Sabtu, 27 Februari 2016

Rokat Tase'; Sedekah untuk Penguasa Lautan


Oleh: Badrul Munir Chair
 

Perkampungan Nelayan di Pesisir Ambunten
 

 Dari tepi muara Sungai Ambunten, nampak kerumunan orang-orang yang sedang menghias perahu. Beberapa perahu nelayan ditambatkan di atas hamparan pasir di sisi-sisi muara sungai, beberapa orang yang duduk di atas geladak perahu terlihat sibuk merangkai janur kelapa untuk dijadikan hiasan. Janur yang telah dirangkai membentuk umbul-umbul terlihat telah dililitkan pada tiang perahu.

“Kami sedang bersiap untuk memeriahkan upacara rokat tase’,” tutur Haji Musa, seorang juragan perahu yang sedang menghias dan menebalkan cat di lambung perahunya dibantu empat orang awaknya. Siang baru saja menjelang, namun sengatan matahari bulan November begitu teduh, dan angin yang berembus dari deretan pohon kelapa yang berderet di sepanjang tepi muara Sungai Ambunten membawa kesejukan. Cuaca memang sedang baik akhir-akhir ini, nelayan bisa pergi melaut dengan tenang, ikan-ikan seakan begitu mudah didapatkan. Para nelayan menyebut musim yang seperti ini dengan sebutan mosem poco’ (musim puncak), yaitu musim ketika cuaca sedang berpihak pada nelayan dan ikan tangkapan nelayan begitu melimpah. Untuk mensyukuri nikmat atas penghasilan yang telah mereka dapatkan itulah para nelayan mengadakan upacara rokat tase’ (ruwat laut).

Ambunten merupakan kecamatan yang secara geografis terletak di pesisir utara Kabupaten Sumenep. Berjarak hanya 30 KM dari pusat kota kabupaten dan terletak di jalur pantai utara Madura membuat Ambunten menjadi kota kecil yang terus berkembang. Pusat pemerintahan dan kantor kecamatannya terletak di Desa Ambunten, kecamatan yang mencakup 15 desa/ kelurahan. Desa Ambunten terletak di tepi laut yang dibelah oleh seruas sungai yang berhulu jauh di selatan, Sungai Ambunten, yang menjadi tempat berlabuhnya perahu-perahu nelayan jika sedang rehat melaut.

Raden Werdisastro, seorang pujangga Keraton Sumenep yang hidup pada masa sebelum kemerdekaan, menarasikan Ambunten sebagai salah satu pusat peradaban Madura Kuno. Dalam Babad Songennep (Babad Sumenep), ia menceritakan bahwa dahulu kala, sebuah kerajaan pernah berdiri megah di Ambunten, Kerajaan Mandaraja, berkuasa sekitar abad ke-13 M yang dipimpin oleh seorang Ulama’ yang bergelar Pangeran Mandaraja. Keturunan-keturunan Pangeran Mandaraja inilah yang kelak mendirikan Keraton Sumenep dan menguasai Madura. Maka bisa dikatakan bahwa peradaban Ambunten merupakan sebuah peradaban tua. Di desa inilah konon terletak perpustakaan pertama di Madura. Tapi tujuh abad setelah masa keemasaannya itu, kejayaan Mandaraja seakan tak membekas di Ambunten. Istananya telah runtuh, hanya tersisa rangka bangunan setinggi pondasi. Namun, religiusitas yang diwariskan Sang Ulama’ seakan tak lekang oleh zaman.

Hamparan pasir pantai mulai menghangat. Matahari telah naik sepenggalahan. Orang-orang yang sedang sibuk menghias perahu dan mengecat beberapa bagian perahu terus melakukan pekerjaannya. Upacara rokat tase’ masih akan dilangsungkan besok siang. Pak Hasan, ketua panitia rokat tase’ tahun ini, dating ke tepi pantai Ambunten untuk mengecek persiapan terakhir, sekaligus dating untuk mengundang para nelayan secara lisan untuk ikut acara mamaca nanti malam. Mamaca merupakan tradisi membaca kitab-kitab leluhur yang berbahasa Madura kuno, yang lumrah diadakan menjelang dilaksanakannya upacara-upacara adat.

Dulu, rokat tase’ dilaksanakan secara rutin setiap tahun. Namun sepuluh tahun belakangan, musim semakin sulit diterka, siklus musim semakin kacau. Mosem poco’ tak mesti hadir setiap tahun. Anomali musim dan cuaca juga berdampak pada waktu perhelatan upacara adat seperti rokat tase’ yang pelaksanaannya memang sangat tergantung pada musim dan banyaknya ikan tangkapan nelayan.

Rokat tase’ merupakan salah satu tadisi yang berkembang di masyarakat pesisir Madura, khususnya penduduk yang bermata pencaharian sebagai nelayan. Di masyarakat pesisir Madura, tradisi ruwatan laut itu disebut rokat tase’. Tradisi rokat tase’ konon telah dilangsungkan selama ratusan tahun oleh masyarakat pesisir Madura yang merupakan warisan dari nenek moyang sebagai bentuk rasa syukur kepada Sé Kobasa Tase’ (Sang Penguasa Laut) yang telah memberi mereka penghidupan. Menurut mitos yang berkembang dalam masyarakat pesisir Madura, sosok Sé Kobasa Tase’ dipercayai sebagai pengatur kehidupan di laut, termasuk juga yang melimpahkan ikan-ikan tangkapan kepada para nelayan. Agar nelayan diberi keselamatan ketika melaut dan diberi tangkapan yang melimpah, maka para nelayan merasa harus berterima kasih dengan memberi persembahan kepada Penguasa Laut tersebut.

Seiring dengan bergulirnya waktu, mitos tentang sosok Penguasa Laut itu terus berkembang, terutama ketika pengaruh Islam masuk dan masyarakat Madura mengenal Tuhan Yang Satu. Sosok yang dulunya disebut Sé Kobasa Tase’ itu kini lebih sering disebut Pangéran sé Kobasa Tase’ (Tuhan yang Menguasai Lautan). Masyarakat Madura memang lebih sering menyebut Tuhan dengan sebutan Pangéran.

“Bisa dikatakan, rokat tase’ merupakan sedekah nelayan untuk Pangéran sé Kobasa Tase’,” tutur Pak Mubarak, beliau adalah perpanjangan tangan seorang Kiai yang sangat dihormati di Ambunten—Kiai, bagi orang-orang pesisir Madura yang sangat religius, merupakan sosok sentral yang posisinya bukan sekadar sebagai pemberi fatwa seputar masalah-masalah keagamaan, namun juga sering dimintai pendapatnya mengenai masalah kehidupan sehari-hari.

Lebih jauh Pak Mubarak menuturkan, bahwa seminggu sebelum dilaksanakannya rokat tase’, warga Ambunten khususnya yang berprofesi sebagai nelayan dimintai sedekah berupa uang seikhlasnya. Uang yang terkumpul dari sedekah warga itulah yang nantinya akan digunakan untuk menutupi kebutuhan pelaksanaan upacara rokat tase’.

“Meskipun sebenarnya sedekah dari warga tidak akan cukup,” ucap Pak Mubarak. Mereka harus membeli dua ekor sapi untuk keperluan upacara. Kepala dua ekor sapi itu nantinya akan diarak dan dilarungkan di tengah laut. Belum lagi untuk menutupi kebutuhan-kebutuhan lainnya yang merupakan ‘syarat wajib’ setiap perhelatan rokat tase’ seperti mempersiapkan gunungan berisi aneka buah dan sayuran, membuat miniatur perahu, dan hidangan-hidangan untuk dilarungkan ke tengah laut seperti katopa’ panglobar (ketupat yang dibuat khusus untuk ruwatan), jájján genna’ (aneka jajanan lengkap), lémbur (minuman dari kelapa dan gula aren), bubur beras lima warna (merah, putih, kuning, hijau, dan hitam), telur ayam, dan ayam jantan dan betina yang masih hidup. Panitia banyak dibantu oleh sumbangan Ulama’ dan tokoh-tokoh setempat yang dikenal loyal, juga tentu saja kucuran dana dari pemerintah yang berkepentingan untuk melestarikan budaya lokal.

Sebuah perahu nelayan memasuki gerbang muara Sungai Ambunten. Seorang awak perahu yang baru datang itu menceburkan tubuhnya ke air muara, menarik tali perahu di haluan dan mengarahkan perahu itu menyusuri sungai. Setiap menjelang hari besar keagamaan dan upacara adat, muara Sungai Ambunten akan terlihat sangat padat. Para nelayan memutuskan rehat melaut untuk meramaikan hari besar keagamaan dan upacara adat itu. Perahu-perahu nelayan dilabuhkan di sepanjang muara, diikat kencang pada tiang kayu yang melintang di pohon-pohon kepala. Tiang kayu itu berfungsi sebagai dermaga sekaligus titian para nelayan dari perahu menuju tepi sungai. Masing-masing perahu nelayan memiliki dermaganya sendiri dengan menyewa sebatang pohon kelapa di tepi sungai. Sang pemilik pohon kepala yang disewa nelayan untuk dijadikan dermaga itu tidak dibayar dengan uang, melainkan dengan beberapa ekor ikan setiap nelayan penyewa itu pulang melaut.

Sebagian besar penduduk Ambunten bermatapencaharian sebagai nelayan. Sebagian lainnya bertani, berdagang, dan bekerja di bidang pendidikan. Istri para nelayan umumnya berdagang, menjualkan ikan hasil tangkapan suami mereka ke kota, dan sebagian kecil dari mereka mendirikan pabrik-pabrik rumahan yang memproduksi terasi, petis, dan kerupuk ikan. Terdapat puluhan pabrik rumahan yang mengolah hasil laut, tidak sedikit dari pabrik rumahan itu yang mampu menembus pasar luar negeri dan mengekspor produksi mereka sendiri. Di sisi lain, meski terletak di tepi laut, sawah-sawah di Ambunten cukup subur. Aliran air dari Sungai Ambunten seakan tak pernah mengering meskipun kemarau.

Keluarga nelayan dan petani umumnya memasrahkan pendidikan anak-anak mereka pada seorang Kiai atau guru mengaji. Di Desa Ambunten terdapat belasan pesantren dan surau yang menampung santri tanpa membebani biaya pendidikan yang tinggi, bahkan gratis. Anak-anak nelayan dan petani yang kurang mampu lebih banyak ‘dititipkan’ pada seorang Kiai atau guru mengaji, hidup sederhana menuntut ilmu (bahkan ada yang bermukim) di pesantren-pesantren yang bisa dijangkau dari rumah dengan berjalan kaki. Tidak sedikit pula anak nelayan dan petani yang menempuh pendidikan formal hingga perguruan tinggi. Sekolah-sekolah negeri banyak terdapat di Ambunten, bahkan hampir semuanya berskala nasional. Semua kelompok masyarakat hidup berbaur dengan damai, seakan tidak ada jarak antara anak nelayan, anak petani, dan anak pegawai negeri. “Semua kelompok masyarakat di Ambunten hidup berbaur, apalagi ketika ada acara keagamaan atau tradisi adat seperti ini,” tutur Pak Hasan.

Penuturan Pak Hasan tentang masyarakat yang hidup berbaur ini terbukti ketika dilangsungkan acara mamaca. Ratusan lelaki hadir memenuhi rumah Kalebun (Kepala Desa) Ambunten Timur, duduk di atas tikar yang digelar di beranda rumah dan halaman yang diatapi terpal. Tak ada jurang pemisah antara nelayan, petani, pedagang, pegawai negeri, guru mengaji, bahkan Kiai—semuanya duduk bersama. Dan ketika acara telah dimulai dipimpin oleh Kiai, semua orang larut dalam kekhusyukan. Bahkan ketika bait-bait dalam kitab kuno mulai dilagukan ketika mamaca, semua orang yang hadir nampak mengangguk-anggukkan kepalanya mengikuti irama mamaca.

Sungai Ambunten, tempat para nelayan menambatkan perahu.


* * *

Kepala dua ekor sapi yang baru disembelih itu diikat pada sebatang galah yang melintang pada dua buah tiang. Aroma anyir darah masih menguar di sekitar tanah lapang tempat penyembelihan. Sepasang kepala sapi itu sebentar lagi akan diarak dalam upacara rokat tase’. Sementara di sepanjang Jalan Raya Ambunten, ratusan orang telah menyemut bersiap mengikuti arak-arakan upacara rokat tase’. Belasan lelaki memakai pakaian Sakera duduk di sepanjang tepi jalan menunggu acara dimulai. Sakera sebenarnya merupakan nama seorang tokoh perlawanan rakyat Madura, namun namanya diabadikan sebagai nama pakaian adat. Pakaian adat sakera biasa dipakai lelaki Madura dalam acara-acara adat. Pakaian sakera berupa kaos dalaman bercorak garis-garis horizontal dengan warna merah putih yang bertumpuk-tumpuk, luarannya berupa rompi lengan panjang. Baju bawahannya adalah celana gombrong berbahan kain sepanjang bawah lutut, yang bagian perutnya dililiti sabuk berupa sarung. Di kepala para lelaki itu tersemat udeng. Sementara belasan perempuan memakai jarik dan kebaya. Mereka yang memakai pakaian adat tidak berarti merupakan orang-orang penting, melainkan orang-orang yang sengaja memakai pakaian adat untuk memeriahkan karnaval dan arak-arakan sesajian rokat tase’. Sebagian besar lelaki lainnya memakai sarung dan baju koko, peci hitam melekat di kepala mereka.

“Sebagian besar masyarakat meyakini bahwa rokat tase’ bukan sekadar upacara adat, melainkan juga upacara keagamaan. Rokat tase’ merupakan bentuk rasa syukur atas nikmat dan rizki yang diberikan Pangéran,” tutur Pak Mubarak disela-sela kesibukannya mempersiapkan upacara bersama para panitia. Jalan Raya Ambunten di sebelah timur jembatan yang menghubungkan Sungai Ambunten semakin dipadati oleh ratusan orang yang hendak mengikuti arak-arakan.

Iring-iringan orang yang memanggul sepasang kepala sapi datang beberapa saat kemudian. Di belakang iringan pemanggul kepala sapi itu menyusul rombongan orang yang memanggul gunungan. Selain gunungan, terdapat juga barisan orang yang membawa miniatur-miniatur perahu berisi biji-bijian, buah-buahan, dan umbi-umbian. Di setiap miniatur perahu yang mereka bawa itu terdapat boneka manusia yang terbuat dari tepung, sebagai simbol nelayan yang hendak berlayar mengarungi lautan. Beberapa orang membawa ayam yang masih hidup, ayam yang masih hidup itu nantinya juga akan dilarungkan di tengah lautan. Sesajian yang juga tak luput daklam iring-iringan itu adalah nase’ rasol, nasi yang dibentuk menyerupai miniatur gunung atau kerucut disertai lauk-pauk khusus yang diletakkan di piring atau talam. Selain nase’ rasol, terdapat juga kom-koman—sesaji yang berupa beberapa macam bunga yang diletakkan di dalam suatu wadah besar dan direndam dengan air. Juga ada kembháng telon terdiri dari bunga mawar merah, melati, dan kenanga. Selain sesaji itu, ada juga jájján genna’ (jajanan lengkap) dan dámar ambang. Dámar ambang merupakan pelita yang terbuat dari sekeping uang logam yang berlubang di tengah dan kedalamnya dimasukkan sumbu. Sementara itu asap dupa membubung memenuhi udara.

Suara tetabuhan mulai menggema, pertanda upacara akan segera dimulai. Tetabuhan itu berasal dari kelompok musik saronen. Saronen merupakan gamelan khas Madura untuk mengiringi kegiatan-kegiatan adat, terutama yang sifatnya arak-arakan. Secara harfiah, saronen sebenarnya merupakan nama alat musik tiup khas Madura, yang pada bagian pangkalnya berbentuk pipih yang ditempelkan pada bibir sang peniup. Namun nama saronen ini kemudian digeneralisir, menjadi kesatuan kelompok gamelan khas Madura dengan suara saronen sebagai pengisi suara paling dominan. Ketika saronen ditiup dan gong mulai ditabuh, orang-orang yang berbaris di sepanjang Jalan Raya Ambunten mulai berjalan dan seakan menyesuaikan langkah kakinya dengan irama tabuhan.

Ratusan orang yang ikut mengarak aneka sesajian untuk dilarungkan ke tengah laut itu mulai bergerak meninggalkan Jalan Raya Ambunten, menuju Jalan Perikanan yang merupakan jalan menuju laut utara. Di sepanjang jalan, suara tetabuhan tak henti menggema, riuh tepuk tangan dan hentakan kaki ratusan orang yang berjalan mengiringi dan sesekali menari semakin memeriahkan suasana.

Arak-arakan pembawa aneka sesaji dan sepasang kepala sapi itu berhenti di tepi laut. Sebelum aneka sesaji yang sudah dipersiapkan itu dibawa ke tengah laut dengan menaiki perahu-perahu nelayan yang telah dihias dengan janur kelapa, terlebih dahulu diadakan acara doa bersama. Ratusan orang yang ikut dalam upacara itu kemudian duduk bersila beralaskan pasir pantai untuk mengikuti doa bersama.

“Di laut, kehidupan nelayan memang abhental ombak asapo’ angin,” ucap Kiai Junaid memulai sambutannya sebelum pembacaan doa, “Namun di setiap hembus nafas hidup kita, harus abhental syahadat, asapo’ iman, apajung Allah,” lanjut Kiai Junaid. Di laut, para nelayan memang berbantal ombak berselimut angin, sebuah ungkapan yang menunjukkan betapa besar tantangan menjadi seorang nelayan dan betapa berbahayanya rintangan yang menghadang. Namun dalam setiap hembus nafas kehidupan, Kiai Junadi mengingatkan para hadirin agar ia selalu berserah diri kepada Allah, hidup berbantalkan syahadat, berselimutkan iman, berpayungkan Allah. Sebuah ungkapan yang merupakan wujud kepasrahan dan tunduk kepada kuasa dan hukum Allah. Sambutan Kiai Junaid menguatkan penuturan yang disampaikan Pak Mubarak tadi bahwa rokat tase’ bukan sekadar upacara adat, melainkan juga upacara keagamaan, sebagai bentuk rasa syukur dan kepasrahan kepada Pangéran.

Ketika pembacaan doa selesai, aneka sesaji dan sepasang kepala sapi kemudian dibawa ke atas perahu nelayan yang telah dihias. Hanya orang-orang penting dan tertentu saja yang menaiki perahu nelayan yang dihias itu untuk melarungkan aneka sesaji di tengah lautan, seperti Kiai, tetua adat, perangkat desa, dan para panitia. Sementara orang-orang lainnya yang ingin mengikuti proses larung sesaji itu harus menaiki perahu-perahu nelayan yang juga dipersiapkan di tepi pantai. Iring-iringan perahu nelayan itu kemudian berangkat ke tengah lautan, disaksikan ratusan orang yang menunggu di tepi pantai.

Iring-iringan perahu yang membawa aneka sesaji terus melaju ke tengah laut. Para Peserta duduk di atas geladak salah satu perahu yang ikut iring-iringan itu. Setiap perahu membawa belasan orang sehingga kami harus berdesak-desakan duduk di atas geladak papan. Ketika perahu mulai sampai di tengah laut dengan arus yang cukup tenang, iring-iringan perahu terhenti. Perahu-perahu berjejer, orang-orang di atas bersiap melarungkan sesaji sebagai acara puncak upacara rokat tase’. Aneka sesajian dalam miniatur-miniatur perahu, sepasang kepala sapi, dan gunungan berisi aneka buah dan hasil bumi perlahan-lahan mulai dilepas ke laut dengan iringan gema selawat dan doa-doa pengharapan.

Ketika semua sesaji telah dilarung ke laut lepas, perahu-perahu nelayan satu-persatu mulai kembali menuju pulau. Di atas perahu, para peserta upacara memperbincangkan tentang pengharapan-pengharapan mereka untuk mendapatkan hasil laut yang melimpah dan kehidupan yang lebih membawa berkah. Di atas perahu yang terus melaju menuju Ambunten, tidak sedikit para peserta upacara yang menoleh ke belakang, menatap sedekah para nelayan kepada Sang Penguasa Laut yang baru saja dilarungkan, menatap miniatur-miniatur perahu berisi aneka sesajian yang diombang-ambingkan ombak dan perlahan-lahan mulai tenggelam. []

Sumber Gambar:
 - Perkampungan Nelayan di Pesisir Ambunten, http://www.mitchellkphotos.com/placesnature.html
 - Sungai Ambunten, http://www.panoramio.com/user/5397737?with_photo_id=86043439
"Tulisan ini diikutsertakan dalam Gramedia Blogger Competition Februari 2016" 

Selasa, 15 September 2015

Meninggalnya Seorang Waliyah

Cerpen Badrul Munir Chair (Tribun Jabar, 13 September 2015)




Toko meubel satu-satunya di desa kami itu mendadak disesaki ratusan pelayat ketika matahari baru terbit. Tepat ketika sirine panjang dari masjid di seberang jalan—tanda waktu subuh telah habis—berbunyi, para pelayat sontak melantunkan kalimat tahlil, perempuan-perempuan yang duduk bersila mengitari jenazah itu terus melantunkan doa dan tak sadar menitikkan air mata. Seorang Waliyah telah berpulang, bisik seseorang. Waliyah yang akhir-akhir ini kerap menjadi bahan perbincangan orang-orang itu kini telah meninggal dunia, terbaring tenang di emperan toko yang selama sebulan ini telah menjadi tempat tinggalnya.

Seiring terbitnya matahari pagi yang mulai menerangi desa kami, kerumunan pelayat di emperan toko meubel itu terus bertambah, meluber hingga ke jalan raya kecamatan. Orang-orang saling berdesakan ingin mendekat untuk melihat jasad sang Waliyah, beberapa lelaki nampak sibuk mengatur lalu-lintas jalan raya kecamatan yang mulai tersendat oleh kerumunan para pelayat yang terus berdatangan.

Tak ada yang menyangka bahwa perempuan yang kami yakini sebagai Waliyah itu akan meninggal di desa kami, mengembuskan nafas terakhirnya di emperan toko meubel Haji Salani. Subuh tadi seperti biasanya perempuan itu datang ke masjid, keluar lebih awal seusai shalat jamaah untuk kembali ke emperan toko Haji Salani. Setelah mengganti mukenahnya dan mengambil kitab suci, biasanya ia akan kembali lagi untuk mengaji di komplek pemakaman Wali di samping masjid. Tapi pagi tadi, tak seperti biasanya perempuan itu malah terbaring tenang beralaskan tikar pandan di emperan toko meubel itu.

Awalnya kami mengira bahwa perempuan itu sedang tidur, mungkin kelelahan. Namun ketika perempuan-perempuan penjual sayur yang setiap pagi biasa berjualan di emperan toko meubel itu datang dan hendak menggelar dagangannya, ia tidak bisa dibangunkan. Ia benar-benar tertidur pulas untuk selama-lamanya, sehingga membuat gempar penduduk desa.

Berita duka kemudian tersebarlah.

Kami seakan ditinggalkan seseorang yang teramat penting dalam kehidupan kami. Semenjak kedatangannya yang secara tiba-tiba pada awal bulan puasa lalu, perempuan itu, dalam waktu yang singkat, sedikit-banyak telah membawa perubahan dalam kehidupan kami, menjadi penyejuk bagi kehidupan kami di tanah yang kering dan gersang ini.

Perempuan itu mungkin menemukan tempat tinggal yang nyaman di desa kami, desa kecamatan tepi pesisir yang di sepanjang tepi jalan rayanya dijejali belasan toko cinderamata yang seringkali dikunjungi para peziarah yang datang dari luar kota. Ia datang pada minggu pertama bulan Ramadan, sehingga semula kami mengira bahwa perempuan itu adalah musyafir yang tengah melakukan rihlah untuk mencari berkah di bulan suci. Sebagaimana Ramadan tahun-tahun lalu, memang banyak orang asing singgah di desa kami untuk berziarah ke makam Wali. Tapi perempuan itu berbeda dari musyafir dan peziarah kebanyakan. Jika biasanya musyafir dan peziarah yang datang ke desa kami menghabiskan waktunya untuk beri’tikaf di masjid, perempuan itu justru lebih banyak duduk di emperan toko meubel, sehingga wajar jika sebagian dari kami menganggapnya gelandangan, bahkan tidak sedikit dari kami yang menganggap perempuan itu gila.

Bagaimana tidak? Ia—perempuan yang hingga hari kematiannya tidak kami ketahui nama dan asal-usulnya itu, seringkali bertingkah ganjil. Pada hari kedatangannya, ia sudah bertindak aneh dan membuat kami merasa heran. Perempuan itu membuat keributan kecil di halaman masjid karena ia hendak keluar dari gerbang masjid dengan masih memakai mukenah inventaris masjid, yang tidak boleh dibawa pulang. Penjaga masjid sontak langsung menegur perempuan itu, mengingatkannya untuk mengembalikan mukenah yang dipakainya ke dalam masjid. Perempuan itu hanya tersenyum aneh sambil menunjuk toko meubel di seberang jalan, lalu berlalu begitu saja meninggalkan kami tanpa sepatah kata pun.

Setelah beberapa hari, kami mulai terbiasa dengan tingkah ganjil perempuan itu, bahkan mengenali kebiasaannya. Ia adalah orang pertama yang datang ke masjid pada waktu subuh. Sebelum azan berkumandang, perempuan itu sudah berada di masjid, duduk bersila di dekat pintu masuk jamaah perempuan. Ia akan menyalami perempuan yang datang ke masjid satu-persatu. Ketika shalat jamaah dimulai, ia akan berdiri di barisan paling belakang, dan setelah jamaah usai, ia akan kembali menyalami setiap jamaah perempuan yang hendak keluar dari masjid. Perempuan itu kemudian akan menuju emperan toko meubel di seberang jalan, melipat dan menyimpan mukenahnya di salah satu lemari dagangan Haji Salani, lalu, dengan memeluk Alqurannya, ia akan kembali menyeberang jalan menuju komplek pemakaman Wali di samping masjid, dan mengaji di sana hingga waktu dhuha tiba.

Rutinitasnya sehari-hari hanya dilakukan di tiga tempat: mandi dan beribadah di masjid, mengaji di makam Wali, dan beristirahat di emperan toko meubel Haji Salani. Setelah seharian berkutat di masjid dan makam Wali, menjelang maghrib ia akan duduk di emperan toko meubel menunggu waktu berbuka, asyik menggumam sendiri hingga azan berkumandang. Biasanya ia akan berbuka bersama di masjid, tak jarang juga ada orang yang bersedekah mengantar makanan untuknya ke emperan toko meubel itu. Haji Salani yang dikenal dermawan, tak pernah sekali pun mengusir perempuan itu dari emperan tokonya, bahkan ia memberinya tikar dan merelakan salah satu lemari dagangan di emperan tokonya untuk dipakai perempuan itu menyimpan pakaiannya—yang jumlahnya hanya beberapa potong.

Perempuan itu jarang sekali berbicara, kalau pun berbicara, ia hanya mengucapkan beberapa patah kata. Ia lebih banyak menggumam dan, ketika menggumam, ia seakan sedang bercakap dengan seseorang. Sering kami perhatikan perempuan itu menggumam sendiri di emperan toko, gumamannya terdengar berirama, seperti bersenandung.

Desas-desus seputar asal-usul perempuan itu pun kemudian merebaklah. Ada yang mengatakan, perempuan itu dulunya adalah istri seorang Kiai, yang menjadi gila karena dimadu oleh suaminya. Ada pula yang curiga perempuan itu adalah orang yang hilang ingatan. Kecurigaan itu mungkin wajar, sebab setiap kami mencoba berbicara dengan perempuan itu dan menanyakan tentang keluarga dan asal-usulnya, perempuan itu hanya tersenyum ganjil seperti orang linglung. Seseorang lainnya memberi kesaksian bahwa dulu ia sering melihat perempuan itu mengemis di Masjid Jami’. Namun desas-desus yang terus bermunculan, justru semakin mengaburkan tentang siapa perempuan itu dan dari mana sebenarnya ia berasal.

Yang benar-benar kami tahu dari perempuan itu adalah, ia sangat rajin beribadah. Sepanjang hari ia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan shalat dan mengaji. Perilaku ganjilnya seakan tak membekas ketika perempuan itu sedang shalat dan mengaji. Shalatnya sangat tenang dan khusyuk, dan jika mengaji, suaranya indah sekali. Sering kami mencuri dengar setiap perempuan itu sedang mengaji, ia mengaji dengan sangat merdu. Ayat-ayat suci yang terlantun dari bibirnya seakan mampu membawa kesejukan. Setiap mendengar perempuan itu mengaji, entah kenapa kami selalu teringat akan dosa-dosa kami, menyadari bahwa iman kami masih jauh dari sempurna. Suara merdunya ketika mengaji, seringkali membuat kami tidak sadar menitikkan air mata.

Kiai Damhuri, ulama terkemuka di desa kami, dalam sebuah ceramahnya bahkan sampai menyinggung ketaqwaan perempuan itu. “Kalau aku harus menyebut siapa orang yang membuatku malu di hadapan Allah—dalam urusan ibadah, maka perempuan itulah orangnya.” Dan tentang suara merdunya ketika mengaji, Kiai Damhuri berkata, “Suara perempuan itu akan lebih dulu sampai di surga bahkan sebelum hari kematiannya.”

Ceramah Kiai Damhuri itu sontak membuat kami menarik kesimpulan bahwa perempuan itu bukanlah orang sembarangan.

“Bukan tidak mungkin kalau perempuan itu adalah Waliyah yang diutus Allah untuk menguji kadar keimanan kita.”

“Iya. Tidak ada yang mampu mengetahui kewalian seseorang kecuali seorang Wali. Dawuh Kiai Damhuri tempo hari, menyiratkan bahwa perempuan itu bukanlah orang sembarangan.”

 “Mungkin perempuan itu adalah Wali Majnun.”

“Betul, memang ada di antara Wali Allah yang jadzab—bertindak di luar kewajaran manusia normal seperti kita, bahkan kelakuannya seringkali mendekati kegilaan.”

“Barangkali ia telah sampai pada puncak pencarian akan Tuhannya, sehingga lupa akan dirinya dan tertutupi dari segala hal yang bersifat duniawi.”

“Wallahu a’lam.”

Maka sejak Kiai Damhuri menyinggung perempuan itu dalam ceramahnya, kami tersadar bahwa iman kami masih jauh dari sempurna, bahwa kami sering lalai dalam menjalankan perintah agama. Kami mulai tergugah untuk memperbaiki ibadah kami, saling berlomba-lomba melakukan kebaikan dan beribadah di bulan suci. Masjid yang semula sepi kini selalu penuh setiap memasuki waktu shalat. Suara lantunan ayat suci terdengar lagi dari masjid-masjid seluruh penjuru desa. Ramadan kami menjadi jauh lebih khidmat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

* * *

Selepas dimandikan, jasad perempuan itu disemayamkan di dalam masjid. Ribuan pelayat yang sejak tadi memenuhi emperan toko meubel dan jalan raya mulai merangsek ke halaman masjid, saling berdesakan, berebut tempat untuk ikut menyalatkan. Masjid dan jalan raya kecamatan itu mendadak menjadi rumah duka. Di tengah riuh-rendah suara takbir dan tahlil para petakziah, Kiai Damhuri memberikan sambutan singkatnya, bahwa desa ini telah kehilangan salah satu orang terbaiknya; dan beliau memohon izin kepada masyarakat agar berkenan bila perempuan itu dikuburkan di komplek pemakamanWali.

Maka pekik takbir kemudian kembali berkumandang, menggema menembus sekat-sekat ruang. Ketika keranda perempuan itu mulai ditandu keluar dari pintu masjid, tak sedikit dari kami yang menangis, menyadari bahwa kehadirannya yang singkat di tengah kehidupan kami, telah membawa kesejukan dan perubahan yang besar dalam kehidupan kami. Di tengah riuh-rendah kumandang tahlil yang tak putus, di tengah ribuan pelayat yang mengiringi sang Waliyah menuju tempat peristirahatan terakhirnya, tak sedikit dari kami yang diam-diam bersyukur, bukan atas kematian perempuan itu, melainkan atas nikmat Allah yang telah memberikan hidayahnya kepada kami, meski harus melalui sosok seorang perempuan gila. []

                                                                        /Yogyakarta, 2015.

Catatan:

Waliyah: wali perempuan; Rihlah: perjalanan; Dawuh: perkataan; Majnun: gila.

Lukisan: "Nogales Beggar Woman", painting-pastel on canson by Shirley Leswick, 2007.

Kamis, 30 Juli 2015

Anak Kemenakan Lanun

Cerpen Badrul Munir Chair (Riau Pos, 12 Juli 2015). Termaktub juga dalam Hikayat Bunian (Kumpulan Cerpen Pilihan Riau Pos 2015).


Ketika sore yang hangat mulai beranjak dan bulan purnama bersiap menggantikan matahari yang hampir tenggelam, paman mempercepat laju perahunya dan menyuruh anak-anak buahnya mempersiapkan peralatan. Bukan jaring atau pukat penangkap ikan, melainkan celurit dan parang. Aku berangkat dari pulau dengan perasaan menggebu-gebu, tapi entah kenapa nyaliku menciut begitu sampai di tengah laut dan menyadari bahwa hari semakin gelap dan kelabu.
Tiba di jalur perlintasan kapal-kapal sebelum matahari tenggelam, kulihat perahu-perahu lain yang lebih dulu tiba sedang mengatur jarak dan posisi. Sejauh pandanganku sebelum matahari semakin kabur, ada empat perahu lain yang berada tak jauh dari jangkauan penglihatan kami. Paman menghentikan perahu, kemudian menurunkan jangkar perlahan-lahan ke dasar lautan dengan mengulurkan tali tambang yang terikat pada ujung jangkar.
Setelah jangkar dilepas paman, kami diam hening dan duduk menunggu. Tak ada yang berani memulai pembicaraan. Aku sibuk mengatur nafasku yang semakin terpatah-patah karena terlalu tegang sepanjang perjalanan. Kulihat paman tersenyum kepadaku, sembari melemparkan botol berisi air. Aku meneguk air dalam botol itu hingga tandas separuhnya.
* * *
“Jangan beri tahu emakmu,” kata paman pada malam sebelum kami berangkat. Aku mengangguk. Emak sedang sakit, beliau tentu akan cemas dan mungkin sakitnya akan bertambah parah jika beliau tahu aku ikut berlayar dengan paman. Aku terpaksa akan berbohong pada emak, pergi meninggalkan beliau dan adikku yang masih berumur empat bulan yang sering menangis minta netek padahal air susu emak jarang bisa keluar karena beliau sedang sakit dan badannya kurus kering karena terlalu sering menahan lapar. Sementara abah pergi meninggalkan kami ketika kandungan adikku masih berumur empat bulan dan sejak itu abah tidak pernah mengirim kabar. Emak bilang, abah pergi mengadu nasib ke negeri tetangga, mencari nafkah untuk kami dan untuk persiapan kelahiran adikku.
Semenjak emak mengetahui pekerjaan abah, emak memarahi abah dan meminta abah berhenti dari pekerjaannya. Setahuku, itu pertama kalinya emak marah sambil meraung-raung di depan abah. Abah menuruti permintaan emak untuk meninggalkan pekerjaannya lebih karena beliau mengkhawatirkan janin yang sedang dikandung emak.
“Apa sudah tidak ada ikan di laut, Bang, sampai kau tega merampas harta orang?!” Abah hanya diam, beliau tidak menimpali pertanyaan emak, sebab kami sama-sama mengerti, sebelum abah menjalani pekerjaan yang dianggap emak keji, abah jarang sekali mendapatkan ikan tangkapan. Kata abah, laut di perairan tempat biasa beliau menangkap ikan sudah tercemar dan ditinggalkan ikan-ikan, dan perahu kecil abah tidak akan mampu menerjang ombak di perairan lain yang ombaknya lebih tinggi. Sementara di perairan dekat pulau karang-karangnya sudah hancur karena nelayan terlalu sering menangkap ikan menggunakan bom molotov.
Abah mengalah dan kembali ke pekerjaan lamanya menangkap ikan di perairan yang sudah tercemar, dan seringkali pulang dengan raut wajah putus asa. Tak jarang abah pulang hanya membawa kepiting-kepiting karang yang besarnya hanya separuh telapak tanganku. Terpaksa emak memasak kepiting karang yang bau lumutnya begitu menyengat itu sebab tak ada lagi yang bisa kami makan. Kepiting itu sedikit sekali dagingnya, sehingga tak jarang kami kunyah dan telan juga cangkangnya yang tidak terlalu keras untuk mengganjal perut kami yang lapar. Jangan pernah tanyakan tentang nasi. Nasi, bagi sebagian besar penduduk di pulau kami yang kecil dan terpencil ini, hanya bisa diperoleh dengan jalan yang dianggap emak sebagai pekerjaan keji.
* * *
“Berapa umurmu, Jang?” tanya paman membuka pembicaraan ketika kami sedang suntuk menunggu. Matahari sudah lama redup dan berganti cahaya purnama yang cahayanya memantul ke permukaan air tenang tempat kami menurunkan jangkar. Kata paman, malam purnama adalah waktu paling sempurna untuk merompak. Kemilau cahaya bulan akan membantu kami melihat tongkang yang hendak melintas dari kejauhan.
“Dua belas, Paman. Selisih empat tahun dari Wail,” jawabku dengan bibir bergetar, kecemasan terus melandaku selama kami dalam pengintaian. Wail adalah adik kandungku yang dipungut paman. Paman tak punya anak, sedang abah merasa sudah tak mampu untuk memberinya makan, jadilah Wail diasuh paman.
“Dulu, aku baru berani melaut ketika umur lima belas. Kamu hebat, Jang,” ucap paman memujiku. Aku tahu, paman sedang berusaha menenangkanku. “Ingat, nanti kau tunggu saja di atas perahu, jangan ikut melompat ke atas tongkang. Terima saja barang-barang yang kami ulurkan.” Aku mengangguk.
Paman berulang-ulang mengingatkan anak-anak buahnya untuk mengikuti komando, jangan bertindak sendiri-sendiri. Ada enam orang di atas perahu paman. Nanti, dua orang—termasuk aku—akan menunggu di atas perahu, sementara empat orang lainnya akan melompat ke atas tongkang yang kami hentikan untuk mengambil barang-barang.
“Jangan takut, Jang. Awak-awak tongkang itu tak bersenjata, dan paling banyak hanya sepuluh orang. Mereka akan ciut melihat kita membawa celurit dan parang. Apalagi, awak-awak perahu lain di sana akan membantu kita melumpuhkan mereka,” ucap paman sembari menunjuk perahu-perahu lain yang bisa kami lihat di kejauhan meskipun lampu-lampu perahu itu dimatikan. Cahaya bulan purnama benar-benar membantu kami dalam pengintaian ini. Jika ada tongkang yang terlihat di kejauhan, kami akan mengangkat jangkar, lalu memindahkan perahu kami untuk menghadang jalur tongkang itu. Empat perahu lain di sekitar kami akan melakukan hal yang sama. Kata paman, tongkang yang melintas di perairan ini biasanya memuat bahan-bahan makanan, kami akan mengambilnya sebagian.
* * *
Bulan purnama bersinar tepat di atas perahu kami ketika sebuah tongkang terlihat melintas di kejauhan. Kami yang semula hanya duduk menunggu seketika bergegas mengangkat jangkar, seseorang menyalakan mesin perahu, seorang lagi menyalakan lampu pertomaks dan menggantungnya di tiang bagian buritan perahu. Kami sengaja menyalakan lampu petromaks itu setelah tongkang mulai mendekat, sebab jika kami menyalakannya ketika jarak tongkang masih jauh, tongkang itu akan berbelok ke jalur yang lain sebab biasanya tongkang akan menghindari perahu-perahu nelayan yang lebih kecil. Namun jika kami menyalakan lampu ketika tongkang mulai mendekat, biasanya tongkang itu akan memperlambat lajunya, maka perahu kami akan semakin mudah menghadang tongkang itu di depannya. Siasat itu berulang kali dikemukakan paman di sepanjang perjalanan.
Kulihat tongkang itu mulai mendekat. Perahu kami siap menghadang di depannya. Di sekitar kami, kulihat empat perahu lain juga bersiap menghadang laju tongkang itu. Tubuhku semakin gemetar. Aku tahu, inilah saat-saat paling genting. Paman bilang, bahaya terbesar dari rencana kami adalah ketika kami gagal menghadang laju tongkang dan kemudian perahu kami tertabrak. Ketika sudah berhasil menghentikan dan naik ke atas tongkang, kata paman, semuanya akan lebih mudah.
Tongkang itu memelankan lajunya. Kulihat paman tersenyum. Tubuhku tak lagi segemetar tadi. Paman melambai-silangkan kedua tangannya untuk memberi tanda agar tongkang itu berhenti. Tongkang itu pun berhenti tak jauh dari perahu kami, perahu kami merapat di sisi lambung tongkang itu. Paman melompat ke tangga yang menggantung pada lambung tongkang itu dengan membawa parangnya. Langkah paman diikuti oleh tiga anak buahnya, naik ke tangga di lambung tongkang dengan menggenggam celurit dan parang. Aku ditemani seorang anak buah paman yang lain menunggu di atas perahu tak jauh dari tangga.
Dari atas perahu, kulihat tumpukan karung beras di atas tongkang, juga tumpukan karung-karung lain yang entah apa isinya. Aku membayangkan sebagian karung-karung itu tak lama lagi akan berpindah ke atas perahu kami, lalu akan kami bawa pulang ke pulau. Aku tak peduli jika emak memarahiku karena mengetahui aku ikut perahu paman dan pulang membawa beras, yang penting kami bisa makan. Aku ingin emak cepat sembuh. Emak butuh makan biar tidak gampang sakit-sakitan, adik bayiku juga butuh air susu emak. Di atas tongkang itu pasti juga ada susu dan bahan-bahan makanan lain. Aku berharap paman dan anak-anak buahnya juga membawa turun susu buat adikku.
Suasana sesaat hening. Perahu-perahu lain mulai merapat pada sisi tongkang. Aku hanya bisa menerka apa yang sedang terjadi di atas tongkang itu. Mungkin paman sedang mengumpulkan para awak tongkang itu dan mengancam mereka dengan parang. Aku hanya bisa menunggu. Sejenak kemudian terdengar suara percakapan yang disusul suara tembakan.
“Lompat!” seseorang berteriak. Aku tahu itu suara paman.
Tak lama kemudian terdengar suara debur air pertanda ada orang yang melompat. Kulihat perahu-perahu lain yang semula merapat ke tongkang itu seketika menghindar setelah mendengar suara tembakan. Mesin tongkang itu kembali menyala, perlahan-lahan melaju dan semakin menambah kecepatan. Aku memperhatikan tongkang itu dengan mata nanar.
Di buritan perahu, kulihat seorang anak buah paman naik ke atas perahu dengan pakaian basah kuyup. “Pamanmu tertembak,” katanya dengan suara parau.
Aku menangis sambil berusaha mencari-cari paman di lautan. Dalam tangisku kulihat bayangan wajah paman yang sedang menahan sakit terkenan tembakan, bayangan wajah emak yang semakin kusut dan badannya yang kurus kering, bayangan wajah Wail dan adik bayiku yang tak henti-hentinya menangis karena kelaparan. []
(Yogyakarta, Februari 2015)


Minggu, 26 Juli 2015

Penumpang Perahu Berbaju Pengantin

Cerpen Badrul Munir Chair (Sinar Harapan, 4-5 Juli 2015).


Meski cuaca sedang buruk dan belasan perahu yang sebelumnya telah berangkat kembali pulang menepi, rombongan pengantin itu tetap akan berangkat ke pulau seberang. Bagaimana pun, tanggal dan waktu sudah ditentukan. Di sana, di kejauhan pulau di balik pekat kabut itu, perhelatan pernikahan tengah dipersiapkan; keluarga besar mempelai perempuan sedang menunggu.
Ia, lelaki berbaju pengantin itu, melangkah ragu di atas dermaga kayu, berjalan pelan menuju perahu kecil diiringi rombongan pengantar pengantin yang membawa aneka hantaran dan mahar pernikahan. Mereka telah terlambat dua jam dari jadwal keberangkatan. Seharusnya rombongan pengantin itu berangkat sebelum jam enam pagi, sebab akad nikah akan dihelat jam sepuluh pagi ini. Tapi sejak semalam angin begitu kencang, hujan angin terus turun hingga pagi hari dan, ketika rombongan pengantin itu tiba di pelabuhan, cuaca belum juga membaik.
Pemimpin rombongan iringan pengantin itu, lelaki tertua di antara mereka yang ditunjuk sebagai juru bicara pihak keluarga mempelai laki-laki dalam acara pernikahan nanti, memutuskan mereka harus tetap berangkat. Perahu yang akan mereka naiki sudah siap semenjak tadi. Menunggu cuaca membaik di musim pancaroba seperti ini hanya akan dipermainkan waktu. Cuaca pancaroba selamanya tak akan mudah diterka. Maka ketika pemimpin rombongan itu mengambil keputusan untuk segera berangkat—karena mereka sudah terlambat—rombongan pengantin itu mau tak mau segera naik ke atas perahu, meski di hati mereka terbesit sedikit ragu, memikirkan cuaca buruk yang akan menghambat mereka di tengah perjalanan nanti.
“Jika kita berangkat sekarang, keluarga besan tidak akan cemas menunggu terlalu lama. Kalau lancar, kita bisa sampai di sana dalam 3 jam, belum terlalu terlambat,” ucap pemimpin rombongan itu meyakinkan. Tak ada satu pun anggota rombongan yang menyahut. Mereka tahu, mengharapkan perjalanan lancar di tengah cuaca yang tidak menentu ini tak ubahnya mengharapkan hujan di puncak musim kemarau. Sementara lelaki berbaju pengantin itu duduk bersila di atas geladak papan, bersandar pada tiang tengah perahu. Sorot matanya tajam, memandang ke arah yang sangat jauh di depan, seakan-akan yang berada jauh di depan itu adalah ‘pulau harapan’, pulau tempat akan dilangsungkannya resepsi pernikahan.
Ketika perlahan-lahan perahu mulai melaju meninggalkan pelabuhan, lelaki berbaju pengantin itu tak lagi mengarahkan pandangannya ke depan. Menatap kabut yang teramat pekat di depan hanya akan membuatnya semakin cemas. Lalu diperhatikannya wajah-wajah para kerabat yang mengiringinya, duduk berimpitan di atas geladak papan sambil memangku hantaran. Hampir tak ada lagi ruang untuk sekadar meluruskan kaki. Perahu ini mungkin memang terlalu kecil untuk dinaiki belasan orang. Untuk sampai di pulau yang mereka tuju, tak ada lain pilihan selain menaiki perahu nelayan. Mereka bisa saja menyewa dua perahu untuk mengangkut anggota rombongan. Namun dalam kondisi cuaca yang seperti sekarang, jarang sekali ada nelayan yang mau mengantar mereka ke seberang meski dengan bayaran mahal. Perahu yang sedang mereka naiki merupakan perahu milik kerabat mereka sendiri, yang tak mungkin bisa menolak ketika dimintai bantuan untuk mengantar mereka, seburuk apa pun kondisi cuaca.
“Rasanya tak salah bila para tetua kita sering berkata .... berumah tangga itu tak ubahnya seperti berlayar di lautan,” ucap lelaki tua pemimpin rombongan berusaha memecah keheningan, “Akan selalu ada ombak yang menghadang, ada badai yang mengintai.”
“Mungkin karena para tetua kita banyak yang menikah dengan orang dari pulau seberang, maka mereka mengandaikan pernikahan layaknya sebuah pelayaran. Untuk sampai di pulau tujuan, rintangannya memang berat.”
“Semoga kita selamat,” sahut seseorang. Yang lain mengangguk mengamini.
* * *
Marwan mengenal Silmi di pelabuhan, tujuh bulan yang lalu, suatu siang ketika gadis itu hendak memindahkan barang-barangnya dari mobil angkutan ke atas perahu. Marwan baru saja memindahkan beberapa karung beras milik seorang juragan ke atas perahu ketika melihat seorang gadis melambaikan tangan memanggilnya, memintanya memindahkan beberapa karung bahan makanan ke atas perahu.
Marwan memikul barang-barang bawaan gadis itu ke atas perahu yang ditunjuk. Oleh pemilik perahu yang hendak ditumpangi gadis itu, Marwan dibisiki bahwa gadis itu masih lajang.
“Sendirian saja?” tanya Marwan setelah gadis itu membayar upahnya. Gadis itu hanya tersenyum. Pertanyaan-pertanyaan lain pun kemudian keluar dari mulut Marwan. Sebagaimana kuli-kuli pelabuhan lainnya, Marwan sesekali menggoda perempuan menarik perhatian yang bepergian sendirian. Apalagi jika perempuan itu masih lajang.
Pertemuan kedua terjadi sebulan kemudian. Silmi kembali meminta bantuan Marwan untuk memindahkan barang-barang belanjaannya ke atas perahu. Silmi datang ke pulau ini setiap bulan, berbelanja kebutuhan-kebutuhan pokok; beras, mie instan, kopi kemasan, bumbu-bumbu masak, dan makanan-makanan ringan. Pada pertemuan mereka yang kedua itu, Silmi bercerita tentang ayahnya yang mulai sakit-sakitan, sehingga tugas berbelanja kebutuhan pokok yang semula dikerjakan ayahnya kini harus dikerjakannya.
“Boleh aku ikut mengantar ke rumahmu?” pinta Marwan, suatu hari pada pertemuan yang lain.
“Rumahku jauh, di Gili. 3 sampai 4 jam dari sini.”
“Aku tahu. Aku bahkan pernah ke Pulau Sepekan. Lebih jauh toh, dari rumahmu?”
“Kalau ikut, kamu akan sulit pulang kembali ke sini. Perahu dari Gili tidak berangkat tiap hari. Kecuali kamu punya kenalan nelayan.”
“Baiklah, aku akan mengantarmu lain kali.”
Marwan benar-benar ikut mengantar Silmi pada pertemuan mereka berikutnya. Pemilik perahu yang mereka tumpangi berjanji akan kembali ke pelabuhan ini keesokan harinya untuk membawa udang-udang tangkapan nelayan dari sana. Marwan bisa ikut, bermalam di sana. Pemilik perahu itu bahkan menawarkan Marwan untuk menginap di rumahnya. Tanpa berpikir panjang lagi, Marwan ikut mengantar gadis itu. Sepanjang perjalanan Marwan duduk berdekatan dengan gadis itu, saling bertukar cerita, sehingga perjalanan panjang nan melelahkan menuju pulau tempat tinggal gadis itu tidak begitu ia rasakan.
* * *
Perjalanan kali ini terasa jauh lebih berat dibandingkan ketika ia mengantar gadis itu pertama kalinya, juga jauh lebih melelahkan dibandingkan ketika perjalanan melamar gadis itu sebulan yang lalu. Gerimis dan kabut kini menjadi teman sepanjang perjalanan. Yang paling mengkhawatirkan dari perjalanan di tengah cuaca buruk begini adalah kondisi alam yang begitu cepat berubah. Hujan rintik-rintik seketika bisa berubah menjadi hujan deras yang disertai badai, dan ombak tenang sewaktu-waktu bisa berubah menjadi besar. Kekhawatiran lain timbul karena terlalu banyaknya muatan. Beban yang berat membuat lambung perahu semakin rendah, semakin dekat dengan permukaan air. Tempias air laut akan semakin mudah masuk ke dalam perahu. Mereka harus bergantian menguras air laut yang masuk menggenangi palka.
“Ini sudah hampir jam 10 dan kita belum separuh perjalanan.”
“Jangan dulu memikirkan waktu. Lebih baik terlambat daripada harus mempertaruhkan keselamatan.”
“Mereka pasti akan terus menunggu. Orang pulau tahu beratnya rintangan di tengah lautan.”
“Dalam perjalanan di tengah cuaca seperti ini, jarak tak lagi bisa diukur dengan waktu.”
Semakin jauh perahu berjalan, semakin pekat kabut yang menghadang. Jarak pandang mereka tak lagi sejauh sebelumnya. Ombak yang bergulung semakin tinggi membuat tempias air yang masuk ke dalam perahu semakin menggenangi palka. Lambung perahu semakin dekat dengan permukaan air, laju perahu menjadi semakin melambat.
Di tengah kondisi lambung perahu yang semakin rendah, akhirnya pemilik perahu itu menyerah. “Jika kita tetap memaksa melanjutkan perjalanan, bukan tidak mungkin kita akan tenggelam.”
“Kita akan kembali?” tanya lelaki berbaju pengantin itu, dengan suara parau.
“Bukankan di tengah cuaca seperti ini, memilih kembali akan sama beratnya dengan tetap melanjutkan perjalanan? Sebaiknya kita tetap ke sana,” ucap lelaki tua pemimpin rombongan itu.
“Tapi setidaknya perjalanan kembali jauh lebih dekat. Kita belum separuh perjalanan.”
Tak lama setelah pemilik perahu itu mengusulkan untuk kembali, hujan turun dengan derasnya. Terpal yang menjadi atap perahu seakan diterpa ribuan kerikil. Secepat mungkin pemilik perahu itu berusaha memutar haluan. Mendapati cuaca yang semakin buruk dan membahayakan keselamatan mereka, mau tak mau lelaki tua pemimpin rombongan itu menerima usul si pemilik perahu. Lebih baik kembali dengan raga masih dibalut nyawa daripada pulang hanya tinggal nama. Dibandingkan dengan dirinya, nelayan pemilik perahu itu memang jauh lebih mengerti tentang rahasia lautan.
Ketika perahu mulai berbalik arah, dan perlahan-lahan perahu semakin menambah kecepatannya untuk kembali ke pelabuhan, lelaki berbaju pengantin itu menoleh ke belakang. Ditatapnya kabut dan tumpukan awan di langit yang berwarna kehitaman. Dengan sorot mata yang redup, berkali-kali ditolehnya pekat kabut di belakang, seakan-akan yang berada jauh di balik pekat kabut itu adalah ‘pulau harapan’. Pulau yang gagal ia jelang. []
                                                                        /Sumenep-Yogyakarta, 2015.

Gambar: "Fishing Boat" lukisan acrylic, oleh Edward Abela.

Selasa, 09 Juni 2015

Wacana Budaya dalam Suatu Teks; Membaca Novel Kalompang Badrul Munir Chair



Oleh: Moh. Fathoni )*

Karya sastra, bagi saya, bukan sekadar catatan atau tulisan yang ditulis tanpa gagasan atau sesuatu yang ditulis tanpa muatan apa-apa. Tetapi barangkali pandangan ini cukup berlebihan jika semua karya sastra dianggap dan dinilai atau disajikan dengan pemikiran yang berisi gagasan besar, atau memuat hal-hal yang perlu dan penting, dihasilkan dari perenungan yang mendalam seorang pengarang. Sehingga, karya sastra yang demikian akan dibaca sebagai wujud penggambaran suatu kehidupan, sebagai pengalaman seorang manusia.

:::

Dunia dalam suatu teks. Begitu pandangan Clifford Geertz, seorang eksponen antropolog, dalam  suatu ceramah Musim Semi tahun 1983 di Stanford University. Beberapa tahun kemudian, dia menjelaskan bahwa apa yang pernah disampaikannya itu berorientasi tekstual. Yakni meski dibicarakan dalam kepentingan antropologi yang cenderung bersifat biografis dan historis, tetapi dia menegaskan bahwa wacana teks dalam antropologi kurang diperhatikan,  dan untuk itulah perlu digunakan cara pandang kesusastraan.

Kemudian, dalam buku-bukunya dia menggugat banyak hal, terutama hal-hal yang mendasar. Apa yang fakta dan fiksi, yang selama itu dianggap berbeda dan pasti jawabnya, dia pertanyakan. Lebih jauh menurutnya, dalam banyak hal yang disebut fakta sesungguhnya merupakan sesuatu yang fiktif. Sedangkan apa yang disebut fiksi tak sepenuhnya subjektif atau imajinatif. Sebuah karya sastra tak dapat lepas dari pergumulan dan pengalaman sosialnya. Pun, suatu karya ilmiah tak serta merta mengklaim mengandung fakta. Akhirnya, "fakta" atau "fiksi" merupakan suatu konstruksi dan tafsiran yang memilih bentuk dan cara penyajian sesuai dengan kepentingannya masing-masing, pilihan saintifik atau estetik.

Cara pandangannya yang menentang kemapanan ilmu-ilmu sosial menjalar pula dalam ranah kesusastraan, terutama dalam hal penafsiran. Tahun 1986 menyeruak isu  yang lebih provokatif mengenai wacana "krisis representasi" dan "krisis legitimasi", diantaranya disuarakan dalam buku Writing Culture (1986).

Gugatan atas kemapanan otoritas nilai yang fakta Clifford Geertz bukan yang pertama, pendekatan melalui cara pandang bahasa sebelumnya pernah dikemukakan Levi-Strauss, yang juga berlatarbelakang seorang antropolog.  Menurutnya, bahasa dan kehidupan kebudayaan saling pengaruh-mempengaruhi. Bila Levi-Strauss berpandangan dengan model lingustik-struktural, maka Clifford Geertz lebih pada persoalan makna, titik tekannya pada ranah interpretasi. Jika Levi-Strauss menggunakan nalar simbolis manusia yang membingkai bahasa dengan budaya, maka Clifford Geertz menggunakan nalar interaksi estetik. 

Dalam melihat laku budaya (kebudayaan), Clifford Geertz tidak sekadar menjalin fenomena-fenomena  yang dijejerkan atau dirangkai sebagai suatu budaya atau tradisi dalam masyarakat tertentu yang hidup pada masa tertentu, tetapi juga mencari makna kehidupan. Misalnya, ketika dia membaca ulang karya-karya yang berkaitan dengan perjalanan atau ekspedisi di Barat. Menurutnya, kebenaran yang dijalin di dalam karya itu sebagaimana mitos, yang mengukuhnya (revisionisme) ekspansi Eropa (Barat). Peristiwa-peristiwa yang disulam dengan kecocokan seperti kain, bermotif tertentu, dan campur tangan abstraksi yang menjadi satu. Maka, sekali lagi cara pandang teks-mitos Levi-Strauss mengarah pada ketunggalan, sedangkan Clifford Greertz pada representasi-representasi yang jamak.

Pengarang sebagai pemegang otoritas yang berhak bicara, pembaca di sini akan dikorbankan. Maka, produk kultural bukan dijadikan objek, tapi sebagai subjek yang mengandung dunianya sendiri, dunia yang ada di dalam teks. Dengan demikian, pandangan ini menyarankan bahwa memang kehidupan benar-benar ada, tidak hanya di dalam konstruksi teks yang ada. Kebenaran dan kenyataan tidak tunggal sebagaimana mitos yang dibaca-baca melalui suatu teks, sebab sifat teks selalu tidak cukup dan tidak lengkap.

Dalam hal ini bukan maksud membandingkan kedua pemikiran dan pemikirnya, tetapi untuk mencari uraian-uraian yang merentang di antara perlintasan bahasa, budaya, dan sastra. Bahwa sastra jika dianggap sebagai wujud penggambaran suatu kehidupan, maka sastra sendiri pun tak lepas dari sengkarut pemaknaan yang disebut sebagai wacara representasi, sebagaimana yang digugat pula oleh Linda Hutcheon. Bahwa menurutnya, dunia dalam suatu teks sarat dengan representasi, ideologi, dan parodi, apalagi dalam kehidupan yang didominasi oleh suatu otoritas nilai.

Dalam karya sastra mengandung representasi, bahkan karya sendiri pun merupakan representasi yang lain, sebagai teks--sebagaimana yang dimaksud dalam diskursus. Jika di dalam suatu karya sastra menceritakan suatu gambaran kehidupan manusia, maka kehidupan itu adalah gambaran yang diandaikan seperti kehidupannya manusia, bukan kehidupan yang sebenarnya. Sebab kehidupan yang diandaikan adalah kehidupan yang telah ditafsirkan.

Jika di dalam karya sastra terdapat tuhan, maka itu merupakan suatu andaian tentang tuhan, suatu tafsir mengenai tuhan, jadi bukan tuhan yang sebenarnya. Jika di dalam karya sastra menggambarkan suatu kehidupan masyarakat tertentu, maka itu merupakan tafsir atas pengalaman seorang pengarang. Dengan demikian jika saya dihadapkan pada karya sastra (novel) yang mengisahkan kehidupan nelayan di Kampung Kalompang, maka akan muncul pertanyaan: seperti apa kehidupan nelayan itu di pesisir yang direpresentasikan, dan makna apa yang dilekatkan pada representasi itu?

Sebagaimana di atas disampaikan, novel ini mengisahkan kehidupan nelayan di Kampung Kalompang. Kampung itu berada di pesisir utara pulau Madura, tepatnya di Desa Ambunten, Sumenep. Hampir semua keluarga di Kalompang hidup mengandalkan laut. Profesi mereka rata-rata selain nelayan, kuli-kuli angkut ikan, dan penjual ikan.

Kehidupan warga Kalompang hidup rukun, saling berdampingan dengan tetangganya. Mereka demikian karena menganut tata-tata nilai agama dan adat-tradisi nenek moyang. Yakni, sebagai muslim mereka taat pemeluk ajaran-ajaran islam, baik sebagai individu maupun secara sosial. Ibadah sholat mereka tak pernah tinggalkan, bahkan ketika melaut sekalipun, jika tidak melaut mereka lakukan secara jamaah di masjid kampung. Apalagi ketika tiba hari raya Islam, masjid kampung tidak cukup menampung mereka semua.

Ajaran agama yang mereka anut tidak berbenturan dengan adat-tradisi. Ketika upacara Rokat Tase’ atau labuhan semacam petik laut,  peringatan ritual tahunan mereka, sebagai ungkapan rasa syukur mereka kepada Se Kobasa Tase (Sang Penguasa Laut), mereka gunakan doa-doa bernafas islam. Mereka juga rayakan syukur itu dengan musik dan tarian tradisi mereka. Musik khas tradisi Madura Saronen. Bahkan, mereka juga tidak mempermasalahkan ketika musik khas mereka itu diganti dengan musik dangdut, yang identik dengan musik nasional katanya. Gambaran ini menandakan mereka secara adat-tradisi, cara pandang masyarakat yang terbuka dengan sesuatu yang datang dari luar atau dari masyarakat lain.

Selain ritual tahunan, dalam kesehariannya pun mereka terbiasa menggabungkan ajaran Islam ini dengan adat-tradisi mereka. Misalnya, acara kelahiran, kematian, selamatan perahu baru, rumah baru atau pindah rumah, dan lainnya, digunakan ayat-ayat Qur'an dan membacakan hadiah fatihah kepada para leluhur mereka.

Dalam keseharian mereka pun terbiasa dengan tolong menolong tanpa pamrih. Dengan tetangga mereka terbiasa saling meminjam perlengkapan atau minta kue dan minuman ketika di rumah tidak tersedia, atau tidak ada istri yang membuatkan. Ketika menaikkan perahu mereka cukup minta tolong. Ketika ada seorang yang terdampar mereka terbiasa merawatnya, atau menyediakan rumah tempat mereka menginap. Bagi mereka, kebaikan sudah wajar dilakukan tanpa imbalan material.

Pandangan hidup mereka seperti itu searah dengan keyakinan mereka kepada tuhan, mereka taat pada ajaran agamanya.  Hampir tidak ada watak jahat atau sifat buruk dalam diri mereka. Sifat buruk hanya beberapa kali digambarkan dalam cerita. Seperti sifat buruk seorang Bajing Durahman dan anak buahnya, sifat beberapa warga ketika menyelamatkan nelayan yang karam dan mengambili barang-barang milik korban, atau watak polisi yang takut dan tidak berbuat apa-apa terhadap kesewenangan bajing yang berkuasa.

Namun, sikap dan pandangan hidup mereka tidak serta merta membuat mereka berani kepada penguasa Bajing, atau membenarkan sikap polisi, atau lawan kebijakan pemerintah yang tidak mereka setujui. Pembangunan tanggul mereka diamkan saja, bahkan diantara warga ada yang bersikap oportunis. Menghadapi Bajing yang keji mereka takut dan kompromis, bahkan ada yang melarikan diri dengan alasan merantau dan kerja ke luar negeri—sebagaimana kasus Adnan. Ironisnya, mereka akan menerima pasrah terhadap nasib mereka sendiri, sifat mereka tidak seperti ketika di laut, yang berani menghadapi segala marabahaya. Antara laut dan darat seperti dibedakan, seperti ada pembedaan yang jelas antara keduanya. Di laut mereka menghadapi kekuasaan tuhan, di darat mereka menghadapi kekuasaan manusia, sosialnya. Padahal ketidakpastian hidup dan di darat sama saja. 

Pada persoalan-persoalan yang ada di daratan, atau bersifat sosial, mereka cenderung pasrah dan tidak berdaya. Ketika menghadapi alam mereka tangguh, gagah berani, tetapi menghadapi sesama manusia mereka takut dan tidak bisa apa-apa. Sedangkan persoalan yang mereka hadapi di darat, dalam lingkup sosial, semakin mendesak dan berdampak kepada keberlangsungan sesama warga yang lain. Sedangkan, mempertimbangankan gagasan yang sampaikan dalam novel ini bukan ditujukan pada ranah sosial atau tradisi budaya yang kolektif sifatnya, tetapi lebih pada individu. Atau, hanya berlaku ketika di laut, tidak di darat. Dengan demikian, pandangan yang diusung Kalompang tidak berkaitan dengan ranah budaya. Budaya bersifat kolektif, bukan subjektif.

Maka, pertanyaan yang mengemuka adalah jangan-jangan persoalan tergerusnya pasir laut yang membuat rumah mereka menjadi sangat dekat jaraknya dengan laut bukan persoalan bersama? Apakah pembangunan tanggul di depan rumah mereka yang membuat rumah mereka membelakangi laut dan menjauhkan mereka dengan laut sebagai kehidupan mereka itu bukan persoalan sosial? Apakah kekuasaan Bajing yang sewenang-wenang, yang tidak tunduk kepada hukum, pada adat dan tradisi, atau tidak berdayanya polisi yang mestinya melindungi warga di depan Bajing, bukan masalah sosial? Apakah semua itu juga bukan persoalan budaya? Atau, jangan-jangan yang dianggap persoalan budaya itu hanya persoalan kenangan, soal masa lampau yang romantis, yang sifatnya nostalgi pribadi?

Dalam novel ini tidak memberikan gambaran contoh budaya-tradisi yang menyeluruh. Artinya, budaya yang dianut dan dilakukan oleh masyarakat tidak mampu menghadapi persoalan perubahan zaman: persoalan sosial, politik, budaya, dan nilai-nilai pandangan hidup yang berubah. Barangkali budaya laut yang dimaksud dalam novel ini mengacu pada pandangan hidupnya dan nilai-nilai tradisi yang bersumber dari laut, yang dianut oleh orang-orang dulu.

Perenungan tokoh-tokoh utama menunjukkan jelas bahwa idealitas masyarakat akan berhadapan dengan persoalan ekonomi. Kebutuhan ekonomi yang mendasar ini berseberangan kemampuan mereka. Misalnya, pada bagian-bagian akhir cerita, mereka rela terpaksa menjual rumah mereka kepada pebisnis dari Surabaya. Hasil penjualan rumah itu digunakan untuk melunasi hutang-hutang dan untuk membeli perahu yang sebelumnya hancur dihajar badai. 

Persoalan ekonomi inilah yang disebut di muka yang mendominasi , yang menjadi acuan nilai-nilai dalam kehidupan mereka. Jika demikian, maka persoalan sosial-budaya di dalam novel ini disuguhkan sepintas lalu, sebagai bahan-bahan pelengkap yang menjadi lintasan cerita. Persoalan-persoalan yang dihadapi oleh tokoh-tokoh di dalam cerita bisa jadi tidak hanya  terjadi di pesisir Kalompang, tapi juga terjadi di daerah-daerah pesisir lainnya. Budaya dan tradisi di dalam cerita memang mungkin khas dalam daerah yang bersangkutan, tetapi persoalan yang dimunculkan adalah perjuangan sepasang suami-istri yang tinggal di pesisir pantai, dengan mengandalkan penghidupannya dari hasil laut. Usaha-usaha mereka berdua  menghadapi bahtera kehidupan.

Jika menggunakan pandangan tokoh-tokoh di dalam cerita, maka akan muncul pemaknaan yang lain. Meski menggunakan narator pihak ketiga, tokoh utama yang dipilih pengarang  adalah suami-istri beranak satu. Mattali dan Rofiqah. Mattali seorang nelayan yang menjadi tumpuan keluarganya. Bersama istrinya, ia berbagi tugas. Mattali bekerja di laut, dan istrinya yang di darat mengurus penjualan ikan-ikan hasil tangkapan dan keuangan keluarga. Sedang anaknya, Marsud, masih kanak-kanak yang suka bermain layang-layang, nonton TV, atau bermain di sekitar pesisir.

Sejak lahir Mattali hidup di pesisir, kehidupan yang turun-temurun dari bapaknya, kakeknya, leluhur dan nenek moyangnya. Dunia idealnya adalah dunia masa lalu. Masa lalu ketika ia masih kecil. Kondisi pesisir yang teduh dengan pepohonan, pasir yang bersih, dan pasir yang luas seluas lapangan bola sehingga jarak air pasang dengan beranda rumah mereka cukup jauh. Luas pesisir itu dapat digunakan bermain, dan aktivitas lainnya. Luas pesisir itu masa kecil Mattali, ketika Mattali besar dan berkeluarga, pesisir semakin menyempit, rumahnya semakin dekat dengan laut. Ketika angin laut bertiup kencang rumah mereka tidak basah oleh air laut dan pasir-pasir basah.

Kampung tempat Mattali tinggal merupakan pesisir yang potensial, sebagai tempat pernjualan dan pengolahan hasil laut. Mattali dan warga yang tinggal di kampung berpenghasilan dari laut.  Seluruh aktivitas sosial dan budaya-tradisi Mattali pun bersumber dari laut.

Namun, ketika Mattali besar tradisi itu diceritakan menghadapi  arus perubahan. Dan, perubahan itu bukan berasal dari laut, tapi dari darat. Pandangan hidup di Kalompang dan segala kenangan Mattali mengenai masa kecilnya itu berubah. Rumah yang ditempatnya dijual karena untuk melunasi hutang-hutangnya dan untuk membeli perahu (tanpa perahu apalah artinya nelayan). Nelayan tidak murah membuat perahu sendiri, sebab pohon-pohon jati madura semakin sulit dicari. Segala kegelisahan pengarang ditunjukkan dalam kutipan berikut:

"Kampung ini seakan sudah jauh berlari, entah apa yang ditinggalkannya—mungkin kenangan dan nostalgia? Terkadang ia ingin kembali ke Kalompang yang ia kenali ketika masa kecilnya. Pohon-pohon kelapa, karang yang menjadi tempat persembunyian ikan-ikan kecil ketika air laut sedang surut,hamparan pasir pantai yang luas melebihi lebar pangan bola, dan ingatan-ingatan lain tentang masa kecilnya yang membuat harinya semakin miris milihat keadaan Kalompang sekarang."

 "Namun, ia juga tak bisa mengelak, bahwa perubahan memang hukum alam. Barangkali perubahan itu memang perlu. Hanya saja ia tak pernah mengira perubahan itu akan sejauh ini. Mungkin tak lama lagi, kampung ini akan berubah jadi pusat industri. Bermula dari tanggul, kemudian disusul pabrik-pabrik kecil, tumbuh jadi pabrik-pabrik yang semakin besar, lambat laun keramaian akan datang. Orang-orang asing akan memenuhi kampung ini" (hlm. 279-280).

Sedangkan rumah Mattali telah dijual, tanggul memang sudah dibangun, dan perubahan kampung akan datang. Mattali sudah melunasi hutang-hutangnya, dia tetap melaut dengan perahunya yang baru dibeli. Perahu yang dinamainya dengan "Olle Ollang". []


* Moh. Fathoni, mahasiswa Jurusan Ilmu Sastra, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Tulisan ini disampaikan dalam bedah novel Kalompang oleh Masyarakat Bawah Pohon Yogyakarta, 2014.