sembilu juga mengiris keningmu yang rindu akan hadirku kembali, menyambangimu sekedar mengucapkan selamat pagi. Namun aku terlalu jauh berlari membiarkanmu menanti dalam guratan yang tak pasti, mengambang tanya "siapa aku untukmu?".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan nasi perlahan menjadi bubur.&lt;br /&gt;Rasa ini terlalu lama berdiri di atas tungku api, hingga rindu terkikis waktu yang terus berlalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;V1c&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebelum bubur mengering menjadi karak, ijinkan aku menyulam sedikit waktu di atas kerudung merahmu, melukis rasa yang masih tergenang, menunggumu menyelamatkanku, kerena aku tak mampu lagi berenang menyelami hatimu yang semakin beku.&lt;br /&gt;Sebelum api ini benar-benar padam, aku ingin kau membaca sedetik waktu sebelum ajalku, mati tercekik rindu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Sumenep, 09 februari 2009) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Untuk Dya:&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Laisatil mar'atu fii qalbii illaa anti yaa habiibatii. Khoiro mathluubin minki, ahbibnii kamaa sya'uurii"&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2226946536626198142-7967262884201417983?l=badrulmunirchair.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://badrulmunirchair.blogspot.com/feeds/7967262884201417983/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2226946536626198142&amp;postID=7967262884201417983' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2226946536626198142/posts/default/7967262884201417983'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2226946536626198142/posts/default/7967262884201417983'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://badrulmunirchair.blogspot.com/2009/03/sebelum-bubur-mengering-menjadi-karak.html' title='Sebelum Bubur Mengering Menjadi Karak'/><author><name>Badrul Munir Chair</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10794972918990290806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/SvRBYFHUwnI/AAAAAAAAAM0/tYQVcUVGv_E/S220/Ikalkuikalku.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2226946536626198142.post-2448004799082184381</id><published>2009-03-15T03:24:00.000-07:00</published><updated>2010-12-06T01:48:55.541-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Terpedaya Bisikan Hawa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/SbzX_ao8d-I/AAAAAAAAAHo/hdN-8A6HI40/s1600-h/lukisan-modern-4.gif"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 284px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/SbzX_ao8d-I/AAAAAAAAAHo/hdN-8A6HI40/s400/lukisan-modern-4.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5313359144873129954" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(satu)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Antara bisingnya serapah dan angin yang membadai, ada kata tersungging dari sebalik bibir dan mata yang meninggalkan renta, juga coretan yang tertinggal jauh di balik kota tempat para penjaja cinta berteduh mengganti celana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(dua)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tercecerlah sperma para dewa, yang diwahyukan sang penguasa, menghisap darah tetua-tetua murka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(tiga)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hawa menunutunku menuju celah di dadanya. Memaksaku mencicipi dunia di antara payudara dan paha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(empat)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Aku terlempar dari surga&lt;br /&gt;Hawa tertawa&lt;br /&gt;lalu...&lt;br /&gt;dibacakannya doa-doa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Yogyakarta, 15 Maret 2006&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;1. Gambar oleh Agus Djaja: Permaisuri Berhias&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2226946536626198142-2448004799082184381?l=badrulmunirchair.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://badrulmunirchair.blogspot.com/feeds/2448004799082184381/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2226946536626198142&amp;postID=2448004799082184381' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2226946536626198142/posts/default/2448004799082184381'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2226946536626198142/posts/default/2448004799082184381'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://badrulmunirchair.blogspot.com/2009/03/terpedaya-bisikan-hawa.html' title='Terpedaya Bisikan Hawa'/><author><name>Badrul Munir Chair</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10794972918990290806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/SvRBYFHUwnI/AAAAAAAAAM0/tYQVcUVGv_E/S220/Ikalkuikalku.bmp'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/SbzX_ao8d-I/AAAAAAAAAHo/hdN-8A6HI40/s72-c/lukisan-modern-4.gif' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2226946536626198142.post-2776991684593446374</id><published>2009-03-12T05:39:00.000-07:00</published><updated>2010-12-06T01:48:55.542-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Sepuluh ibu dan rahim yang memuntahkanku...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/SbkFUvaIUBI/AAAAAAAAAHI/OA8hJihJf1A/s1600-h/ladies.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 371px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/SbkFUvaIUBI/AAAAAAAAAHI/OA8hJihJf1A/s400/ladies.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5312283089341796370" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;satu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di koridor kematian, aku hendak di muntahkan dalam tong di samping pintu. Ada ibu dalam dingin yang beku, malu. Seduyun wanita berbondong menghampiri ranjang reyot rumah sakit tua di pinggiran kota yang sudah renta ini. Tampaknya, senja ini ruhku gagal di lahirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;dua&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah ruang jauh sebelum sang ibu memalu. Lelaki jantan terkapar memeluk payudara wanita muda yang belum cukup usia. Di remasnya sepasang bukit itu, lalu berguling di atas ranjang. Suara mendengus menyapa luar jendela, mengepak sayap singa yang tumbuh di balik kemaluan lelaki jantan itu. Memacu tubuh sejauh nol kilometer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;tiga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sepuluh ibu berlari menuju orok yang pecah di balik pintu. Ada iba di balik remang lampu bangsal. Rahim yang memuntahkanku terbaring malu, seperti saat memacu tubuhnya kala berjumpa raja singa. Senja ini, tulangku terpendam kembali ke bumi yang tak utuh, di gelayut sesal wanita muda yang terbaring di balik pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;1. Gambar: 1907_picasso_demoiselles&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;2. Nasihat abad ketiga untuk para pembaca: Aborsi= memotong kemaluan sendiri.&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2226946536626198142-2776991684593446374?l=badrulmunirchair.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://badrulmunirchair.blogspot.com/feeds/2776991684593446374/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2226946536626198142&amp;postID=2776991684593446374' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2226946536626198142/posts/default/2776991684593446374'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2226946536626198142/posts/default/2776991684593446374'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://badrulmunirchair.blogspot.com/2009/03/sepuluh-ibu-dan-rahim-yang.html' title='Sepuluh ibu dan rahim yang memuntahkanku...'/><author><name>Badrul Munir Chair</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10794972918990290806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/SvRBYFHUwnI/AAAAAAAAAM0/tYQVcUVGv_E/S220/Ikalkuikalku.bmp'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/SbkFUvaIUBI/AAAAAAAAAHI/OA8hJihJf1A/s72-c/ladies.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2226946536626198142.post-5576082146772735067</id><published>2009-03-09T19:54:00.000-07:00</published><updated>2010-12-06T01:48:55.542-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Ambunten</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/SbXWjFuQHiI/AAAAAAAAAG4/k3SlCdZhFAc/s1600-h/321231745609_1908663_n.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/SbXWjFuQHiI/AAAAAAAAAG4/k3SlCdZhFAc/s400/321231745609_1908663_n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5311387233873305122" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-untuk tiga bumi yang kulangkahi-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;masih sepi pagi ini&lt;br /&gt;kau berguling memintal nyiur&lt;br /&gt;dan belaian ombak yang mendaur&lt;br /&gt;kebarat-ketimur&lt;br /&gt;ada apa di dadamu kini?&lt;br /&gt;karang singgah lama&lt;br /&gt;kerikil pasir juga sama&lt;br /&gt;menungguimu menantikan ku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan demi tiga bumi&lt;br /&gt;aku berdiri di balik tikar&lt;br /&gt;mengenang saat aku di lahirkan di pangkuanmu&lt;br /&gt;menyapa dunia diatas bisikan ombakmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambunten...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;segenggam cerita ibu tergenang&lt;br /&gt;menunutun mimpi laju ke awang&lt;br /&gt;kapan rindu angin&lt;br /&gt;kadang rindu asin&lt;br /&gt;yang kau tanam dalam wajahmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ah...mana ku tahu&lt;br /&gt;jika dunia lahir dari rahimmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Yogyakarta, Maret 2009)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;1. Ambunten, sebuah kota tua di kabupaten Sumenep. terletak di timur-daya Pulau Madura.&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;2. Foto by: Cakpik (Fotokita.net)&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2226946536626198142-5576082146772735067?l=badrulmunirchair.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://badrulmunirchair.blogspot.com/feeds/5576082146772735067/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2226946536626198142&amp;postID=5576082146772735067' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2226946536626198142/posts/default/5576082146772735067'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2226946536626198142/posts/default/5576082146772735067'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://badrulmunirchair.blogspot.com/2009/03/ambunten.html' title='Ambunten'/><author><name>Badrul Munir Chair</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10794972918990290806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/SvRBYFHUwnI/AAAAAAAAAM0/tYQVcUVGv_E/S220/Ikalkuikalku.bmp'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/SbXWjFuQHiI/AAAAAAAAAG4/k3SlCdZhFAc/s72-c/321231745609_1908663_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2226946536626198142.post-3206528286523658534</id><published>2009-03-08T21:47:00.000-07:00</published><updated>2010-12-06T01:49:48.774-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan'/><title type='text'>August Rush, bocah kecil yang membuatku mendung</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/SbSfecKh5gI/AAAAAAAAAGw/y4o9gVqFIXc/s1600-h/august-rush.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 266px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/SbSfecKh5gI/AAAAAAAAAGw/y4o9gVqFIXc/s400/august-rush.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5311045205881906690" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kawan...jika kau pernah mendengar kisah tentang orang-orang yang menangis karena nada dan irama, akulah salah satu orangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Minggu malam, aku menitikkan air mata karena terbawa cerita salah satu film drama. Cerita tentang bocah kecil yang mempunyai kemampuan luar biasa dalam mendengarkan nada-nada, irama dan suara-suara yang didengarnya. Mulai dari tangisan, jeritan, suara orang-orang di pasar, dentuman suara bola basket, suara klakson mobil, gemerincing koin, kepakan sayap burung, desir angin, semua dirangkainya dalam nada yang memikat sukma. Aku terpana.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Jalan cerita yang biasa-biasa saja, namun alunan nada yang berbicara menuntun mata menitikkan air mata, telingaku enggan berkedip mendengarnya. Saat komposisi seperti &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Cause if you hadn't found me, I would have found you&lt;/span&gt; dimainkan  sepasang anak manusia yang sedang mabuk cinta, disitulah hati berbicara. Sangat menyentuh...kalaborasi musik rock dengan gesekan biola sehingga terkesan aneh namun romantis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Mungkin ceritaku terdengar kurang dramatis karena aku tak begitu pandai menulis sinopsis sehingga kalian menganggapku terlalu cengeng dan mengada-ada. Tapi, aku tak berbohong kawan...kalian pasti akan terbawa jika menontonnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Buktikan sendiri, kalian akan mendung dibuatnya.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Di dalam kamar, 8 maret 2009)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2226946536626198142-3206528286523658534?l=badrulmunirchair.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://badrulmunirchair.blogspot.com/feeds/3206528286523658534/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2226946536626198142&amp;postID=3206528286523658534' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2226946536626198142/posts/default/3206528286523658534'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2226946536626198142/posts/default/3206528286523658534'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://badrulmunirchair.blogspot.com/2009/03/august-rush-bocah-kecil-yang-membuatku.html' title='August Rush, bocah kecil yang membuatku mendung'/><author><name>Badrul Munir Chair</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10794972918990290806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/SvRBYFHUwnI/AAAAAAAAAM0/tYQVcUVGv_E/S220/Ikalkuikalku.bmp'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/SbSfecKh5gI/AAAAAAAAAGw/y4o9gVqFIXc/s72-c/august-rush.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2226946536626198142.post-2762620762325068547</id><published>2009-02-12T18:05:00.000-08:00</published><updated>2010-12-06T02:37:35.291-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Di Sudut Palestina</title><content type='html'>Di Sudut Palestina&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(sebuah cerpen untuk Gaza)&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Bocah itu mengemas tasnya sepulang sekolah di distrik Sheikh Rudwan, kota Gaza. Berjalan kaki sendiran di antara puing-puing bangunan dan bau anyir darah yang mengalir. Melewati setapak jalan dimana masih banyak mayat bergelimpangan. Bocah itu tak memperdulikan bunyi desing-desing peluru yang menyapa telinganya. Seakan semuanya biasa-biasa saja. Suara senapan adalah musik yang selalu menemaninya setiap detik dalam hembusan nafasnya. Mayat-mayat yang bergelimpangan adalah potongan film dokumenter yang selalu diputar berulang-ulang, sehingga dia bosan untuk memperhatikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Mabrouk bin Yassir, nama bocah kecil itu. Tubuhnya kurus, tingginya tak seukuran anak seusianya pada umumnya, pakaiannya compang-camping, lebih parah seperti bayangan kita tentang kebanyakan anak gelandangan di Indonesia. Bocah tiga belas tahun seperti dia seharusnya masih menikmati masa-masa indah di sekolah, atau berbahagia dengan teman-temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Puing-puing bangunan di setiap sudut palestina menjadi tempat bermainnya, biasanya Mabrouk bermain perang-perangan dengan memakai ketapel atau senapan mainan yang di isi peluru karet. Jikalau tiba-tiba ada suara bom meletus di tengah permainan mereka, maka mereka tidak sekedar bermain saja, setiap Israel menyerang kota mereka, perang ini sudah menjadi nyata, dan ketapel kecillah senjata yang biasa mereka gunakan untuk menembak musuh. Entah itu berguna atau tidak, tetapi bagi bocah-bocah kecil itu, menjaga negara adalah tugas mereka semenjak hembusan nafas pertamanya di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Mabrouk terus berjalan menuju rumahnya. Teman-teman yang biasanya menemaninya setiap pulang sekolah sebagian besar bersembunyi di barak pengungsian. Tetapi bagi Mabrouk, pendidikan adalah segalanya. Walaupun toh suatu saat nanti dia di tembak dari jauh oleh senapan Israel, baginya itu adalah jihad. Toh guru sekolahnya selalu membawa senapan setiap akan mengajar. Mereka menanamkan ajaran jihad sejak kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Mabrouk sampai di rumahnya yang sudah tak kokoh lagi. Sisa-sisa bekas tembakan dan molotov yang kadang menyerang telah “merenovasi” rumah-rumah di palestina menjadi bangunan yang setengah jadi, atau lebih tepatnya seperti bangunan yang hendak di robohkan namun masih ada beberapa tiang penyangga sehingga rumah-rumah itu tidak benar-benar roboh. Rumah-rumah itulah tempat yang paling aman untuk bersembunyi, karena pihak Israel selalu mengira rumah itu sudah tak berpenghuni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Rumah yang mengenaskan itu di tempati oleh sebagian besar kaum hawa dan anak-anak kecil seperti Mabrouk. Tetangga-tetangga yang rumahnya tak layak lagi harus menumpang ke rumah yang masih bisa di gunakan walaupun tak layak untuk di tempati. Sejak genderang perang mulai di bunyikan, semua rakyat Palestina adalah saudara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Rumah itu sepi, bukannya tidak berpenghuni. Sudah menjadi peraturan yang tidak tertulis bahwa semua orang yang tinggal di dalam persembunyian harus sebisa mungkin menutup mulut  dan bibir mereka agar tidak bersuara, karena sewaktu-waktu jika ada musuh yang mendekat akan mudah menyerang mereka. Dengan sekali lemparan maka mereka akan mati bergelimpangan. Jasad-jasad mereka akan terbakar atau paling untung terhimpit reruntuhan bangunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“ya umma, bagaimana kabar ayah? Apakah dia masih gigih berjuang atau sudah syahid dan tinggal di surga?” &lt;/span&gt;tanya Mabrouk berbisik kepada ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Anakku, jiakalau ayahmu telah tak bernyawa, kelak kita akan di pertemukan kembali di surga. Anakku, yakinlah dengan kuasa tuhanmu, tuhan kita, tuhan yang menguasai jagad raya ini. Umma yakin ayahmu akan baik-baik saja”&lt;/span&gt; jawab ibunya. Sebenarnya, ada kekhawatiran yang mendalam dari jiwa sang ibu ketika berkata demikian kepada Mabrouk anaknya, pertanyaan itulah yang selalu mengisi hari-harinya, apakah suaminya baik-baik saja?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“umma, jikalau engkau mengijinkan. Aku juga akan berangkat ke medan perang, aku yakin tenagaku akan sangat di butuhkan. Aku tak perduli jika darahku di takdirkan berceceran, aku yakin darah ini akan menjadi minyak wangi seharum bunga Kesturi di surga nanti”.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   Ibunya hanya diam. Mabrouk selalu paham jika ibunya tidak akan mengijinkan. Kedua kakaknya telah menjadi korban dahsyatnya perang ini tiga hari yang lalu. Dialah satu-satunya yang bisa di harapkan untuk menemani ibunya, apalagi ayahnya sedang berada di medan perang, entah saat ini masih hidup atau sudah mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Seharian tinggal di rumah itu hanya di isi oleh diam, termenung dalam keheningan. Setiap penghuni berjalan dengan pikirannya sendiri-sendiri. Seringkali mereka kehabisan jatah makanan, karena truk-truk pengangkut bahan bantuan telah di musnahkan terlebih dahulu sebelum memasuki perbatasan. Jikalau memang ada waktu makan, mereka lebih banyak diam. Jika mereka kelaparan, mereka hanya bisa menuggu jika sewaktu-waktu akan ada mukjizat datang dan seseorang berhasil membawa makanan dari luar. Atau berharap perang ini akan segera usai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Jikalau terdengar suara ledakan, mereka akan diam dan saling berpelukan. Berdo’a semoga tuhan bisa melindungi mereka, paling tidak untuk saat ini, karena esok bom-bom itu akan melintas lagi. Terkadang beberapa meter saja dari persembunyian mereka, bahkan seringkali percikan letusan mengenai tembok rumah yang sudah setengah hancur itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Pagi itu, seperti biasanya Mabrouk bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah, sebenarnya tempat itu tak layak jika di sebut dengan sekolah, karena bangunannya sudah rata dengan tanah. Mereka belajar di tempat terbuka. Pelajaran di sekolah itu bukan matematika atau ilmu-ilmu umum sebagaimana biasanya. Di sekolah itu Mabrouk dan teman-temannya di ajari strategi untuk berperang, bahkan di ajari cara membuat bom. Atau sesekali ada pelajaran “penyejuk hati” tentang pahala jihad dan balasan bagi orang-orang yang berjuang demi membela agama dan negara. Pelajaran itulah yang di sukai Mabrouk dan teman-temannya. Oleh sebab itulah mereka tidak pernah takut untuk belajar di tempat terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Sepulang sekolah, secara tidak sengaja Mabrouk sekilas melihat tentara Israel sedang melintas di jalan yang biasa di lewatinya ketika pulang sekolah. Dengan mengendap-endap, dia mengikuti jejak langkah tentara Israel itu dari kejauhan. Ternyata, tempat persembunyian tentara Israel tidak jauh dari tempat persembunyiaannya selama ini. Mungkin mereka hanya menunggu waktu untuk meluluh lantakkan kota itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mabrouk pulang kembali ke tempat pesembunyiannya dengan hati-hati, karena khawatir sewaktu-waktu tentara Israel akan menyerangnya dari belakang. Di dalam rumah itu, Mabrouk berpikir mencari cara bagaimana cara menyelinap masuk ke tempat tentara Israel itu dengan tujuan untuk mengambil senjata-senjata mereka. Pikirannya belum sampai untuk menghancurkan tempat pesembunyian tentara Israel itu, kekuatannya tidak akan cukup untuk melawan musuh sebanyak itu, entah berapa jumlahnya? Mabrouk juga masih mengira-ngira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mabrouk sengaja tidak menceritakan perihal tempat persembunyian tentara Israel kepada siapapun penghuni rumah itu, Mabrouk khawatir semua penghuni rumah itu akan cemas dan malah menimbulkan kegaduhan sehingga musuh akan semakin bernafsu untuk menyerang. Biar dia sendiri saja yang tahu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Umma, maafkan aku jika aku mengecewakanmu karena tidak mengikuti nasihatmu. Aku akan melakukan penyelinapan ke tempat tentara jahanam yang telah aku ketahui diam-diam. Jikalau Allah mengijinkan, aku yakin kita akan bertemu lagi di dunia ini. Jikalau ajalku telah menanti, aku rela. Karena usia adalah kehendak yang maha kuasa. Dan jika kita semua sudah kembali berjumpa di surga, berbahagialah bersamaku. Aku minta umma berdoa kepada Allah,  semoga operasi syuhadaku sukses. Aku persembahkan jiwaku karena Allah dan tanah air.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Surat itu sengaja di tinggalkan Mabrouk sebelum berangkat menuju medan pertaruhan nyawanya. Tekadnya sudah bulat untuk membela negara. Tujuannya hanya mengambil senjata-senjata tentara Israel itu entah bagaimana caranya. “aku yakin Allah Ta’ala akan memberi jalan keluar bagi hambanya yang benar-benar melangkah menjunjung jalan kebenaran” batinnya dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Langkah demi langkah Mabrouk lewati dengan bacaan basmalah, dia yakin hidayah tuhan akan selalu datang. Puing-puing rumah dia lewati dengan berhati-hati, sebenarnya, ada sedikit perasaan ragu dalam hatinya untuk melanjutkan operasi syuhada itu, tetapi tekadnya telah mengalahkan semuanya. Yang ada dalam pikirannya saat ini adalah secepat mungkin menyelinap ke tempat persembunyian tentara jahanam itu, kemudian mengambil senjata-senjata mereka, hanya itu saja. Selebihnya dia serahkan kepada yang maha kuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Rumah yang di jadikan tempat mengintai tentara Israel itu sebenarnya lebih menyedihkan dari rumah yang Mabrouk tempati saat ini, tetapi mungkin inilah alasan kenapa mereka memilih rumah itu, mungkin menurut mereka rumah itu cukup aman sebagai tempat mengintai dan kemungkinan untuk di curigai sangatlah kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Mabrouk berhasil menyelinap lebih dekat ke rumah itu, dia masih agak ragu untuk melangkah lebih maju, diperhatikannya lingkungan di sekelilingnya, sepi. Jantungnya semakin berdetak tak karuan. Bocah seusia Mabrouk pasti akan sedikit takut jika menghadapi kondisi seperti itu, berjalan sendiri di wilayah kekuasaan musuh. Tetapi keberaniannya mengalahkan panglima yang sudah berpengalamn di medan perang. Mungkin, malaikat-malaikat kini sedang berdo’a demi keselamatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Allahu akbar!!! Allahu akbar!!!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Teriakan-teriakan terdengar dari sebuah sudut Palestina, sebuah ledakan besar telah meluluh lantakkan sebuah rumah di sudut kota gaza. Tiba-tiba saja para regu penyelamat datang, entah mereka berhasil masuk kota ini melewati perbatasan sebelah mana?. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Di sebuah tandu gartu pertolongan, seorang bocah kecil kurus berlumuran darah, tangan kanannya telah dia korbankan atas nama negara. Jihad yang tidak sia-sia, cecara tidak sengaja bocah itu mengaktifkan sebuah bom ketika menyelinap ke tempat persembunyian Israel itu. Dia melarikan diri setelah salah satu tentara Israel mengetahui keberadaannya. Namun bom keburu meledak, dan bocah itu sedikit terlambat berlari sehingga tangan kanannya terkena percikan api dari bom itu, semua penghuni rumah itu mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Sisa-sisa hembusan nafasnya masih terasa, bocah kecil itu masih bisa bernyawa. Tuhan baru saja melindungi satu tempat di sudut Palestina. Bocah kecil itu berbisik pelan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“perang belum usai”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Yogyakarta, 2008)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/SZTZ14CS68I/AAAAAAAAAFQ/IM5frxPuk24/s1600-h/610x.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 262px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/SZTZ14CS68I/AAAAAAAAAFQ/IM5frxPuk24/s400/610x.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5302102180920224706" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2226946536626198142-2762620762325068547?l=badrulmunirchair.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://badrulmunirchair.blogspot.com/feeds/2762620762325068547/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2226946536626198142&amp;postID=2762620762325068547' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2226946536626198142/posts/default/2762620762325068547'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2226946536626198142/posts/default/2762620762325068547'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://badrulmunirchair.blogspot.com/2009/02/sebuah-cerpen-untuk-palestina-di-sudut.html' title='Di Sudut Palestina'/><author><name>Badrul Munir Chair</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10794972918990290806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/SvRBYFHUwnI/AAAAAAAAAM0/tYQVcUVGv_E/S220/Ikalkuikalku.bmp'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_0H_jZ2LKv1c/SZTZ14CS68I/AAAAAAAAAFQ/IM5frxPuk24/s72-c/610x.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
