Badrul Munir Chair

Bulan purnama yang bercahaya terang (kira-kira itulah arti nama saya).

Munajat Sunyi

Mungkin aku hanyalah sebuah gelisah, yang akan mengantarkanmu menuju sunyi. Tapi aku menjanjikan tawa, sebuah rasa yang akan menjelma doa-doa...

Sajak Kepada Hujan

Hujan... bisakah kau diam sejenak, beri aku kesempatan tuk ucapkan salam setiaku pada malam, atas nama sunyi yang mendekap tubuh ini, melepas gigil yang menyayat bagai belati.

MEMBACA PUISI MEMBACA SENI

)* Catatan di bawah ini saya rangkum dari catatan Dato' Ahmad Kamal Abdullah Kemala, sastrawan Malaysia. Dalam salah satu esainya, beliau mengulas salah satu sajak saya (ulasan sajak saya tersebut akan saya cetak tebal).

MEMBACA PUISI MEMBACA SENI MEMBUKA JENDELA HATI NURANI Dato’ Dr Ahmad Kamal Abdullah - Kemala Sarjana Tamu Universiti Putra Malaysia dato_kemala@yahoo.com

Membaca puisi yang dapat menyentuh hati nurani itu, seolah memperoleh Cinta sahih yang membahagiakan. Ia menjadi sahabat seakrab Rumi dengan Shams at-Tabrizi. Atau seperti Hafez yang menantikan bayangan kekasihnya muncul di hadapan jendela menyambut roti yang dipesan. Semenjak empat dekad yang lalu, inilah yang membuat saya bahagia dengan segugus puisi Rumi, Hafez, Amir Hamzah, Iqbal, Tagore, T.S. Eliot, Pablo Neruda, Chairil Anwar dan Usman Awang. Kebahagiaan itu muncul walaupun dalam saat-saat saya luka dan merintih dalam percintaan. Tuhan memberikan anugerah yang besar kepada hamba-Nya sang penyair itu, menjadi penyair (dan bukan sebagai presiden) mampu menggilap kata demi kata, menyusun metafora demi metafora menyempurnakan keajaiban imaginasi sehingga mengharmonis dalam stanza demi stanza lalu menimbulkan amsal-amsal yang mekar. Ungkapan dalam jalinan yang puitis itu kadang waktu dapat menitiskan air mataku atau melonjakkan semacam kegembiraan batiniah.

Tentulah bukan hanya kerana bakat berbahasa sahaja yang dipunyai oleh Rumi, Hafez dan Tagore. Keluarbiasaan momentum yang mereka alami secara lahiri dan batini . Apa yang dapat dilihat oleh “kebistarian” kepenyairan mereka di sebalik sana yang memang menjadi hadiah dari Ilahi. Sebagai penyair atau pujangga ataupun sufi besar tazkiyyah an-nafs mereka tentu mengalami peringkat yang tinggi. Apalagi makam kepasrahan mereka kepada al-Khaliq sudah menggenggam makam Sabar, Faqir, Tawakal, Cinta dan Redho. Keindahan puisi atau qasidah atau masnawinya terjalin bagus bagai anyaman lagu qasidah yang ikut dinyanyikan oleh para pengikutnya yang setia.

Antara tawhid dan ibadah dan berlumba-lumba mengisi dada dengan ilmu pengetahuan adalah menjadi tuntutan ad-din, dan apabila semuanya sirna, namun Allah wujud Abadi: Apakah organisasi sosial, adat dan undang-undang? Apakah rahsia keganjilan sains? Kehendak yang menimbulkan dirinya dengan kekuatannya sendiri Dan meluru keluar dari hati dan mengadakan rupanya. Hidung, tangan, otak, mata dan telinga Begitu juga khayalan, perasaan, ingatan dan fahaman, Semua itu adalah senjata disediakan oleh Hidup untuk memelihara diri. Dalam perjuangannya tanpa henti-henti Matlamat sains dan kesenian bukanlah ilmu, Matlamat taman bukanlah kuntum dan bunganya, Sains adalah alat untuk memelihara Hidup. Sains adalah alat untuk menggegarkan diri, Sains dan kesenian adalah hamba Hidup. Hamba yang lahir dan beranak-pinak dalam rumahnya. Bangun, wahai anda yang tidak tahu rahsia hidup, Bangun mabuk dengan serbat cita-cita (ideal) Cita-cita bersinar seperti fajar sidik, Api yang membakar kepada semua yang lain dari Allah. (Menunjukkan Bahawa Hidup Diri Itu Datang Dari Pembentukan Cita-cita dan Menzahirkannya)

Dalam perkembangan puisi Nusantara mutakhir, penyair besarnya tidak lepas daripada menghirup suasana yang relijius , membawa suara batiniah yang murni memberikan sentuhan seni yang murni dengan membukakan jendela hati nurani. Amir Hamzah, Chairil Anwar, Usman Awang, Masuri S.N, Yahya M.S, Rendra, Sutardji Calzoum Bachri, Sapardi Djoko Damaono, Taufiq Ismail dan Abdul Hadi W.M (sebagai contoh).

Pada hemat saya ada percubaan-percubaan yang meyakinkan sudah wujud dalam puisi penyair Nusantara mutakhir. Ini saya dasarkan pada dua buku ANTOLOGIA DE POETICAS (ADP) (2008) dan Antologi Musibah Gempa Padang (2009). Antologi pertama memuatkan puisi-puisi penyair Indonesia dan Malaysia dengan terjemahan dalam bahasa Portugis. Manakala antologi MGP memuatkan puisi penyair Indonesia, Malaysia dan Singapura. Selain puisi A.Samad Said, Usman Awang, Taufiq Ismail, Kemala, Sapardi Djoko Damono, Muhammad Haji Salleh, Baha Zain, Abdul Hadi WM dan Sutardji Calzoum Bachri ADP diterbitkan juga puisi dari penyair generasi baru seperti Acep Zamzam Noor, Sony Farid Maulana, Fatin Hamama, Rieke Dyah Pitaloka, Amien Wingsatalaja, Moh. Wan Anwar, Jamal D. Rahman, Aslan Abidin, Cecep Syamsul Hari, Fikar W. Eda, D. Kemalawati, Gus TF Sakai, Dorothea Rosa Herliany, manakala Malaysia muncul penyair generasi baru seperti Moehctar Awang, Siti Zainon Ismail, Lim Swee Tin, Marsli N.O., Zaen Kasturi, Hasyuda Abadi dan Rahimidin Zahari.

Antologi MGP menembungkan A Rahim Qahhar, Asep Sambodja, Rini Asmoro, Ahmad Najiullah Thaib, Kardy Syaid, Budhi Setyawan, Yo Sugianto, Kirana Kejora, Yayan Triyansayah, Sarah Sarena, Jack Efendi, A. Rahman elHakim, Abdullah Khusairi, Badrul Munir Chair, Rama Prabu, Viddy AD Daery, Sepri Handayani, Amien Wangsitalaja, Doel CP Allisah, Harsandi Nugraha, Kartika Kusworatri, Putri Pratama, Emmy Marthala, Silfi Hanani, Fitri Susila,Mokhtar Rahman, ratnaputri2, Benny Tjundawan, Indah ip, Muhammad Subhan, Pringadi Abdi Surya, Maulina Muzirwan, Happy Muslim, Zera, Jun An Nizami, Mimin, Anugrah Roby Syahputra, Fitriani Um Salva, Dwi Mita Yulianti, Zainal aka, Zahrul Bawady M.Daud (Indonesia). Malaysia diwakili Kemala, Akmal Jiwa, Airiel Uzayr, Hasyuda Abadi, Ramlan Abdul Wahab, Haizir Othman, Raja Rajeswari, Nilamsuri, Eziz Shukman, Kerisakti, Ahkarim, abdullahjones, Zek Marman, Ms. Mokhtar, Hasimah Haron, N. Faizal, Musalmah Mesra, Mohd Dahri Zakaria, AzmiRahman, Kalamutiara, Mokhtar Rahman, Yajuk, Lim Swee Tin, Haniff Romainoor, Teratakerapung, Wan Nur-Iliyani Wan Abu Bakar, An Bakri, Haimi Yahya & Fairuz Sulaiman, HMS Abu Bakar, dan Irwan Abu Bakar.

Oleh sebab deretan penyairnya panjang, saya ingin memetik ungkapan mereka yang pada hemat saya istimewa, puitis dan asli di samping pengucapan mereka yang bersahaja tetapi meninggalkan kesan yang Indah dengan lapis makna yang dalam – yakni percubaan mengungkap rasa dari hati nurani mereka yang setulusnya. Daripada antologi Musibah Gempa Padang saya perturunkan beberapa puisi yang saya kira mewakili para penyair di dalamnya:

SEPERTI SUNYI...SEPERTI KELABU KAIN KAFANMU
Seperti kemarin ,
ketika pedati melewati kota kita
kau ingin sekali menaikinya
“aku ingin berkelana ke surga” katamu

Seperti saat ini,
saat aku menatap bangkaimu,
yang remuk tertimpa batu
lalu aku tersuruk
seperti sunyi di barzahmu

Badrul Munir Chair



Disampaikan pada pertemuan penyair nusantara 2009, anjuran persatuan penulis nasional malaysia (pena), dewan bahasa dan pustaka pada 20-22 november 2009, Kuala Lumpur - Malaysia.

BEBERAPA SAJAK PENDEK

Agus Noor (Cerpenis/Prosais)menyebutnya fiksi mini. Yakni fiksi, yang hanya terdiri dari secuil kalimat. Mungkin empat sampai sepuluh kata, atau satu paragrap. Tapi di sana kita beroleh “keluasan dan kedalaman kisah”.
Berikut beberapa sajak pendek saya yang bisa juga dikatakan sebagai Fiksi Mini;

MUNAJAT
-sebelum terlelap-

Ingin segera berangkat
sebelum jasadku tersesat
di liang lahat...

(Yogyakarta, januari 2010)

_________________________________

KEPADA HUJAN


Hujan...
bisakah kau diam sejenak
beri aku kesempatan tuk ucapkan salam setiaku pada malam
atas nama sunyi yang mendekap tubuh ini
melepas gigil yang menyayat bagai belati.

(Yogyakarta, Mei 2009)


_________________________________

RAMALAN


Esok siang
rembulan akan tenggelam...

(Yogyakarta, januari 2010)

_________________________________

MENJELANG KEMATIAN

Apakah kalian malaikat?
tunggu sebentar, saya mau sholat

Bilang sama Tuhan
tutup pintu rapat-rapat.

(Yogyakarta, januari 2010)

_________________________________

BUKU MUSIBAH GEMPA PADANG




MUSIBAH GEMPA PADANG [ANTOLOGI PUISI PENYAIR NUSANTARA]

Editor : Dato’ Dr.Ahmad Khamal Abdullah [Kemala]
Penerbit : eSastera/Marba – Kuala Lumpur
Percetakan : BS Print [M] Sdn.Bhd, Kuala Lumpur
ISBN : 978-967-5043-17-8

PARA PENULIS

-Kemala -Akmal Jiwa -Airiel Uzayr -Silfia Hanani -Ahmad Kekal Hamdani-Asep Sambodja
-Hasyuda Abadi -Shahrul Nizam -Benny Tjundawan -Rini Asmoro -Ramlan Abd.Wahab -Ahmad Najiullah Thaib -Haizir Othman -Mokhtar Rahman -Kardy Syaid -Kirana Kejora -M.Faizal Ghozali -Jun An Nizami -Zahrul Bawady M.Daud -Zainal aka -Muhammad Subhan -Sepri Handayani -Viddy AD Daery -Doel CP Allisah -Happy Muslim -A.Muziru Idham -Raja Rajeswari -Seetha Raman -Harsandi Nugraha -Badrul Munir Chair -Nilamsuri -Zera [Gasim Baharun] -Budhi Setyawan -Sarah Sarena -Ratnaputri2 -Yayan R.Triyansayah -A.Rahman Al Hakim -Abdullah Khusairi -Rama Prabu -Mimin -Jack Efendi -Dr.Victor Pogadaev [Rusia] -Emmy Marthala -Arbak Othman -Maulina Muzirwan -Eziz Shukman -Kerisakti -Ahkarim -Zek Marman -Tangerang -Abdullah Jones -Ms.Mokhtar -Hasimah Harun -N.Faizal -Musalmah Mesra -Mohd.Dahri zakaria -Design Night -Azmi Rahman -Kalamutiara -Mokhtar Rahman -Yajuk -Anugrah Roby Syahputra -Pringadi Abdi Surya -Putri Pratama -Kartika Kusworatri -Lim Swee Tin -Haniff Romainoor -Teratakerapung -Wan Nur Ilyani -Wan Abu Bakar -Anbakri -Indah Ip -Elmi Zulkarnain -Haimi Yahya & Fairuz Sulaiman -Juan Einriqie -Yo Sugianto -Fikar W.Eda -A.Rahim Qahhar -Azmi Rahman -HMS Abu Bakar -Fitriani Um Salva -Dwi MitaYulianti -Amien Wangsitalaja -Irwan Abu Bakar -Ahmad Khamal Abdullah.

Inilah sajak saya yang terangkum dalam buku Musibah Gempa Padang;

SEPERTI SUNYI...SEPERTI KELABU KAIN KAFANMU
Seperti kemarin ,
ketika pedati melewati kota kita
kau ingin sekali menaikinya
“aku ingin berkelana ke surga” katamu

Seperti saat ini,
saat aku menatap bangkaimu,
yang remuk tertimpa batu
lalu aku tersuruk
seperti sunyi di barzahmu
(Yogyakarta, 2009)