Badrul Munir Chair

Bulan purnama yang bercahaya terang (kira-kira itulah arti nama saya).

Munajat-munajat Sunyi

Dalam sunyi aku bermunajat kepadamu ya Allah, agar gunung-gunung segera kau terbangkan. biar berhamburan jutaan nafas yang tertawa menuju langit yang kau belah. biar pecah sunyi, rata dengan tanah. Amiiiiin.....

Sajak Hujan 06 Mei...

Hujan... bisakah kau diam sejenak, beri aku kesempatan tuk ucapkan salam setiaku pada malam, atas nama sunyi yang mendekap tubuh ini, melepas gigil yang menyayat bagai belati.

Ruang Bertemu

(Pengantar Kumpulan Cerpen bangkai dan Cerita-Cerita Kepulangan)

Oleh: Ahmad Kekal Hamdani


Menulis sastra adalah membangun ruang. Dari jagad kosmik yang menggelembung dalam diri menjadi sebuah ruang publik yang mau tidak mau akan membentuk keterpengaruhan ataupun keterlibatan. Manusia akan bertarung dengan gagasannya sendiri, berebut ruang gerak antara jagad gagasan dan bangunan-bangunan yang dibentuk oleh teks. Keduanya dapat berdiri secara mandiri, keduanya dapat berdampingan, dan keduanya dapat sama sekali lebur dan seakan tidak teridentifikasi (dalam hal ini manusia akan lebih arif menjadi penerima kebenaran pasif) dimana kemudian pembaca mendapatkan hak untuk membangun pengertiannya sendiri.

Dan sastra adalah jagad yang lain. Sebuah multidimensi dimana setiap pembaca dapat saja merangkai dan melahirkan simulasinya sendiri tentang teks. Di mana antara penulis dan pembaca teks bertemu justru di ruang yang sama sekali berbeda. Penulis membentuk dirinya sendiri dan orang lain dalam teksnya, begitu sebaliknya pembaca membangun sebuah simalakrum bagi dirinya sendiri dimana dengan bebas -secara intensional maupun non intensional- bertemu dengan orang lain dalam jagad gagasan yang ia bangun dalam pemaknaan sebuah teks, sebuah ruang!

Membaca kumpulan cerpen Bangkai dan Cerita-cerita Kepulangan adalah memasuki sebuah kosmos yang unik. Di mana setiap cerita disusun secara acak dan tidak memiliki kesatuan tema yang sistematis antara cerita, seakan setiap bagiannya memiliki tata suryanya masing-masing. Dalam Menggagas kepulangan misalnya, cerita Badrul Munir Chair ini membangun sebuah mitos yang sebenarnya tidak pernah ada. Akan tetapi atmosfer mitos itu sangat akrab sebab lahir dari dunia kita, setting alam yang lekat dengan keseharian manusia Indonesia. Pembaca akan terperangah dengan penyampaian lugas dan strategi kejut yang apik oleh Badrul Munir Chair dalam membangun ruang teksnya. Walau kejut itu tampil secara sederhana, tapi justru di sinilah pembangunan teks itu dipertaruhkan dan ditawarkan menjadi sebuah pertemuan gagasan.

Sebagaimana dalam keseharian yang saya kenal, Badrul Munir Chair (sahabat saya yang tampan ini) memang suka usil! itu juga saya temui dalam cerpen-cerpennya yang suka menjebak pembaca, ke-Aku-an cerita yang ditawarkannya adalah keakuan yang menyesatkan. Maka janganlah cepat-cepat berspekulasi dan menyimpulkan jalan cerita sebelum anda benar-benar menyelesaikan bagian akhir dari ceritanya, namun juga jangan membaca hanya akhirannya saja, anda tidak akan merasakan manis keusilannya.

Berbeda dengan Badrul Munir Chair, Y. Zavien Aundjand menempuh pembangunan cerita dengan diksi-diksi yang lebih rumit dan tema dengan gagasan yang cukup berat. Tampaknya ia memiliki kosmos yang membludak dan kebelet untuk di ejawantahkan menjadi sebuah teks. Meski terkadang di beberapa bagian struktur cerita nampak kacau, atau ia sedang menawarkan sebuah gagasan chaos, melampaui kestrukturan itu sendiri, coba misalnya ceritanya Wanita di Ujung Kelamin dan lima cerita lainnya, memiliki kerumitannya sendiri ala Zavin Aunjand. Zavin suka mempertentangkan gagasan agama dan realitas masyarakat, hal ini mungkin tidak lepas pada fokus kajiannya yang memang dekat dengan perbandingan agama. Kekritisannya mewakili ruang gagasan dalam ceritanya.

Begitulah sekelumit dari Bangkai dan Cerita-cerita Kepulangan, selebihnya pembaca memiliki ruang yang sangat luas untuk mengapresiasi dan saling bertemu dalam jagad gagasan yang ditawarkan oleh cerita-cerita dalam buku ini. Begitupun ragam warna, setiap entitas cerita, setiap individu atau manusia memiliki kebebasannya, kemerdekaannya membangun ruang. Dan akhirnya, selamat bertemu di ruang Bangkai dan Cerita-cerita kepulangan.

Yogyakarta, 2009


Ahmad Kekal Hamdani, penyair kelahiran Jember, karya-karyanya tersebar di berbagai media massa Indonesia. Sahabat, saudara satu akar Badrul Munir Chair di Masyarakat Bawah Pohon Yogyakarta.

Sajak-Sajak untuk WS Rendra

KOMPOSISI PAGI UNTUK WILLY

(1)
Wiily...
bulubulu merak yang menyampah di tanah ini, gugur dari sayapmu yang enggan terkubur bersama jasadmu yang sunyi.
lalu hendak kukemanakan, wiily? ah, biarlah kubuang saja bersama sajak ini.
(2)
bungabunga di halaman lelah sunyi, dan doadoa telah terhenti, apakah kau masih mati?
(3)
Lihatlah willy, mentari pagi bersiap cerahkan negeri ini, namun menjadi redup karena suarasuara lantangmu tak terdengar lagi.
(Yogyakarta, nopember 2009)



BUNGA TAK PERNAH GUGUR
-untuk willy-

Bunga tak pernah gugur walau jasadmu terkubur
walau gugur
walau terkubur
Ia tak pernah tertidur

bangunlah...
bunga tak pernah gugur
tak ingin terkubur

hiduplah...
(Yogyakarta, september 2009)

Sajak Possesif Laki-Laki Yang Bukan Penyair

MUNGKIN NANTI
-Sajak Possesif Laki-Laki Yang Bukan Penyair-

Mungkin nanti, jika kau menikah dengan lelaki yang bukan aku, lalu aku menghadiri resepsimu, aku akan menyaksikanmu duduk mesra bersama suamimu di pelaminan, sementara aku duduk gelisah diantara tamu-tamu undangan.

Di kursi itu, mungkin aku akan termenung menyesali kebodohanku yang terlambat meminangmu, lalu aku akan teringat dengan hari-hari indah kita, saat kita berjalan begitu mesra -seperti hari ini-.

Pada hari itu, sayangku...Mungkin aku akan membawa belati kecil yang kusimpan dalam saku, untuk kuhunuskan ke jantung suamimu -saat aku hendak memberi ucapan selamat atas pernikahan kalian-, biar dia mampus sekalian, karena aku tak tahan terbakar api cemburu.

Maka sayangku...
sebelum hari itu benar-benar nyata, bersumpahlah padaku bahwa kau tidak akan menikah dengan lelaki selain aku, atau kau terkutuk menjadi perawan tua hingga ajalmu.

(Yogyakarta, oktober 2009)

DI ATAS KAPAL INI

DI ATAS KAPAL INI

semburat awan tipis kita
meliuk mesra menyapa nahkoda
belantik menggoda memberi arah berbeda
tak jelas timur juga utara

ketika kita bergetar
mendengar alunan halus senar sitar
saat kedua tubuh kita melingkar
lalu mata kita bercakap nanar

hanya di atas kapal ini
cinta kita berpeluk mesra
karena sebentar lagi akan dermaga

(Kamal-Yogyakarta, Juni-Agustus2009)

BANGKAI

BANGKAI
-Cerpen Badrul Munir Chair -

“Apa lagi yang kau harapkan dari jasad kekasihmu yang telah mati?”

Galua selalu terngiang ucapan sahabatnya tempo hari “apa yang di harapkan dari jasad tanpa nyawa?”, Galua mulai ragu dengan apa yang dulu pernah di yakininya, bahwa rasa cinta akan mampu menghidupkan seeorang belahan jiwa yang telah tiada. Di tatapnya sosok jasad kekasihnya yang di simpannya sejak tujuh hari lalu. Galua mulai putus asa, keajaiban yang dinanti-nantikannya selama seminggu ini tampaknya adalah impian kosong, harapan yang mustahil di wujudkan.

“Apakah sebaiknya ku kuburkan saja?”, terbesit keraguan dalam hati Galua, di tatapnya jasad kekasihnya dari ujung kepala hingga kakinya.
Gapia, sahabat Galua sudah mengingatkan Galua untuk segera menguburkan jasad Pamia. Gapia lah satu-satunya sahabat kepercayaan yang mengetahiu perihal penyimpanan jasad Pamia, bahkan berita kematian Pamia belum tersebar kemana-mana, hanya mereka berdua yang mengetahui perihal dan sebab kematian Pamia.

Seminggu lalu, ketika mereka bertiga asyik bercengkrama di sekitar pohon mangga, Pamia bercerita tentang masa kecilnya, saat itu Pamia masih bisa tertawa bahagia, Gapia dan Galua ikut tertawa mendengarkan cerita kocak Pamia. Hingga tak terasa hari beranjak senja, kematian mengintai Pamia. Secara tiba-tiba, Pamia yang hendak berdiri untuk bergegas pulang jatuh dan pingsan seketika, Gapia dan galua panik menyaksikan Pamia yang sudah tak menghembuskan nafasnya. Begitulah kematian, secepat itu datang, tanpa di sangka-sangka dan tidak memberi kabar sebelumnya.
Galua tak Percaya bahwa Pamia kekasihnya telah tiada, dia meyakinkan diri bahwa Pamia hanya pingsan biasa dan besok akan kembali sadar seperti biasa. Namun disisi lain, hatinya putus asa karena dirasakannya denyut nadi Pamia telah terhenti. Gapia berusaha menguatkan hati sahabatnya. Akhirnya mereka sepakat untuk merahasiakan peristiwa itu dan menunggu tiga hari untuk memastikan bahwa Pamia benar-benar mati.

Tiga hari yang di nanti, kondisi Pamia tak jua menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Sejak itulah Gapia dan Galua berselisih. Gapia ingin supaya jasad Pamia segera di kuburkan, Galua merasa kasihan melihat kondisi tubuh Pamia yang mulai mengeluarkan bau tak sedap. Namun, Galua bersikeras untuk menyimpan jasad kekasihnya karena dia yakin akan adanya keajaiban.

“Apa yang kau harapkan dari jasad kekasihmu yang telah mati?” Gapia membentak Galua, namun Galua hanya menangis dan memohon kepada Gapia untuk mengijinkannya mengawetkan jasad Pamia dan meminta terus merahasiakan kematian Pamia. Akhirnya Gapia mengalah, dengan berat hati mengijinkan Galua mengawetkan jasad Pamia.

Hari ketujuh kematian Pamia…

Gapia mendatangi rumah Galua, saat sisa-sisa embun masih menempel di dedaunan, saat ayam-ayam berkokok bersahutan. Kali ini Gapia ingin memaksa Galua untuk menguburkan jasad Pamia hari ini juga, dia khawatir jika semakin lama Galua menyimpan jasad Pamia maka penduduk desa akan mengetahui rahasia mereka. Namun, tidak di dapatinya Galua di dalam rumahnya, Gapia yakin bahwa Galua sedang berada di gudang tempat penyimpanan jasad Pamia.



Dibukanya pintu gudang perlahan, samar-samar dilihatnya Galua yang sedang tertidur, duduk dikursi samping tempat tidur dimana jenazah Pamia di semayamkan, didekatinya tubuh sahabatnya itu, namun Gapia sangat terkejut ketika melihat tangan kanan Galua yang berada di atas liang kewanitaan Pamia, ya, dia dengan jelas melihat Galua sedang mengelus kemaluan Pamia. Gapia serasa tak percaya, dikucek-kuceknya matanya untuk meyakinkan bahwa dirinya benar-benar sadar, dan yang dilihatnya saat ini adalah nyata.

Ditariknya kerah baju Galua yang sedang tidur, dihantamnya wajah Galua tanpa ampun, dipukulnya berkali-kali, Galua yang masih belum sepenuhnya sadar menjadi sasaran empuknya. Sementara, Galua kebingungan, ada apa gerangan dengan sahabatnya ini, Galua mulai berusaha melawan, namun tenaganya tak terlalu maksimal karena dia baru bangun tidur. Dirasakannya hantaman Gapia semakin menjadi-jadi. “Jadi ini yang membuatmu ingin mengawetkan jenazah Pamia, hah?, kau hanya membutuhkan kemaluannya untuk kepuasan nafsu bejatmu itu?”. Gapia membanting tubuh Galua, ditinggalkannya tubuh Galua yang sudah tak berdaya karena beberapa kali pukulannya, Gapia meninggalkan rumah itu dengan sejuta serapah yang keluar dari mulutnya.

Gapia merenung di teras rumahnya, diingatnya saat-saat indah dahulu bersama Pamia, saat mereka masih mesra berjalan bergandengan hanya berdua, saat Galua masih tinggal di kota sebelum akhirnya pindah ke kampung mereka, saat itu Pamia sering berkata manja padanya, dan sebaliknya Gapia sering mengucapkan kata-kata mesra. Mereka sering berjalan berdua menikmati senja, duduk di pohon mangga, melewati perkampungan dibumbui siulan nakal tetangga. Namun, Gapia tidak pernah bisa mengungkapkan rasa cintanya secara langsung pada Pamia. Hingga akhirnya Galua yang baru datang dari kota berkenalan dengan mereka dan mulai mengusik kebersamaan mereka, mulai sering berjalan bertiga menikmati senja bersama, merekapun bersahabat. Gapia tak pernah tahu jika Galua menyimpan rasa pada Pamia. Akhirnya, Galualah yang menyatakan cintanya terlebih dahulu, dan Pamia yang sudah lelah menunggu menerima kehadiran cinta Galua dalam hatinya, dan dirinya harus mengelah, merelakan Pamia jatuh kepelukan Galua. “Ah, mungkin salahku yang tak segera mengungkapkan cintaku, hingga Pamia lelah menunggu”.

Gapia terus merenung ketika sengatan matahari semakin menggila, dia tak habis pikir dengan jalan pikiran Galua, “apakah Galua menyimpan jenazah Pamia hanya untuk menikmati tubuh tak berdaya Pamia?”, itulah pikiran yang kini menyelimuti hatinya, “ah tampaknya tidak mungkin, tadi Galua sedang tidur, mungkin saja dia secara tidak sadar mengelus kemaluan Pamia”. Gapia mulai menyesali perbuatannya, karena dengan gegabah telah memukul sahabatnya, “ah, aku terlalu cepat mengambil keputusan, ini hanya salah paham”. Gumpalan rasa sesal berkecamuk dalam hatinya, dia mulai berpikir untuk kembali mendatangi rumah Galua dan meminta maaf padanya, “aku harus segera meminta maaf kepada Galua, sebelum semuanya terlambat” batinnya.

Sementara di dalam gudang rumahnya, Galua yang babak belur karena pukulan Gapia menjadi bingung dengan perbuatan sahabatnya yang menyerangnya tiba-tiba, dia tak mengerti apa alasan sahabatnya, “mungkinkah Gapia marah karena aku tak segera menguburkan jasad Pamia?”, diingatnya kembali peristiwa penyerangan Gapia terhadap dirinya tadi pagi, diingatnya lagi kata-kata Gapia, akhirnya dia ingat bahwa Gapia menuduhnya bahwa dia menyimpan jasad Pamia hanya ingin menikmati kemaluannya, “ah, ini pasti salah paham, mungkin waktu tidur tadi aku tak sengaja memegang kemaluan Pamia”.

Galua mengamati sosok jasad kekasihnya yang kaku dan mulai membiru, terkadang rasa kasihan timbul di hatinya, Galua mulai berpikir untuk segera menguburkan jasad Pamia dengan meminta bantuan Gapia dan meminta maaf padanya. Namun, niat sucinya urung di lakukan ketika Galua melihat gundukan daging kemaluan Pamia, dia mulai nafsu dan ingin mencoba kemaluan kekasihnya yang tak pernah dinikmatinya ketika masih hidup, “ada baiknya jika sebelum ku kuburkan, kunikmati dulu kemaluannya, aku sangat ingin tahu bagaimana rasanya?”. Otaknya berpikir semakin kotor, Galua mulai membuka celana dalamnya, di elusnya kemaluan Pamia yang tek berdaya beberapa kali, lalu Galua mulai mengarahkan kemaluannya yang sudah menegang ke arah kemaluan Pamia.

Brakkk!!!

Gapia menerjang pintu gudang yang dari tadi telah di awasinya, tadinya Gapia memang ingin meminta maaf pada Galua, namun Gapia harus mengintip gudang terlebih dahulu untuk memastikan bahwa Galua ada didalamnya dan tidak merencanakan balas dendam padanya. Namun Gapia merasa heran ketika dia menyaksikan Galua yang sedang membuka celana dan mengarahkan kemaluannya pada kemaluan Pamia, Gapiapun mendobrak pintu gudang.

“Bangsat!!!, sudah seberapa kotor otakmu hingga kau menyetubuhi jasad kekasihmu yang sudah mati, apa kau sudah gila, hah?” Gapia berkata dengan geramnya

“kau salah paham Gapia, aku hanya…aku hanya…” kata-kata Galua terhenti di tenggorokannya

Tanpa pikir panjang, Gapia menghantam tubuh Galua yang sudah babak belur karena hantamannya tadi pagi. Dhebb, dengan garang dipukulnya tubuh Galua membabi buta, namun kini Galua tak hanya diam saja. Jblakkk, dibalasnya pukulan Gapia dengan terjangan-terjangan kakinya, Galua tak kalah membabi buta. Mereka terus bergelut terbawa emosi, saling pukul, saling terjang, pukulan-pukulan telak saling berbalas di seluruh anggota tubuh mereka. Duel diantara mereka berlangsung sangat lama, tak ada tanda-tanda salah satu pihak ingin segera mengahirinya, hingga akhirnya mereka sama-sama tak berdaya, mereka berdua menghembuskan nafas terakhirnya hamper bersamaan.

Sore hari, segerombolan bocah kecil bermain bola di tanah lapang dekat pekarangan sebuah rumah yang sudah lama ditinggal penghuninya, mereka saling berkejaran penuh kegembiraan. Namun, tendangan seorang yang paling jangkung diantara mereka menyangkutkan bola di pohon mangga depan rumah yang telah lama ditinggal penghuninya itu, seorang bocah kecil berambut klimis mengajukan diri untuk memanjat pohon mangga itu, mengambil bola mereka, bocah kecil itu mulai naik dan bolanya tinggal beberapa ranting saja dari tangannya, namun ia tergoda ketika melihat sarang burung di atas bola yang nyangkut itu. Diambilnya sarang yang nampak berat, dilihatnya isinya, tiba-tiba bocah kecil itu berteriak karena dilihatnya tiga bangkai burung dalam sarang itu, dua burung yang darahnya masih terlihat baru dan satu burung lagi yang sudah busuk dan tubuhnya membiru.

(Yogyakarta, 2009)